Category: Esai

  • Tepuk Tangan

    Tepuk Tangan

    Tepuk-tepuk tangan, suka-suka // tangan di kepala, tangan di pinggang // loncat yang tinggi satu dua tiga // mari meniru burung terbang di udara. Bagaimana meniru burung, sementara kepak sayapku terdogma oleh nomenkelatur, penuh struktur dan ambigutas tak mampu meretas sebuah harapan di masa kanak-kanakku dulu.  Dan  meniru burung terbang ke udara, hanya karena tepuk-tepuk…

  • Pesona Alam Pikiran

    Pesona Alam Pikiran

    “Berpikir itu sulit, itulah mengapa kebanyakan orang lebih suka menilai.” (Carl Gustav Jung) Sepintas, berpikir dianggap aktivitas biasa-biasa saja, sama halnya aktivitas bernapas. Saking biasanya, aktivitas keduanya dianggap rutinitas biasa, padahal, berpikir adalah tanda eksistensi manusia yang amat nyata, sebagaimana ungkapan filsuf Prancis, Rene Descartes, “Aku berpikir maka aku ada.”   Dari sekian banyak karunia…

  • Tim Sukses dan Dinamikanya

    Tim Sukses dan Dinamikanya

    “Tidak ada orang yang bisa sukses sendiri.” Kalimat ini adalah kalimat yang berlaku untuk siapa saja yang ingin meraih kesuksesan di bidang apa pun. Coba dicek, adakah orang yang bisa meraih kesuksesan tanpa melibatkan pihak lain? Tidak usah terlalu jauh, jangankan untuk sukses, untuk hidup saja butuh pihak lain. Makan minum yang kita konsumsi setiap…

  • Jalan Integritas

    Jalan Integritas

    Manusia adalah makhluk yang istimewa. Ia mampu bertahan dengan memegang prinsip, meski diterpa berbagai masalah dalam hidup. Ia mampu bertahan walau terus dalam tegangan. Ia menaruh harapan walau terus dilanda krisis. Bahkan, ada yang rela mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawa, demi cinta dan keyakinan mereka. Mengapa manusia begitu istimewa? Karena manusia memiliki integritas. Sebuah integritas seringkali…

  • Danu dan Petong: Sebuah Percakapan

    Danu dan Petong: Sebuah Percakapan

    Butuh pemantik. Dalam pusaran sisi lain untuk lebih cerdik. Bukan sekadar spontan atau bersemat dirinya sebagai pemain sulap misalnya. Dan kedok budaya kemanusiaan hanya menghasilkan  lendir-lendir nan pandir. Masih tanggapkah kita menjalani hidup dengan bongkahan pikiran yang dianggap janggal?  ada rinai air mata jatuh di keranda. Sebuah isyarat,  matinya persona dan sejuta pesona. Terkubur bersama…

  • Monolog

    Monolog

    Adegan demi adegan.  Danu memainkan satu tabiat tidak secara kasat, bahkan dengan mata nanar, berbinar-binar sekalian. Wajah manis dan menawan. Sesaat kemudian, kita terlena saat mengurai kata menaruh harapan, bukan menghamparkan semata slogan. Di sudut kerling dan pasang mata menanti kejutan. Tetiba menjadi bualan. Orang–orang main  ketapel dan seribu “stempel”.  Emm! Punya jurus dan rumus…

  • Sampah di Pesta itu Berserakan

    Sampah di Pesta itu Berserakan

    Setiap hajatan resepsi pernikahan, khitanan, ulang tahun, dan hajatan-hajatan lainya yang beraroma pesta, selalu saja menghadirkan sampah. Baik saat pesta itu sedang berlangsung, maupun setelah pesta itu usai. Yah, di mana ada pesta, di situ ada sampah. Bagaimana jika pesta itu dinamakan dengan pesta demokrasi? Akankah kehadiran sampah juga mewarnainya? Ya, ada dan hampir pasti…

  • Percikan Api Radikalisme Lokal dan Mabuk Sore yang Berusia Empat Hari

    Percikan Api Radikalisme Lokal dan Mabuk Sore yang Berusia Empat Hari

    Sementara warga Bantaeng asik bermain gawai, berlari, duduk di atas motor menikmati sore di Seruni, saya secara pribadi mendapat cara menikmati Pantai Seruni. Saya dan kawan-kawan menggelar “Mabuk Sore”, Membaca Buku Sore. Pada Mabuk Sore tadi, sudah digelar sebanyak empat hari berturut-turut. Sejak hari Senin dari pukul 16.00 WITA hingga cahaya mentari lamat-lamat berganti gelap.…

  • Abu-Abu Dua Mata Pisau

    Abu-Abu Dua Mata Pisau

    Mereka belum rabun, tetapi mengapa  masih gagap mengenali warna.  Karena berburu lencana menaiki kencana, sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Namun, lamat-lamat melumat secara muslihat. Itu juga bagian keranjingan yang perlu di-“eksplore“. Lupa kemarin senja tertuduh bermesraan dengan  laut biru, menyedapkan rasa, jiwa. Senja tertuduh! Terbungkam hitam pekat (pertanda malam). Saya menemui seorang Dudung malam itu. Di celah…

  • Medsos dan Penampakan Kampanyenya

    Medsos dan Penampakan Kampanyenya

    Kamera handphone telah dinyalakan. Menu video telah di-set up. Bersiap untuk menyorot kandidat ketika datang. Tujuannya, untuk publikasi kunjungan kandidat dalam rangka kampanye. Kandidat telah datang. Disambut meriah oleh para pendukung. Semua kamera pun tertuju kepadanya. Musik ceria mengirinya. Dentuman pengeras suara menggema. Diselingi sorotan lampu yang meriah. Seluruh penghadir bernyanyi bersama. Jingkrak-jingkrak. Beberapa gambar…