Tepuk-tepuk tangan, suka-suka // tangan di kepala, tangan di pinggang // loncat yang tinggi satu dua tiga // mari meniru burung terbang di udara.
Bagaimana meniru burung, sementara kepak sayapku terdogma oleh nomenkelatur, penuh struktur dan ambigutas tak mampu meretas sebuah harapan di masa kanak-kanakku dulu.
Dan meniru burung terbang ke udara, hanya karena tepuk-tepuk tangan. Tangan di pinggang, di kepala lalu kita dihasut dengan cara yang kusut sejak kecil hingga dewasa pada harga tepuk tangan yang sudah kedaluwarsa.
Kocak, dan seru-seruan pada ranah yang kian marak, orang-orang ingin seperti burung merak, dengan bulu indah nan megahnya memamerkan sayapnya, tetapi amat gagap dalam mengedukasi diri sendiri, serta urung merunut untuk tidak asal mematuk-matuk nilai-nilai, adab dan sosial kemanusiaan yang kini kian tergerus, bahkan pasianakkang menjadi bara dendam. Tetangga baku bombe, senyumannya tidak tulus lagi. Saling menaruh gengsi, yang tadinya ramah menjadi sama-sama pemarah.
Ada bertepuk sebelah tangan! Harapannya terbuang dan dikebiri. Ada yang sumringah dengan wajah berseri-seri, karena gemuruh tepukan pujian sesaat kemudian beberapa menit dia bagai tersesat. Ada ngelangsa pulang mengadu ke ibunya hanya karena gara-gara tepuk tangan di tengah keramaian begitu sepi.
Hadapi saja, jadikan juga seru-seruan kalau hanya harga dirimu terjengkal gara-gara sepinya tepukan, seperti cerita di buku Harga Sebuah Tepuk Tangan karya Arum Spink yang diterbitkan oleh Carabaca di Yogyakarta pada tahun 2012. Sila di baca. Di sana cukup mengalir, memilih cara yang begitu pelik, dalam harga sebuah tepukan.
Ada begitu cukup menghujam, bertepuk tangan saat kesengsaraanmu di tengah kumpulan manusia yang mulai hitung-hitungan (materialis). Sebuah nilai dinafikan, ditepis di tengah gairah pemuja tepukan, pujian dan penikmat kesengsaraan manusia sekitarnya. Tidak peduli kerabat, keluarga malah justru paling suka berseteru “appacidde” (mengolok dan menjadi perundungan).
Belantara kemerasaan mulai gundul, musim di mana manusia saling meracik dirinya, mengklaster kriteria, mendepak yang tampak, menghujat bagai hujan lebat terguyur begitu saja. Suasana makin karut. Masing-masing berkelik, berhipotesa hingga membuat rekayasa saling menyimpan bara, serta pertolongan pertama pada “klarifikasi”. Minim edukasi.
Sekitar kita mulai saling membaca, yang pura senyum tetapi hati kecut hanya persoalan pilihan misalnya, seperti saat musim kali ini berseminya pesta politik. Mulai dari yang sedikit alim, hingga yang tengil memakai bedil-bedil umpatan. Tetangga, handai taulan, saudara mulai saling menjauh saling lempar kata “satir” (menyinggung, menyungging dan ingin trending). Saat bersua oke-oke saja, santun bin tunduk. Tetapi didnding medsos dipenuhi umpatan
Sorak-sorai, masing-masing punya cara. Mengubahnya menjadi kalap dan mula punah rasa sikapaccei, spakainga’, menjadi sikapalakki. Tak ada lagi senyuman simpul, candaan pudar sudah. Kebiasaan intensitas saling sikamaseang, sipa’rikongang sirna sudah, menjadi kebencian, kedengkian begitu melengking hingga ke pelosok, ke lorong ke sudut kota.
Pecahlah sebelanga, saling merundung antar pendukung, sementara para elit saling berunding atas kepentingan kelompok, kerabat dan diri sendiri. Demi pilihan, harga diri terbengkalai, terkulai bagai benalu saat musim panen, dan kemarau, tanpa nutrisi bunga-bunga kedirian yang kokoh dalam adab dan budaya.
Haruskah hanya karena beda pilihan harga diri terjungkal, sebagai gengsi, tendensi, sampai menjadi tensi dan sensi. Demokrasi begitu remuk di aduk-aduk, diobok-obok menjadi terasi. Kesedapan yang sesaat.
Dari kejauhan, siulan dan pekik di tengah gairah tepuk tangan yang kian ramai melintasi jagad. Sayembara diaduk pada dadu-dadu kepentingan. Padahal kemarin masih saja duduk bersama. Padahal sehari yang lalu, meneguk kopi diseduh dan diseruput bersama. Ibu-ibu penuh canda tawa mereka dengan daster menguatkan rukunnya tetangga, masih adem rasanya. Kini semua bagai siluman, saling menyindir, atau saat berpapasan saja tegur sapa mulai hambar.
Tepuk tangan terdengar lagi di arah timur. Semua ikut, nimbrung dan bergabung, ada juga clengak-clenguk, ada sekadar manggut-manggut. Ada pula yang ikut bersenang-senang, bagai tamasya di setiap lima tahunan.
Seseorang menimpali, sambil mencatat nama-nama yang tertera lengkap dengan perangainya/pilihannya. Maklum begitulah kebiasaan yang sama dari kebiasaan orang lain di sekitarnya, bahkan tetangganya dia tafsir dengan catatan khusus. Jelang sore masih saja keliling mengitari demi jatah, dimana kelak akan mengingkari setiap lakunya. Terpaksa melakukan atau memang tabiatnya yang suka memcatut orang lain. Lalu dia sendiri lari dari tanggung jawab. Silaturrahmi yang dibuat-buat namun menukar harmoni membutakan nurani.
Bertepuk sebelah tangan, harapan tertumbuk pada lubuk. Seleraku semakin turun ke dasar kaki, tidak beranjak dan berani keluar nampang muka. Karena beberapa pasang mata mengikat, dan mencari tahu dengan nanar mencecar. Mereka seolah pakar. Menggelar tikar tembikar sambil ikut nimbrung bertepuk tangan.
Ada juga keranjingan bertepuk tangan, bahkan pernah merasakan kecewa merasakan hanya bertepuk sebelah tangan, saat ekspestasinya begitu tinggi dan mendalam kepada seseorang. Seketika tertolak. Kecewa serta lupa hadap diri. Sisi lain manusia saling menepuki, dan ditepuki, “appaganti” dari mereka yang berseteru, bertaruh di tengah karutnya keadaan. Tawa lepas terpingkal di ranah politikal ala cicak bin kadal.
Teringat kisah seekor nyamuk. Bahwa setiap dengungannya, mengalun cukup mengusik di tengah manusia berisik pula. Namun kau tahu. Tetiba dia mati hanya karena tepukan.
“Katutui sikiddia, nasaba sikiddia intu sanna ammaraki puara,” (jaga hal kecil, sebab semua petaka nesar dari hal kecil pemantiknya).
Harga sebuah tepukan, antara kehinaan dan pujian. Melengkung lalu membelok. Jari-jari mulai panas, aliran darah tumpuk dan sumpek di ubun-ubun. Saling memamah, merasa paling cerdas, padahal cadas bin culas. Sama-sama punya nyali, tapi hanya berani main tepukan berjamaah, berserapah. Budaya sipakatau mulai saling sicau-cau (mengolok-olok).
Slogan damai hanya terbentang, terpajang begitu saja, di sudut kota, dekat pohon dan paku-paku tajam menampang kontestan. Itu tidak ampuh dan meluruhkan sifatia, adab yang sudah terlanjur sekian lama berlarut, berpura-pura serta sukanya hanya hura-hura di tengah huru-hara.
Dari seluruh penjuru, elemen pendukung, jadilah pengayom, bukan ikut terjun bebas tanpa parasit, lalu menghasut. Jadilah suluh peradaban, bukan pada jalan terang.
Sepertinya semua butuh proses, setiap perhelatan yang katanya pesta demokrasi. Butuh metode lain lebih menarik, tidak kaku sekadar caption saja. Seindah dan sehebat apa kalimat slogania ajakan damai, tetapi ujung petaka lima tahunan. Semua masih seperti mania dan maniak. Melontarkan apa saja dalam pikiran. Tanpa disaring memuncah begitu saja.
Tanah bertuah kehilangan petuah. Jejak sayembara untuk menuju kesepahaman bersama demi kemaslahatan, kesejahteraan di bumi yang penuh kesantunan di bawah junjungan tertinggi sampulo angrua terlupakan sebagai prisai kokoh untuk saling mengayomi, melindungi setiap sengketa di ranah masyarakat. Menyelesaikan dengan penuh kesejukan.
Akhirnya saling sipakasiri’-siri’ tanpa menuntun dengan pola, strategi yang lebih elegan. Maka dari setiap sejengkal pemantik yang bisa membuat semua ricuh. Setidaknya kita semua berperan, wabil khusus dari penyelenggara, stakeholder, pengamanan, masyarakat, para tokoh. Untuk lebih saling sinergi. Bukan saling menaruh gengsi dan arogansi yang selama ini berjalan begitu kaku satu dengan yang lainnya. Sebagai kontrol lebih kuat menjaga proses kontestasi agar berjalan sesuai, damai, dan khidmat.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply