NU Kultur dan Struktur

Dua hal menjadi pertempuran di benak saya, hierarki mengikat keduanya, dan menganggap kekuatan kultur begitu kuat mengikat sebuah struktur. 

Peradaban, kebudayaan dari sejarah terbentuknya organisasi NU. Peran sentralnya menjadi pilar bangsa, kekhusyukan untuk umat secara kultur, menandai perkembangannya. 

‎Apakah hanya menghafal Aswaja,  tanpa membaca sejarah NU? Atau hanya  identitas struktur semata tujuan.  Saya masih menganggap kultur itu jauh lebih menguatkan arah sejarah terutama bangsa di Nusantara ini. 

‎Benarkah NU kultural dan struktural sampai sekarang belum selesai?  Seolah-olah keduanya berjalan sendiri-sendiri atau bahkan saling berhadapan dan tidak bisa membangun sinergi.

‎Bagaimanakah sebenarnya relasi antara keduanya dan apa yang harus dilakukan untuk membangun jembatan diantara keduanya? Saya dengan khidmat kembali sebuah sumber. Akhirnya menemukan sebuah  wawancara dengan ketua PBNU Masdar F. Mas’udi di  NU Online beberapa waktu lalu seusai rapat pengurus harian.

‎Masdar melanjutkan, NU berawal dari sebuah komunitas kultural yang kemudian membentuk organisasi, Bagaimana proses ini berjalan? NU yang didirikan oleh Mbah Hasyim itu NU organisasi, kalau kultural sudah ada beberapa ratus tahun sebelumnya.

‎Ini berkat kerja kekiaian para ulama kita. Jadi NU organisasi yang dibawa oleh Mbah Hasyim untuk melengkapi NU kultural yang sudah berjalan dan akan terus berjalan. Tegasnya. 

‎Bagaimana meng-NU-kan secara organisatoris NU kultural, yang sudah ada ratusan tahun yang lalu?  Kalau organisasi NU mulai dari daunnya atau pusatnya yang terlihat dimana-mana sampai dengan akarnya, tetapi  bukan saja akar tunjang, yang dapat dikatakan sebagai MWC atau rantingnya, tetapi akar serabutnya yang dapat disepadankan.

‎Pada suasana jiwa, kebatinan sebagai kader,  saya menguatkan kembali, sebagaimana sering dibincangkan tentang keresahan yang sering hanya menjadi keluhan, tanpa bisa menguatkan untuk menjadi bagian dari struktur atau kultur itu sendiri.  Atau mengaplikasikan tuntunan bukan sekadar tontonan dan keluhan.

‎Kembali ke kultur, dimana dialah  yang paling menghujam ke bumi. Inilah yang paling menyerap nutrisi, agar lebih menguatkan lagi akar.  Akarnya merasuk dalam bumi, cabangnya menjulang tinggi ke langit dan terus menerus memberikan buah,  menyerap nutrisi dari umat sebagaimana Kultur mengawali kebesaran NU itu. Saya sepakat dengan uraian Masdar ini.  Lalu kusimak dan menyaksikan hari ini, sebagian merasa di struktur memajang diri, tanpa merasakan bagaimana samudera  mengarungi sebagai kultur.  Sementara penganut struktur sering abai bagaimana menjalankan fungsi dan bejana diri  diantara lingkungan masyarakat. 

‎Kebanyakan hanya berlomba mencari posisi pada struktur, sekadar  menguatkan identitas, sementara lupa bagaimana sesungguhnya  kultur megatur peredaran peradaban sebagai tonggak kekuatan, sedangkan dengan struktur,  mengatur posisi dan berlindung di baliknya, sebagai pelengkap curikulim vitae saja. 

‎Anggapan itu menjalar, seketika mulai terbawa suasana kepentingan (politik), NU menjadi sasaran empuk menjadi penguatan simbol sesaat, menjadi alat pendulang bagi konstentan, hingga digilir setiap pesta demokrasi di negeri ini.  

‎Ini hanya ilustrasi pada kegelisahan  kita bersama yang di reduksi dan menjadi reaksi untuk menempati posisi.  Kita hanya mengeluh, mencacah satu dengan lainnya, pertanda  kehilangan akar, sebagaimana kultur jadi alat pesona lima tahunan itu hadir, bagai embusan angin segar dapat jatah, di tengah prahara dramtikal romantika politik, yang masih suka tergelitik, barulah mengingat  kebesaran struktur untuk  mendulang dan menjadi tameng mencari suaka serta pusaka suara.

‎Saya kira begitulah adanya, saat akar tumbuh, menerapkan pokok, dengan mengamanahkan pada tumbuhnya harapan sepucuk menjadi ranting, lalu menghasilkan daun dan buah. Kepada pokok, raanting sampai buah yang dinikmati kelezatan, manis serta kenikmatannya. 

‎Kita kadang lupa pada titik awal tanam menumbuhkan akar, lupa pada tanah dia tumbuh. Kepada azas saling melengkapi, menopang. Bukanlah  struktur kebesaran itu,  tetapi secara kultur sebuah peradaban dibangun penuh khidmat, bukan hadir sebagai jimat struktur pelengkap identitas, dan pada akhirnya ngelantur,  susah untuk diatur.

‎Ada merasa terpental jauh dilupakan sejarah itu sendiri, juga pula merasa punya jasa, semua mengutip dengan lantip, semua punya niat membesarkan, tetapi berbeda orientasi dan reaksi.  Ada yang instan, ada jua paling beriman pada NU, bahkan seperti menjadi agamanya adalah NU.

‎Pergolakan pemikiran dan dinamika itu mengubah hingga pada catatan sejarah mulai saling merasa. Hanya pembacaan periodik. Kesejarahan itu nafikan. Lupa ke titik dasar. 

‎Saya kembali terjebak, betapa  sejarahnya sebagai organisasi Nahdliyyah terbesar di nusantara bahkan di dunia. Menjadi pembeda diantara organisasi lainnya, menjalankan nilai-nilai kebangsaan, salah satu pencetus bernama pancasila, walau orang-orang lupa dan tidak terdeteksi pada pembacaan. Pilar dan penjaga negara kesatuan bernama republik Indonesia.

‎Islah Bahrawi (Cak Islah), terdapat ketegangan yang cukup tajam antara struktur (PBNU) dan kultur (akar rumput/warga Nahdliyin) NU, terutama terkait dengan isu politik dan materi. Berikut adalah poin-poin pokok pemikirannya tentang konflik di Struktur PBNU dan Kepentingan Pribadi:

‎Islah Bahrawi menyoroti bahwa sebagian oknum di tingkat struktur (PBNU) bertindak seperti memaanfaatkan moment secara personal serta transaksional yang mencari keuntungan pribadi, tidak memikirkan sejarah dan cita-cita para pendiri NU. Ia menegaskan bahwa konflik di internal PBNU dipastikan terjadi karena persoalan konsesi tambang, di mana NU dijadikan alat untuk keuntungan materi elitnya.

‎Perpecahan di Akar Rumput (Kultur): Konflik di tingkat elit (struktur) ini sangat rentan merembet ke akar rumput (kultur/kiai NU di kampung), yang dapat memicu perpecahan mendalam di tubuh NU.

‎Betapa bencana, seketika pokok mulai rapuh, ranting, dedaunan akan gugur tak lagi terjaga, begitu pula ketika akar (kultur) telah tercabik, tersebut karena di tengah badai yang mengguncang dan hendak merontokkan pokok.

‎Ini cara cerdas para pembenci NU dan agenda lain untuk merongrong ideologi, di mana jika NU masih solid, maka mengubah Pancasila, dengan beberapa tujuan mulai dari pengaruh barat, sampai pada kelompok radikalisme yang ingin menjadi negara Nusadantara ini dalam bentuk khilafah. Cak Islah tegas dengan penuh rasa berkhidmat kepada NKRI wabil khusus pada NU itu sendiri.

‎Saya hanya terdiam, mengingat dan merunut, sejauh mana peran saya di tengah kecamuk badai peradaban, sejarah, serta keummatan sebagai cita luhur para pendiri NU secara penuh jiwa, pengorbanan untuk tujuan yang besar di negeri Nusantara yang kini bernama Indonesia, saling menjaga satu sama lain, tentang nilai keadaban, sosial, persatuan. itu dipertaruhkan dengan pengorbanan jiwa dan darah? Sementara diiantara struktur dan kultur masih asyik adu taktik.

‎Sepertinya ada kesenjangan. Kedangkalan dan pemahaman sejarah diantara kita masih butuh healing kiranya. Atau beruslah sebagai pengingat dan penguat bukan sebatas pengakuan sebagai kader, tapi tidak mengembangkan cara pandang, nalar, bukan seolah pakar, untuk lebih mengakar baik secara kultur dan struktur. Tanpa harus merasa paling berjasa dan paling NU.

‎Situasi mengubah bagaimana Independensi NU: Saya sepakat dengan Cak Islah menegaskan bahwa NU seharusnya independen dan tidak boleh dikendalikan oleh kepentingan politik maupun materi pribadi.

‎Kultur NU sebagai Pilar, penjaga NKRI, Meski kadang masih ada bersumbu pendek di kalangan Nahdliyyin, ketika menjaga gereja misalnya, toleransi sebagai bentuk keberagaman dan kehangatan suatu bangsa, menempatkan NU menggandeng Muhammadiyah yang menjadi pilar utama keberagaman dan toleransi Indonesia.

‎Kultur asli NU adalah menjaga tradisi, melindungi umat, dan merawat NKRI, bukan terjebak dalam perebutan kekuasaan. Harus menerima auto kritik terhadap Politisasi Agama: Dan masih beradab mengkritik keras politisi yang membajak agama untuk kekuasaan dan memperingatkan dampak negatifnya bagi keutuhan NU. Islah menggugat itu, sama dengan saya, hanya saja masih terbata-bata dan mereka cenderung belum percaya, karena pengaruh dan suasana kebatinan, jiwa cara pandang sepertinya cukup jauh dalam kesenjangan.

‎Reaksi kadang berbeda dalam diskusi terkait NU. Ada hal yang masih terjaga, walau kadang masih sedikit mangkir, dan telat mikir ke haluan lebih maju. Tidak stagnan bertengkar sekadar “menghafal tipikal”.

‎Akhirnya secara keseluruhan, saya sepakat dan merasakan bagaimana getirnya seorang Islah Bahrawi berupaya membela kultur dan jati diri asli N, yang secara kultural dari kerusakan yang ditimbulkan oleh kepentingan politik-ekonomi, materialis di tingkat struktural (PBNU).


Comments

2 responses to “NU Kultur dan Struktur”

  1. Saya yang Muhammadiyah pun merasa bahwa Nu Kultur itu adalah wajah kita semua, tak hanya perlu dilekatkan pada mereka yang hafal aswaja.

  2. Dion Syaif Avatar
    Dion Syaif

    Sejarah memang dikaburkan, banyak dipreteli dan menjadi santapan menarik bagi mereka yang berkedok agama, mashab serta panitia surga dan neraka. Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *