Bocah Argan dan Orang-orang Keranjingan

Perihal budi yang mulai menjadi jumud. Hendak menguasai dengan mencatut, menghasut melewati bekas puing-puing perangai. Sepertinya semua orang mulai keranjingan, di mana sebagian orang merasa ingin selalu menjadi sesuatu. 

Pada satu titik Danu dan Argan hampir sama, walau sedikit mirip. Maka  terlepas sama dan beda. Sebuah kesenangan, kesukaan, ada yang perlu diselipkan untuk menahan diri. Elang misalnya:  Keranjingan terbang dan berburu. Habitatnya sedemikian itu. Namun, dia butuh jeda mengepakkan sayapnya. Tidak melulu dielukan, lalu elang pujipujiang.  Sesungguhnya itu adalah gulma yang siap memamah.

Sebagaimana bocah Argan, keranjingan, selalu ingin keluar rumah untuk bermain, kadang lupa pulang. Tetiba Pulang mengadu dengan sendu di antara sebayanya yang keranjingan pula saling merundung. Bocah Argan menyusup masuk ke tepi zamannya, saat mainannya dirampas, atau  suasana kanaknya dikebiri dipaksa untuk rajin salat, belajar, patuh, “appiada” dan beberapa keinginan orang dewasa di luar kesenangannya. Sementara kita sendiri tidak patuh, suka keranjingan juga, dan kebablasan appiada.

Mengadu kemana? Semua hanya semak-semak belukar yang terlihat jalan menuju citanya. Ternyata hanya fatamorgana. Dia dihardik dipaksa mengaku dan berada di antara orang dewasa yang  juga makin keranjingan paling beradab. Padahal menginjak adab itu sendiri.

Sebuah harapan ingin punya sayap. Hendak pergi! Terbanglah menjadi elang serta kelilingi dunia. Namun, mimpinya diusik oleh sebuah fenomena nan klasik tetapi tidak asyik  bin  tidak menarik perhatiannya. Dipaksa dia menyerah untuk betah dari orang-orang keranjingan ingin menjadi panutan. Akan tetapi kehilangan perkakas. Hanya bekas sabetan di jidatnya. Serta warna muka yang penuh pesona. Walau sering mengibuli pula. Itu juga bagian keranjingan ingin merasa tampil dan cukup tengil. 

Saat  keranjingan memainkan alat tabuhan. Dituduhkan sekelilingnya mulai usil dan berisik. Dia Diitari dengan suasana manusia penghardik serta  lingkungan semakin tergerus ikut  menjadi penghasut.

Manusia kini merasa mengayomi, namun mengebiri kreativitas. Merasa tujuannya baik hanya kadang belum tepat menjadi benar. Begitu pula sebaliknya. Keduanya harus saling melengkapi.

Orang-orang mulai keranjingan, menjadi pengamat, pengumpat. Seolah  hidupnya penuh dramatis. Seperti calo berjubel di tepi jalan, menanti parade keranjingan ilmu ditaruhkan. Keranjingan baru dibuat-buat semakin disebar. Ada yang bermaklumat bahkan bersekutu, bertaruh, meluruhkan nilai dari himpitan kesenjangan pribadi dan prilaku semakin terbang melayang. Danu berkidik. Tidak berani nyeletuk.

Saat bunga kesadaran mulai kuncup, saat imajinasinya sudah terbangun. Tetiba manusia lain menebas pucuk cemara jiwanya yang hendak mengembara, berkenaan mimpi-mimpinya. Dicungkil-cingkil pada sumber daya sebagian manusia yang kian seperti bandit.  

Argan dianggap tabu dan tetuduh pengkhayal.  Dia ngelangsa, tercemari diri oleh penukil mimpi yang belum cebok saat subuh. Kembali dipaksa menghafal. Diajak bertingkah laku mulia, hingga merapal bacaan yang seharusnya masih dia eja sesuai selera dan kadar kemampuan, dan paling tidak kesenangannya janganlah diusik.    

Arah jarum membidik setiap detik, kicau peracau semakin kacau. Semua keranjingan. Ada puber baru melek, lalu merasa intelek. Pertarungan individu, kelompok lain melibas budaya luhur. Tampil  setelah hujan badai. Saat gerimis mereka nyaris pipis menuruni betis-betis sampai ke ujung kaki, yang jejak langkah dan perlajanannya tidak cukup jauh.

Media sosial adalah cara keranjingan yang pas, sambil mengulas setiap pesonanya, nampang apa saja di dinding akun media sosial sejuta umat bernama Facebook. Atau media lain yang mengikatnya kepincut harus setiap saat mengungkap, membagikan, membuat caption apa saja demi sensasi like, komentar dan lain-lain sebagainya. Danu kembali diam. Sebab dia salah satu pelaku ketika keranjingan memposting apa saja terjadap dirinya. 

Kita bagian dari  keranjingan seperti Argan, memburu identitas tanpa kualifikasi. Semakin menjadi-jadi kendali diri tertambat demi mengejar, berburu populis. Danu mencoba menyibak dirinya sendiri. 

Danu menegur Petong yang pura-pura lugu. Secara adab Petong mulai merasa sedikit tahu diri. Danu menahan gejolak merasa lebih mengerti. Walau kadang masih suka kencing berdiri, sebagaimana bocah Argan yang mulai keranjingan pasang badan atau tepuk dada. Padahal masih belepotan menggunakan kosa kata. 

Argan bukan semata diksi atau dianggap fiksi. Dia si bocah yang mulai tumbuh dengan ciri khas keranjingannya. Berekspestasi tinggi. Namun, sayang seribu sayang digulung citanya. Dihempaskan kedunia penuh intimidasi di zaman manusia sepertinya makin marak main provokasi lalu secepat kilat dibelakang klarifikasi.

Petong  tetiba menyambar menambahkan. Bukankah untuk tidak keranjingan, berlebihan, menjadi paling pemenang harus tahu dir? Secara integritas, kapasitas, sebagaimana Aristoteles mengatakan bahwa semestinya, “Penjara di dalam diri kitalah yang harus dibebaskan.” Sambil mengembuskan asap tembakaunya dengan nikmat, lepas bebas ke udara, seketika menghilang.  Danu ikut  menikmati, merasakan keharuan kepada  Petong mulai semakin keranjingan mencari letak, dan jejak pengetahuan. Agar tidak sok tahu seperti biasa. 

Efek ingin menemukan sejatinya diri,  maka segala ekpresi disuguhkani pada akhir tanpa kesan. Sebagian seperti itu kata Petong setelah mengutip salah satu caption, entah dari mana dia adopsi sebagai referensi.  Akan tetapi Petong dengan keranjingannya secara positif, tahu kelemahannya, kekurangannya, maka dia menyusuri telaga pengetahuan. Tanpa harus gengsi. Sebagaimana seorang bocah Argan, seiring perkembangannya, mulai tertuduh keranjingan, kadang rada bandel karena sekelilingnya cukup bawel. Rewel sampai suatu hari dia membuat ketapel dan membidik buah mangga tetangga. 

Suasana kini  tidak seperti dulu. Danu menyambut pikiran Petong mengingatkan bahwa cukup mereka yang hobi dan berprangai seperti itu. Kau tidak pula harus ikut keranjingan kesyahduan kidung yang mulai murung, harapan yang terjegal begal manusia rese. Hingga sekawanan manusia  bersekongkol, menggasak sesama, mendadak  ingin tampak tanak, padahal penuh akal bulus. Tujuan tercapai dengan mulus.

Lantas bagaimana saya menempatkan diri, mengaktualisasikan sebagai bentuk ekspresi kepada mereka? Kian semakin marak, semakin kalap ingin tampak di setiap perhelatan dan persekutuan yang mulai saling menelikung?  Haruskah diam menjadi pecundang?  Petong menyela dengan juga semakin giat dalam geliat jiwa, pikirannya. Yang selama ini dianggap cupu. 

Jangan juga luruh apatahlagi krasak-krusuk sampai ingin seolah pahlawan. Seperti sekarang kebanyakan orang keranjingan menjadi pahlawan.

Semua ingin ingin berkontestasi menuju kebahagiaan. Meski seperti seorang Albert Camus menyulam dalam sebuah filosofinya bahwa kebahagiaan yang dikejar bukan terbatas pada perasaan subjektif seperti kenikmatan atau kegembiraan semata, namun juga objektif yang berkaitan dengan pengembangan seluruh aspek kemanusiaan, seperti moral, sosial, emosi, dan ruhani.

Hidup memang kadang memaksa kita, termasuk Argan, kamu dan saya sendiri untuk melihat, merasakan, bahkan terlibat.  Lalu terpaksa untuk  hal yang tidak harus kita rasakan dan kita lihat. Danu meringkas tanpa harus melibas sisi lain manusia pada suka main culas.

Petong menyimak sembari menyibak tabir-tabir dirinya selama ini. Dimana  sesungguhnya manusia paling keranjingan ingin tampak, terbawa arus gairah manusia yang tampak lugu tetapi sesungguhnya penuh kecamuk, merasa bernyali namun kadang tertiup angin senja. Artinya masih mudah goyah.

Keranjingan hendak melengkapi persona demi pesona, jangan terlena.  Hati-hati. Itu sebuah bencana.  Bocah Argan ceng-cengesan sambil berlari di tengah terik dan teriakan manusia yang suka keranjingan.

Sumber gambar: Foto: Infografis/Daftar Negara Paling Betah ‘Melototin’ Aplikasi HP, Ada RI?/ Ilham Restu


Comments

One response to “Bocah Argan dan Orang-orang Keranjingan”

  1. Lukman HS Avatar

    Masya Allah luar biasa kakak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *