Abu-Abu Dua Mata Pisau

Mereka belum rabun, tetapi mengapa  masih gagap mengenali warna.  Karena berburu lencana menaiki kencana, sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Namun, lamat-lamat melumat secara muslihat. Itu juga bagian keranjingan yang perlu di-“eksplore“. Lupa kemarin senja tertuduh bermesraan dengan  laut biru, menyedapkan rasa, jiwa.

Senja tertuduh! Terbungkam hitam pekat (pertanda malam). Saya menemui seorang Dudung malam itu. Di celah sibuknya menyempatkan ruang waktunya. Mengeja larik-larik akademis.  Yang kebetulan  dia persiapkan  untuk gelar  doktornya.

Dengan frasanya, cukup alot persekutuan kata dan warna, beberapa ornamen literatur yang melingkupi setiap warna lain yang mampu membedakan, Dudung mengutip di sebuah laman.  Melengkapiku  pelampung agar tidak terbawa arus, bahkan tenggelam pada peran-peran warna lain. Dia  mengingatkanku pada kehidupan yang dipenuhi keberpuraan, dan penuh warni tipu-tipu.

Bahwa warna, secara harfiah, adalah sifat cahaya yang dipancarkan ke indra penglihatan. Oleh karena itu, warna punya banyak jenisnya. Dalam kehidupan sehari-hari penggunaan warna cukup krusial sebab dapat melambangkan sesuatu yang sifatnya spesifik.

Warna yang termasuk umum contohnya adalah merah, kuning, hijau, biru, hitam, putih, dan masih banyak lagi. Sementara itu, ada pula variasi warna seperti tosca, yang punya dominan warna hijau namun masih mengandung unsur biru di dalamnya.

Dudung penuh semangat mengincarku. Menariknya, otak manusia dirancang sedemikian rupa untuk mengaitkan sebuah warna dengan simbol tertentu. Misalnya, merah identik dengan restoran fastfood, atau cocokloginya sebagai pronsip pemberani, kuning identik dengan rasa ceria, sementara hitam adalah warna berduka.

Lantas bagaimana dengan  “abu-abu”?  bagaimana dasar dan filosofinya? Saya berusaha tegar melengkungkan pertanyaan yang receh! Dudung tersenyum,  menghantarku ke sebuah laman kembali. Dia  memiliki dua mata pisau analisis. Berbeda dengan warna lain yang orang hanya ikut-ikutan penyuka warna yang sekarang ramai disitilahkan “tosca” yang sesungguhnya sama dengan sisi lain identitas sebagaimana  abu-abu. Dilucuti makna filosofi positifnya.

Abu-abu dalam arti positifnya dikutip dari  buku Copywriting: Retorika, Iklan dan Storytelling, Teori dan Teknik Menulis Naskah Iklan karya Madiyant (2021: 150), arti positif warna abu-abu adalah tenang, lemah lembut, hormat, dan netral.

Selain itu, warna abu-abu juga memiliki makna yang dekat dengan sebuah keseriusan dan tanggung jawab. Oleh karena itu, tidak heran jika warna abu-abu kerap dianggap sebagai filosofi dari kemandirian.

Sedangkan sisi negatifnya, dikutip dari buku yang sama, Madiyant (2021: 150), arti negatif dari warna abu-abu adalah kesedihan, kesepian, monoton, dan melankolis.

Tetiba Cania Citra ikut nimbrung,  melengkapi kecerdasan kognitif, secara kreatif mengolah arah berpikir dengan real adalah data. Bukan asal. Tanpa bekal maka itu sama dengan abal-abal.  Cania menguatkan, seraya mengingatkan saya kembali. Bahwa kepiawaian, kecerdasan mengolah pilihan dalam radar pemikiran. Seharusnya selesai dengan dirimu dulu,  bertengkar dengan nalar serta meletakkan dasar. Bukan asal nyasar. Apatahlagi bertengkar pada pengertian soal defenisi warna?

Lebih baiknya  kudu cermati, tanpa mencemari sifat warna lain yang seakan terang benderang tetapi penguntil yang centil.  Orang suka warna putih misalkan karena doktrinnya adalah bersih nan suci katanya. Penyuka warna hijau katanya lebih adem dan kesuburan. Atau kuning diseolah-olahkan berpadu hijau sebagai simbol agama. Biru beredar bagai memendar kedalaman dengan menambahkan ornamen  tosca. Itu juga buah filosofi seperti abu-abu dituding kurang etik dan dipenuhi ketidakjelasan.

Suasana semakin kacau, peran warna semakin meracau.  Antara hitam putih sebagai prestasi prinsip kedirian. Walau sesungguhnya tidak demikian pula doktrinnya. Justru kejelasannya adalah ketidakjelasan sesungguhnya.  Abu-abu bukan karena pengecut atau pecundang. Ada kehari-hatian, cara bersikap, memilih sesuatu yang periodik.  Tidak harus orang mendikte, lalu mengajak ke sebuah sekte warna yang juga hanya mitos!  Tetiba peristiwa berulang di  tahun kemarin. Hanya karena warna mereka berkelahi, dengan lihai saling membela diri. Mencaci, menghakimi warna lain.  Kerabat, bija pammanakang sikapallakki.

Ujuk-ujuk banyak orang menjadi filosofi warna. Dudung menegurku. Tetaplah sebagaimana prinsip dan cara yang lantip. Sesekali mengutip peristiwamu, tidak harus mengulang cara mereka mengumpama tokoh perwayangan. Tapi buat belantara pemikiran, agar  mengerti membaca kompas. Meski ada jengah, jumud karena kadar pemahaman yang dangkal, menjadi dongkol.

Dudung menegur! Bukankah kejujuranmu adalah kebohonganmu? Curilah perhatian tanpa mengubah kebahasaan, kepada  kepengecutan yang lebih konsiten. Hem.

Abu-abu dirilis mengoyak perihal budi, terlihat  mulai songong. Hendak mengakali, dengan peta konflik,  memaksakan warna lain, yang belum sesuai selera. Sekesumat bara dendam, melewati bekas puing-puing perangai dan mulai terlihat tengil.  

Sepertinya semua orang mulai keranjingan  warna pilihan, sebagaimana sifat manusia merasa ingin selalu menjadi sesuatu. Berbeda tidak harus membeda-bedakan. Apatahlagi merasa lebih tahu warna. Tetapi juga rabunnya tak ketulungan.

Suasana makin gencar saling menuding, minim data, hanya secara main karambol. Bergerombol saling menghakimi satu dengan lainnya. Percakapan di mana-mana, di teras rumah, pinggir jalan, sebelah kanan, kiri rumah, harmonis yang dulu telah  hilang. Healing tanpa arah membuat prahara, hanya antara hitam, putih, merah,kuning, hijau dan “abu-abu” tertuduh paling nyinyir minim buah pikir. 

Saling meracau, ada mengigau baru siuman tetiba  linglung mencari suaka. Menjadi paling merasa lebih tahu warna. Ada yang kencing berdiri, bahkan mengencengi celananya saja sudah merasa paling mengerti dan paham. 

Ada kacang sembunyi kulitnya, ada kucing dalam karung bunyinya bukan meong. Dan ada pula kacung yang   baru melek,  seperti anak kecil menemukan mainan baru, hingga merasa paling tahu apa yang dia tidak tahu. Dudung terpingkal menahan gelak suaranya terdengar di tengah jerami-jerami pikiran manusia yang mudah tersulut terbakar dan juga tersisa “abu”.

Betapa warna sangatlah beragam, akan tetapi tidak tergantung pada penggunaannya. Warna adalah sebuah elemen yang paling dominan. Selain itu, warna juga termasuk aspek yang paling relatif di kehidupan, seperti dalam sebuah unsur nilai, estetika, bahkan budaya dalam mengasuh simbol-simbol yang hendak tersampaikan kepada khakayak.

Persepsi pada warna akan melibatkan respon psikologi dan fisiologi dari manusia. Apabila ditinjau dari sisi psikologis atau emosi manusia, makna dan arti warna yang ada dapat menunjukan kesan perasaan pada sesuatu. Cahaya, objek, otak dan mata akan terlibat di dalam proses sensasi dan persepsi yang kompleks.

Jadi mau jadi kacung, kucing atau kacang. Semua jadi pilihan prasangka, pertautan individu, atau di sebut istilah perangai. Cara manusia menelusuri pengetahuan, tanpa harus stagnan dalam satu pengetahuan saja. Butuh pengendalian, seintelektual, secerdas apa manusia, jika tidak berdasar pada panorama, sebuah arena yang masih berpijak pada selera warna.

Hingga kelopak keilmuan lainnya yang butuh di telusuri.  Pada ilmu filosofi warna tentunya paling sederhana, agar tidak semudah jiwa, dan sifatia kita goyah hanya karena soal warna, lantas prinsip dan idealisme itu  menjadi semata rekayasa untuk sebuah semara mencari  suaka?

“Jadilah abu, walau terlantar di antara arang dan bekas amarah manusia menjadikanmu kayu bakar,  lalu semudah mereka hilangkan jejakmu hanya dengan sedetik”.

Seperti kata Sapardi, rela menjadi abu, atas cintanya yang sederhana, dibakar api, menjadi arang lalu menjadikannya kembali abu. Atau menjadi tiada sekalian, pada cinta sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada? 

Itu juga bukan pilihan. Namun ada syarat yang menjadikannya tak hendak luput, dan luruh hanya karena kepentingan, selera manusia, semua terlibat pada watak, tabiat. Yang justru akan kelak melenyapkanmu di tengah peran kontestasi.

Ibarat kutilang berbunyi tahu diri di pucuk pohon cempaka. Dengan jemarinya meraba ranting, tanpa mengoyak-ngoyak ranting, daun yang lain. Lalu sejengkal jarak manusia membidik dengan ketapel membunuh tabiat. Merengkuhlah, tanpa keluh. Hidup ini penuh warna. Jangan cemari warna lain. Semua punya filosofi dan alasan yang tidak harus kau paksakan untuk warna yang sama. 

Tetaplah abu-abu, dari pada menjadi  warna mencolok, namun comel tanpa kendali diri dan pengetahuan. 

Jadilah abu-abu di antara dua mata pisau filosofinya.  Dudung menutup lalu pamit menitipkan harapan dalam kesenjangan. Sesuaikan kapasitas,  kebutuhan,  yang harus saya jalani, nenekuni dalam perjalanan masih di antara lembah-lembah, masih kutemui terjungkal hanya karena warna, serta pengetahuan yang sekadar diasuh, tanpa dibasuh hingga menjadi kesusu.

Sumber gambar: https://apnewscorner.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *