“Berpikir itu sulit, itulah mengapa kebanyakan orang lebih suka menilai.” (Carl Gustav Jung)
Sepintas, berpikir dianggap aktivitas biasa-biasa saja, sama halnya aktivitas bernapas. Saking biasanya, aktivitas keduanya dianggap rutinitas biasa, padahal, berpikir adalah tanda eksistensi manusia yang amat nyata, sebagaimana ungkapan filsuf Prancis, Rene Descartes, “Aku berpikir maka aku ada.”
Dari sekian banyak karunia Tuhan, akal adalah salah satunya, sebagai medium pikir yang paling elementer. Akal pula yang mencirikan manusia berbeda dengan makhluknya lainnya, meskipun secara filosofis, akal diketegorikan bertingkat-tingkat, hingga pada tahap akal sempurna.
Memaksimalkan kerja akal melalui berpikir waras, memberi dampak peningkatan kualitas diri dan kepercayaan diri, sebab kualitas sebuah penilaian, terlihat sejauhmana seseorang menggunakan daya pikirnya, sebelum melakukan hal, atau serupa tindakan. Kata Ibnu Sina, “Aku paling takut pada sapi, sebab ia punya tanduk, namun tak punya akal.”
Memberlakukan akal selaku guidance, juga merupakan tanda perkembangan kualitas manusia makin berkembang. Kemudian, buah dari perkembangan itu, melahirkan peradaban manusia berciri modernistik, saintifik, matafistik, dst.
Dalam buku, Cinta yang Jatuh dalam Nei, Muhammad Nur Jabir, menukas kata-kata Rumi, “Saudaraku, engkau adalah pikiranku. Selebihnya hanya tulang dan daging.” Menurut ustaz Nur, begitu orang memanggilnya, Rumi ingin menjelaskan bahwa kepribadian manusia termanisfestasi dalam pemikirannya. Jika seseorang memiliki pemikiran yang tinggi dan agung, maka dia juga harus memiliki kepribadian yang agung. Pendeknya, pemikiran yang dimaksud Rumi, yakni pemikiran malakah atau menjadi bagian dalam diri.
Proses memperoleh ilmu dalam sejarah perkembangan manusia tidak luput dari pergolakan. Terlepas dari itu, secara alamiah, perkembangan ilmu terus berkembang tak bertepi. Definitnya, ilmu yang tak diamalkan tidak akan termanisfestasi dalam diri manusia.
Mungkin, sering kita saksikan pada kehidupan sosial, terjadi semacam kontra produktif, apabila dikatakan seorang cendekia menguasai ilmu secara teori, namun sayangnya ilmunya tidak mencerminkan amaliahnya.
Kekuatan pikiran akan menentukan nasib seseorang. Apa yang kita pikirkan, menentukan apa yang akan terjadi pada kita. Wayne Dyer, seorang penulis asal Paman Sam, menabalkan, “Jadi jika kita ingin mengubah hidup, kita perlu sedikit mengubah pikiran kita.” Begitu vitalnya pikiran, segala tindakan maupun ucapan mesti berasas pikiran.
Membiasakan pikiran menjadi alas bertindak dan berpikir akan menyelamatkan nasib seseorang. Di banyak fakta, bisa jadi seseorang terbelenggu secara fisikal, namun tidak dengan pikirannya. Upaya aktualisasi pikiran mesti dilakukan setiap orang sebagai makhluk berpikir, jika tidak dilakukan, sama saja menyalahi potensi kemanusiaannya. Mendahulukan akal adalah ciri manusia berpikir, sebaliknya, ciri manusia nirnalar, hanya diberi sekadar hidup, tidak lebih dari makan dan minum.
Kehidupan tanpa pikir, layaknya hewan melata. Sebab nilai seseorang akan diukur dengan seluas apa pikirannya menjangkau objek di dalam dan di luar dirinya. Walaupun begitu, sebebas-bebasnnya manusia mengeksplor pikirannya, pada akhirnya, pikiran manusia pun terbatas, tak dapat menjangkau objek transenden. Jangkaun pikiran yang terbatas itu, bukan berarti tak bernilai, sebab, melalui algoritma pikiran akan menjadi pintu masuk ke dalam objek transenden.
Dialektika pikiran akan mengalami perkembangan seiring perkembang masa. Di zaman moderen ini, manusia mengembangkan pikiran dengan pencapaian teknologi mutakhir. Hampir seluruh dimensi kehidupan manusia bersentuhan dengan teknologi, bahkan pencapaiannya sampai pada tinggat merekayasa teknologi. Terlepas dari pro dan kontra pencapaian rekayasa teknologi, pada kenyataan, kemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan kebanyakan manusia saat ini.
Pesatnya pemikiran di era moderen ini, dengan kemajuan teknologi yang makin hebat, tentu selaras dengan kemajuan manusia pada aspek budaya, etika, dsb. Segala hal yang muncul dari pergumulam pikiran, realitasnya melahirkan sebuah peradaban baru. Keniscayaan kemajuan pikiran yang terus melaju dari masa ke masa, akan diikuti pula dengan peradaban-peradaban baru.
Kiwari, manusia zaman now tidak saja mampu rekayasa teknologi, bahkan dalam ilmu medis, para ilmuwan telah menciptakan hasil rekayasa genetika, yakni mengahsilkan insulin manusia dari susu sapi. Penemuan baru ini akan mengurangi ketergantungan penderita diabetes terhadap insulin disintesis dalam lingkungan loboratorium yang kompleks.
Metode rekayasa genetika ini memanfaatkan kemampuan produksi susu alami sapi, sebagai pabrik biologis untuk proinsulin manusia. Pada praktiknya, para peneliti memasukan segmen DNA manusia untuk produksi proinsulin ke dalam embrio sapi. Anak sapi transgenetik yang dihasilkan menunjukan kemampuan untuk mengeluarkan proinsulin manusia dan insulin dalam susunya.
Manfaat satu liter susu mengandung cukup insulin yang dapat memenuhi kebutuhan pasien diabetes selama beberapa tahun. Melaui rekayasa genetika, para peniliti membayangkan, kawanan sapi khusus ini dapat secara drastis menurunkan biaya produksi insulin kimiawi dan berpontensi memenuhi permintaan global. Penemuan ini menandai era baru di dunia medis, utamanya memenuhi permintaan insulin bagi penderita diabetas, sehingga bisa menyelamat nyawa banyak orang.
Selain kemajuan di dunia medis, tak pelak, kemajuan pikiran pun merambah ke dalam dunia sufistik. Kecenderungan manusia di era moderen, lebih pada pikiran positivistik, individualistik, apatistik, dll menjadikan manusia jatuh pada kondisi keterasingan. Sehingga, manusia modern melihat, dunia sufistik merupakan jalan meraih kebahagiaan.
Dunia sufistik dalam pandangan Ibnu Arabi, menyebut manusia sebagai makro kosmos, sedangkan, sesuatu di luar diri manusia disebut mikro kosmos. Dalam diri makro kosmos manusia terhubung dengan Tuhan yang tak bertepi. Pada kondisi itu, manusia mengalami akan kenikmatan batin. Manusia tidak lagi terwanan oleh nikmat di luar dirinya. Bahkan, disebutkan dalam hadis, manusia diberikan peniupan ruh sebanyak dua kali. Pertama, Wa nafakthu fiihi miir ruhii, ketika manusia masih berada di alam rahim. Kedua, manakala manusia sedang memasuki alam batin. Di alam batin manusia akan berjalan menuju Tuhan sesuai dengan keluasan atau kapasitas dirinya.
Para sufi menggambarkan, rahmat Tuhan senantiasa hadir hal di dalam, maupun di luar diri manusia. Setiap saat Tuhan menurunkan rahmat-Nya, bak air hujan turun ke bumi. Manusia akan menampung Rahmat Tuhan sesuai dengan wadahnya. Sayangnya, sebagian manusia tertawan oleh objeknya. Padahal, rahmat Tuhan itu, pemberian tanpa penghalang apa pun.
Betapa banyak alam tersembunyi di balik akal manusia. Betapa luas lautan akal manusia. Kata Rumi, cahayanya cahaya hati dari cahaya Ilahi. Cahaya itu terpisah dari cahaya akal dan indrawi dan melampauinya.
Kredit gambar: Pixabay

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply