Category: Esai
-

Mengelola Kegagalan
Sukses itu dari sebuah kegagalan, katanya! “Itu hanya sugesti saja, sekadar penyemangat,” ujar Petong menggebuki dirinya sendiri, yang tidak percaya terhadap angan-angan para motivator yang menumpang jadi “aktor”. Danu berusaha menenangkan Petong, “Teako Rangga selai, risesena tallasaka. Tea tongkol tappu pangrannuangngi mange iya niaka angngatoroki sikuntu kajarianga ri tompo lino-Na. Sikuntu iya napa’jaria ri Kun-faya…
-

Ibarat Macan Bertaring di luar Arena, bak Kucing Jinak di dalam Gelanggang
Demokrasi selalu memberikan ruang bagi setiap orang untuk mengekspresikan buah pikiran dan rasa yang ia miliki. Unjuk pikiran dan unjuk rasa itu, biasanya dituangkan dalam bentuk kata dan kalimat yang disampaikan pada forum-forum tertentu. Baik dalam forum resmi maupun yang tak resmi. Untuk ruang-ruang yang disediakan buat menyampaikan ekspresi pikiran dan rasa itu, muncullah sikap…
-

Anak Pelintas Sulawesi
Seorang anak remaja nekat menerima tantangan para nitizen TikTok. Tantangan diterimanya, berjalan kaki dari Kota Makassar hingga Kota Manado. pada pertengahan bulan september 2024, perjalanan jauh itu dimulai. Jarak yang mesti ditempuh kurang lebih 1.800 Km. Umumnya, bila menggunakan angkutan darat, memangsa waktu hingga kurang lebih 60 jam. Perjalanan itu, sekaligus akan memecah rekor pejalan…
-

Tren Minimalisme: Seni Mengatur Hasrat dan Merayakan Kesederhanaan
Sejak dulu, saya selalu tertarik mengamati bagaimana manusia menjalani hidupnya. Sebagian mereka memilih untuk terus mengejar lebih banyak, sebagian lagi memilih untuk melepaskan. Ada yang mengisi hari-harinya dengan tumpukan ambisi dan kesibukan, lalu ada juga yang perlahan memisahkan diri dari riuhnya dunia, sembari mencari makna dalam kesunyian. Pernah suatu hari, saya sedang duduk di kantin…
-

Fandi dan Profesinya sebagai Desainer Grafis
Merancang idea, menerapkannya di antara imaji, terkadang menyeka peluh menarik sebuah garis, atau sketsa, tanpa harus berani merekayasa sebuah karya. Fandi menekuni dengan belajar melayani dirinya sendiri, sebelum karyanya di-publish bukan juga untuk numpang populis. Menjadi seorang desainer grafis saat ini bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan seiring perkembangan teknologi. Dulunya saya seorang perupa, di mana…
-

Seekor Ayam untuk Argan dan Nurul Lamung
Tetiba seorang ibu menenteng seekor ayam sambil senyum-senyum masuk ke rumah saya. Berpikir mungkin suruh potong seperti biasa di rumah. Kadang memang orang-orang suruh potong ayam sama Tata’ (ayah). Saya kecele. Karena ayam tersebut adalah sebuah pemberian dari H. Ramlan Lamung yang mendirikan musholla bernama Nurul Lamung di sebuah kampung bernama Lembang-Lembang. Konon penamaan musala…
-

Tata’ dan Uwa’: Sebuah Identitas?
Seketika saya menyusuri lorong waktu, seiring proses pencarian saya, sekian lama seribu tanya dan andai. Dengan dekil saya menyembunyikan identitas saya sesungguhnya. Ya, saat berinteraksi sekian lama. Ada hal terjaga agar tidak gegabah, lantas hampir menyerah saat kata Uwa’ itu disinyalir oleh beberapa orang sebagai strata sosial (terbawah). Saya mulai menyadari untuk merendah, walau hendak…
-

Benteng Terakhir Bernama Sekolah
Rasanya tidak ada yang lebih mengecewakan perasaan seorang guru, kala menyaksikan satu per satu muridnya meninggalkan sekolah. Itulah yang saya rasakan ketika pada suatu pagi yang mendung, dekat meja guru di pojok kelas, saat nama-nama murid saya panggil satu per satu dan salah seorang menjawab, “Sudah tidak ke sekolah, Pak. Kemarin berangkat ke Malaysia.” Saya terpaku…
-

Perempuan dalam Bayang-Bayang Pujian Dangkal
“Seorang perempuan selalu mudah dipengaruhi dengan diberi pujian-pujian mengenai penampilannya daripada mengenai jalan pikirannya.” (Simone de Beauvoir) Saya sering bertanya-tanya, mengapa pujian untuk perempuan lebih sering berkutat pada kecantikannya dibandingkan dengan cara berpikirnya? Sebenarnya, ini bukan sekadar fenomena sosial yang terjadi di media atau ruang publik. Tetapi, ini adalah refleksi dari cara kita membentuk makna…
-

Pembelajaran Mendalam: Saatnya Sekolah Berhenti Jadi Museum Pendidikan
Bayangkan ini: seorang siswa belajar bahasa asing selama enam tahun. SMP tiga tahun dan SMA juga tiga tahun. Tetapi ketika diminta berbicara dengan turis asing, ia hanya bisa tersenyum kecut. Atau, seorang anak yang sudah bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia, tetapi tak mampu menyampaikan ide dengan jelas. Siapakah anak itu? Saya salah satunya, teman kelasku, teman…
