Monolog

Adegan demi adegan.  Danu memainkan satu tabiat tidak secara kasat, bahkan dengan mata nanar, berbinar-binar sekalian. Wajah manis dan menawan. Sesaat kemudian, kita terlena saat mengurai kata menaruh harapan, bukan menghamparkan semata slogan. Di sudut kerling dan pasang mata menanti kejutan. Tetiba menjadi bualan.

Orang–orang main  ketapel dan seribu “stempel”.  Emm! Punya jurus dan rumus masing-masing dalam setiap kesempatan. Secara taktik atau TikTok cara jitu membius untuk populis. 

Danu bagai pesolek yang baru melek, ingin pula tampil secara saksama secara intelek.  Walau sekadar memetik,  dan memainkan serunai, pada lembah jiwa-jiwa yang penuh lebam dan bekas anak panah temannya sendiri  dengan tampak tak menyerah. Hendak mengarang dan menuliskan sejarah. Tetapi mereka telah lebih dulu mangkir tanpa banyak pikir, asal mencatut saja seolah pengukir andal.

Adegan mengubah dengan menggugat.   Semua menjadi kabur. Karena telah tertawan dan lebih menambatkan diri kepada  yang manis dan menawan. Kemudian  mereka merilis sekadar memuja-muji di antara kepalsuannya manusia dan dunia.

Teringat  awal merilis sebuah  kata dengan manis, hingga membuat suasana begitu cukup dramatis dan terbawa hanyut  pesonanya sendiri.  Sungguh betapa konyol bin tololnya saya. Danu menghardik dirinya sendiri.

Danu. Tidak perlu kau merasa manis dan menawan. Hidup itu sudah demikian disengketakan. Ada secara mulus saat lending, ada pula mendaki dengan segala  siasat dan sifat manusia. Hadapi dengan segala konsekuensi pilihan hidupmu.  

Sebagaimana si manis melengkapi dirinya dengan merilis kosa kata menarik, yang menawan makin kelihatan elegan dengan sejuta slogan. Setimpal watak setiap insan pasti ingin keduanya, namun ketapel-ketapel dan pikiran kita, kadang terlontar semakin terkapar tanpa sadar kita masih penikmat, dan penonton saja.

Masuklah, sesekali keluar dari “goa hiramu” (istilah Buya),  merasakan gejolak serta sensasinya adegan mereka!  Minimal masuki sistimnya, ubah paradigma, meski masih minoritas, tetapi punya kesadaran , kecerdasan,  kepekaan sosial dari ambang  kepunahannya daya pikir, hanya karena kebanyak dari manusia berkompeten, puriti (telaten) tinggal diam seperti kamu, maka ketidakbecusan dengan mulus mengubah segala tatanan, segala tujuan dengan akal bulus.  

Umbu dengan adegan selanjutnya menancapkan selarik cahaya, dengan  sebatang  lisong.  Seperti sajak Rendra saat mengulik gejolak  dirinya yang ringkih nan risih. Menginterupsi kesenjangan sosial, keadilan dan segala aturan  yang semakin ngawur. 

Danu hendak mengusik segala bisik-bisik yang berisik. Paginya telat, kopinya dingin di tengah siang gerah. Selera dalam pilihan hidup boleh beda, Danu nyeletuk!  Namun rasa akan selalu berpihak pada hal-hal tertentu dengan kesedapan. Namun banyak kutemui di mana hari ini “yes” besok belum tentu “iya”.  Atau hari ini no, lusa dan sedetik bisa menjadi “ok bro”.  Begitulah peran yang sudah terbaca dengan segala tipikal.

Permainan dimulai, dadu  digelinding, arisan kepentingan tampak sumringah menukil beberapa dalil yang dekil. Bagai harapan di hamparkan karpet merah, jalan berlenggok, padahal kita tidak tahu itu adalah jebakan sebagaimana Mengutip LiveScience, publikasi berjudul “When Did the Red Carpet Tradition Begin?” Menjelaskan, karpet merah pertama kali diketahui berasal dari drama 458 Sebelum Masehi Agememnon oleh Aeschylus. Dalam lakon itu, istri raja Yunani, Clytemnestra menyiapkan karpet sebagai cara untuk menjebak suaminya yang berselingkuh untuk dibunuh.

November kali ini, ada gamang menggumpal. Sunyi, dan lama merunut, lalu dia mencoba tidak lagi penurut, tapi situasi memaksanya agar lebih  berperan dengan jenis  “monolog” saja. Sementara pada  sekian persen kelakuannya yang suka kebablasan.  Danu tetiba melucuti semuanya dari jejak artefak, atribut dirinya yang semakin membuatnya terjerembab.

Sebuah Trauma dan paranoidnya terhadap sesiapa saja yang ditemui.  Rasa  was-was, ada mosi tidak percaya lagi. Serba hati-hati setiap orang, suasana, ranah dia temui. Tidak lagi kajilijili (tergesa-gesa/berlebihan bertingkah) seperti dulu, apa saja ditekuni, dijalani, menerima dalam larut ingin lebur. Tetapi akhirnya dia babak belur.

November tanggal pertengahan, sebuah harapan dinantikan. Ada kenduri yang menghamparkan “karpet merah”. Hendak menerjemahkan dan mengejewantahkan  seluruh mimpi, dari sekian banyak janji, setiap peristiwa sama sebelumnya. Sehelai kertas menitipkan asanya.   Sisi lain ada berkelompok dengan telah terjatah kepentingannya basa-basi, tawar menawar.  Ada terpaksa, ada demi sehari terpenuhi nurani terbeli.  Betapa kocak bin lucunya. 

Semua menaruh mimpi pada sesiapa nahkoda kapal berikutnya berlayar, mengarungi  dengan segala tantangan, hujaman badai zaman.  Seraya pula mendengar resah, keluh, pada setiap kesenjangan sosial nan klasik itu mereka tambatkan. Danu terdiam, hanya gumam tanpa harus berdebat kisi-kisi, desain pemikiran, dan kebijakan-kebijakan yang juga stagnan pada kebijakan yang lain. Tidak harus ikut menghujat seperti yang lain. Hanya sekadar tawakkal? Atau cara minoritas menguatkan tegak berdiri, pada lesuh, letihnya bermimpi.  Percakapan dengan dirinya  cukup klimaks dengan pasrah, nenyerah tanpa syarat. 

Danu tetiba melepas sehelai kalung yang membuatnya jengah, jumawa, terlalu merasa percaya diri seolah penuh  wibawa, gengsi, dan sensitif selama ini.  Dia lemparkan ke samudera raya. Yang terlihat bekas sobek terbelah di buritan tubuh seorang yang juga larut, merasa punya andil memapah kisah yang kini telah terkoyak-koyak.

Tahun kali ini, tahun seabrek peristiwa yang menggugurkan bunga rampai nilai, keadaban, kebudayaan yang dulu kuat mengikat ikrar. Kali ini mereka ingkar di tengah dunia yang dipenuhi oleh berbagai perkembangan teknologi, mulai dari proyek kecerdasan buatan hingga rekayasa genetika dengan segala peran budaya itu sendiri telah membantai tanpa disadari. 

Humanis, nyaris sekadar tameng, agamis, hadir mengais-ngais imingi surga. Manusia tanpa rupiah semakin hidupnya sia-sia.

Segala ingatan berkelindan tak hendak  dikenang. Semua adalah mimpi buruk pada siang hari, di musim konak  para pemburu pupulis. Danu bermandi peluh. Tapi semangat tak luruh.  Dia mengubah mindset-nya setelah kacung dan kucing bermesraan di ladang kacang sembunyi kulitnya. 

Awal november yang riuh. Kencan sepasang  dua pasang asmara menuju pelaminan, saat telah sah saling meminang.  Kuncup mekarlah harapan semua orang sekitar. Menanti kenang-kenangan saat pesta usai dihelatkan. Menunggu jatah, menagih janji masing-masing yang kemarin menjadi penggembira, saat erangerang, mahar, uang panai diantar kesinggasana tahta mahkota.

Danu kaget, tetiba ada yang menyikut, dan menjewer kalimatnya. Sesingkat mereka menyikat lalu meraih panggung, tepukan gemuruh. Danu pulang dengan lega setelah monolognya usai walau belum selesai.

Ditemui ibunya meminta ditimang-timang. Sambil bernyanyi sendu seorang ibu menahan air matanya, “Tinromako naung ana’ nupaselaki matangnu. Toeng ri bongga ana’ appalikangang rikamasea. Teako lanrei, tea tongko  ero nikua ana’. Katutui sikuntu erang sa’ra surang gio’. Kanasaba silalotassirapiji rupa tauwwa.”  Ibu menyelimuti Danu dengan dekapan semangat. Lelaki tangguh adalah “lelaki penuh luka di tubuhnya” Bura’neku intu.  Danu tersenyum. 

Tak terasa Danu terlelap, pulas, lalu melanjutkan mimpinya yang jauh lebih asyik dari  pada realitas dunia sesungguhnya. Jauh dari kicau manusia. Kericuhan yang tak berarti. Adab semakin penuh semak belukar. Di terjang, ditendang, lalu mereka menginjak-injak adabnya sendiri.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *