Sementara warga Bantaeng asik bermain gawai, berlari, duduk di atas motor menikmati sore di Seruni, saya secara pribadi mendapat cara menikmati Pantai Seruni. Saya dan kawan-kawan menggelar “Mabuk Sore”, Membaca Buku Sore.
Pada Mabuk Sore tadi, sudah digelar sebanyak empat hari berturut-turut. Sejak hari Senin dari pukul 16.00 WITA hingga cahaya mentari lamat-lamat berganti gelap.
Sore tadi, saya ditemani Radikalisme Lokal milik Anton Lucas. Sebuah sajian sejarah Indonesia masa Pendudukan Jepang. Buku ini tak habisnya mendedahkan pengetahuan sejarah yang berharga.
Mulai dari menyusun taktik bergerak, yang mengharuskan mengendap di bawah tanah, karena hantu Fasis Jepang berkuasa di permukaan. Tata cara mengorganisir rakyat. Moral dan ideologi dalam berjuang, juga dirangkum dengan cermat oleh Anton Lucas.
Bersama buku ini pula, saya berkenalan dengan banyak aktor-aktor bawah tanah yang gagah berani menentang Dai Nippon. Sayangnya saya merasa begitu asing dengan pahlawan-pahlawan ini, sebab sejak waktu belajar sejarah di bangku SD hingga SMA, nama-nama mereka tidak disebutkan, baru saya dapati di buku ini. Seperti, Widharta, Pamoedji, H. Abdoerrachim, Sintha Melati, Pak Wir, dan lain-lain. Saya yakin kawan-kawan juga mengalami perasaan yang sama.
Saya banyak belajar dari mereka apa artinya perjuangan. Memang, zaman telah berganti, orang-orangnya juga berganti, giliran saya dan kawan-kawan mewarisi perjuangan mereka. Tetapi tidak dengan senjata laras panjang dan bambu runcing. Melainkan dengan buku.
Kami pelapak buku. Sebagai alat perjuangan, untuk membebaskan manusia dari tirani-tirani kejumudan. Seperti yang disebut oleh Maxim Gorky dalam novel Pecundang yang ditulisnya tahun 1907, “Kebodohan itu ringan seperti udara, ia mudah bergerak.”
Dengan melapak buku, upaya kami untuk menyumbat saluran-saluran kebodohan yang seperti udara itu jadi lebih mudah. Mengahadirkan bacaan politik, agar terbebas dari kibul-kibulan penguasa. Buku sastra seperti novel dan puisi juga mempertebal kemanusiaan. Dan self reward bagi orang-orang yang merasa mesti bertetirah dari dunia yang bikin manekin ini.
Selama empat hari Mabuk Sore berjalan, kami dikunjungi oleh beberapa kenalan. Dengan antusiasme yang berbeda-beda. Ada yang datang dengan tawa dan bertanya buku mana yang menarik untuk dibaca. Ada yang datang langsung bakar rokok dengan ajakan berdiskusi. Ada juga yang datang dengan malu-malu. Bahkan ia sendiri sempat mengungkapkan kesegangannya untuk sekadar singgah, saya tidak menggali lebih dalam, yang terpenting saat itu, ia datang dengan menumpas perasaan malu agar bisa lebih dekat dengan bacaan.
Setiap kawan-kawan yang menyempatkan mengobrol, selalu bertanya, “Banyakji orang singgah?” Saya jawab, kawan-kawan yang kebetulan kenal dengan kita-kita ini yang mampir. Saya lanjut menimpali jawaban dengan ‘pemakluman’, bahwa tujuan kita melapak secara jangka pendek agar dilihat orang. Itu yang penting. Kami ingin menghadirkan sesuatu yang baru di Seruni; lokasi berliterasi.
Dengan harapan jika nanti ada anak-anak yang menyaksikan, itu akan membumbuhi imajinasi baru tentang Seruni, bukan sebagai tempat bertetirah sahaja. Tetapi melihat orang-orang akrab dan bermain dengan bacaan. Sebab sependek yang saya tahu, bahwa cara mengajari anak yang efektif, salah satunya dengan berpraktek. Berbeda sewaktu saya kecil dahulu, saya tidak pernah melihat di lingkungan saya bermain, ada orang membaca buku. Saya coba meniadakan itu di persepsi anak anak. Sebaliknya, menumbuhkan pikiran yang sehat dengan literasi.
Di tengah obrolan dengan salah seorang kawan, kami disambangi oleh kak Sulhan Yusuf Daeng Litere, yang singgah sehabis dari berkeliling. Kami berbincang mengenai keadaan literasi di Bantaeng. Kak Sul menganggap literasi mesti dijaga muruwahnya dari politik praktis.
Saya tidak sempat banyak mengobrol dengannya, saya memilih lebih banyak memasang telinga sewaktu di hadapan Daeng Litere, mendengar petuah-petuahnya.
Saya sepakat yang dimaksud kak Sul, bahwa gerakan literasi ditabuh garis demarkasinya dengan politik praktis, agar tidak dimanfaatkan dalam kepetingannya.
Di sisi lain saya menghendaki literasi sebagai alat politik. ‘Bukan sebagai alat dalam politik praktis’. Tapi menjelma sebagai alat penyadaran masyarakat di tengah hipokrisi yang ditimbulkan penguasa. Seperti yang dituangkan dalam buku Perang Suara milik Hilmar Farid. Menegaskan politik bahasa dan percetakan sebagai alat menentang kekuasaan yang sewenang-wenang. Dan itu bagian dari literasi.
Saya juga menyandarkan pandangan politik kepada Pramoedya Ananta Toer, seorang yang akrab dengan literasi bahkan hidupnya sudah jadi literatur. Haruslah kita mendidik rakyat dengan organisasi dan mendidik pemerintah dengan demonstrasi. Begitu hemat pandangan saya.
Untuk sampai di titik pijak itu, perlu tentunya menggalakkan literasi dengan sungguh di Butta Toa. Hingga kita sampai pada cita-cita adiluhung —menggiati literasi bukan lagi menelurusuri sebuah lorong panjang gelap nan sepi. Tapi sebuah jalan gemerlap pengetahuan yang disenangi banyak orang— demikian.
Saya jua bermimpi, barang kali ini juga mimpi bagi kawan-kawan. Melihat Bantaeng sebagai kabupaten dengan minat literasi terus bertumbuh tiap tahunnya. Caranya bagaimana? Kembali pada apa yang diucapkan oleh Pram!

Sering memakai nama alias: Zorbas. Seorang mahasiswa Sastra Unhas. Aktif bermain api di Front Mahasiswa Kerakyatan Makassar. Pernah ikut di Kelas Menulis Esai Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply