Angka 27: Apakah Untung atau Buntung?

Merunut angka 27 (dua puluh tujuh) dalam penanggalan bulan Qomariyah maupun bulan Syamsiah ataukah tahun Hijriah dan Masehi. Numerik ini dalam bidang numerologi atau ilmu tentang angka memang menarik dipelajari. Angka memiliki filsafat nilai, baik berupa daya magis, maupun kekuatan makna keberuntungan di dalamnya.

Ribuan tahun silam umat manusia sangat perhatian terhadap angka. Seperti filosofi angka 27. Ada berbagai perspektif semisal mengapa pahala salat 27 derajat yang dikaitkan dengan 27 Rajab. Begitu juga, umat Islam pun merindu pada penantian turunnya malam kemuliaan, malam ke-27 Ramadan.

Ajaibnya, termasuk pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun 2024, pun juga dipilih pada angka 27, yaitu 27 Nopember 2024, sebagaimana dikuatkan dalam regulasi PKPU 2 Tahun 2024, terkait tahapan pemilihan tahun 2024. Namun, lain halnya sebagian pandangan peradaban Mesir kuno, angka 27 sebagai angka kekalahan yang diyakininya.

Sosok Annemarie Schimmel dalam bukunya, The Mystery of Number atau misteri angka-angka, angka 27 merupakan angka menarik dari kacamata  matematis. Angka 27 sebagai kekuatan ketiga dari angka 3 yang sakral. Lain halnya dengan Plutarchatau pemilik nama lengkap Lusius Mestrius Plutarkhos, menyebutkan bahwa angka 27 sebagai pangkat tiga angka ganjil pertama atau maskulin. Begitu pun juga dengan penulis The Pararel Lives, menyampaikan angka 27, juga termasuk kelompok angka bulan, karena bulan tampak paling jelas selama 3×9 malam. Sebagaimana halnya 18, 27 sering digunakan di dalam tradisi-tradisi yang mengakui pentingnya 9.

Nah, bagi saya dalam meng-imla’ di balik numerik angka 27, dalam perspektif dunia material dan spritiual, tanpa mengesampingkan beberapa fakta di balik angka 27, tersebut, bahwa angka 27 memiliki makna dimensi dari numerologi, spiritualitas, hingga ada hubungan budaya dan memiliki kekuatan simbolis yang semakin kompleks di setiap level pemahaman.

Realita yang kita lihat misalnya, dalam dunia persepakbolaan saja di belahan eropa, ada beberapa yang kita kenal di liga Inggris, sebutlah deretan pemain bintang kekinian, yang menggunakan nomor punggung 27. Kita kenal Divock Origi, pemain berkebangsaan Belgia ini, merupakan pemain Liverpool. Joa Cancelo, pemain yang serba bisa dari Mancester City. Luca Moura, pemain Totenham Houstpur. Alex Telles, pemain dari MU yang berkebangsaan Brazil, serta Lucas pemain Aston Villa.

Bahkan, di beberapa belahan dunia lainnya pun bisa saja, atau dalam hal apa saja yang identik dengan nomor pilihan yang mungkin masih banyak yang tertarik dengan pilihan angka 27 sebagai nomor punggungnya. Di timnas pun juga salah satunya kita kenal dengan striker Rafael Struick yang juga menggunakan nomor punggung 27.

Terhadap hal angka 27 yang dimaksud, mereka meyakini dan mendudukkan angka tersebut, memiliki keberuntungan tersendiri. Realita lain, soal angka atau numerik itu, oleh sebagian orang dan saya tidak berani mengatakan sebagian besar orang, kadang-kadang saja untuk memilih nomor handphone, plat kendaraan, nomor rumah, atau bahkan dalam sebuah hajatan, masih ada yang memilih angka yang tepat untuk pemenuhan hajat yang dimaksud. Sehingga dalam ilmu cocologi, orang mengidentikan angka 7 misalnya adalah angka hidup, dialek makassar tujuh itu bermakna (attallasa), makna lain (Appattuju) pada arti memiliki kejelasan, ketegaran, memiliki fungsi dan seterusnya.

Dalam konteks spiritual pun, seperti telah terkupas ringkas di atas, bahwa angka 27 sering dikaitkan dengan perjalanan Ilahiah Rasulullah Muhammad saw, yang lebih kita kenal dengan Isra’ dan Mi’raj malam 27 Rajab, sebagaimana perintah Allah QS. Al-Isra :17/1.

Isra’ Mi’raj ini adalah peristiwa penting dan monumental dalam perjalanan spiritual dan kenabian Nabi Muhammad saw, yang memiliki banyak lapisan makna dan pengaruh bagi umat Islam. Peristiwa ini menandai dua bagian perjalanan yang luar biasa: Isra’ (perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem) dan Mi’raj (perjalanan naik ke Sidratul Muntaha, yaitu tempat tertinggi di langit). Setiap tahap dalam Isra’ Mi’raj mengandung makna yang dalam, terkait hubungan manusia dengan Tuhan, kewajiban ibadah, dan keimanan yang kokoh.

Begitu pun dengan pelaksanaan ibadah salat, untuk mendapatkan 27 derajat, maka tentu bagi pelaksanaannya dengan berjamaah, seperti kutipan arti dari hadis, “Salat berjamaah melampaui salat sendirian dengan (mendapatkan) 27 derajat.” (HR. Bukhari)

Penentuan bilangan 27 derajat dalam hadis ini adalah sesuatu yang bersifat ta’abbudi (tidak dapat dijangkau oleh akal). Oleh Al-Munawi Faidl al-qadir, dalam bukunya, Keutamaan Sholat Berjamaah, pada pandangan teoritiknya mengatakan bahwa ukuran 27 derajat yang dimaksud adalah hanya penyiratan cahaya kenabian yang mengungkap tabir di balik rahasia angka 27 derajat tersebut. Sehingga poin penting dalam penjelasan hadis di atas, adanya keunggulan salat berjamaah jauh lebih utama daripada salat sendiri.

Demikian pula, memiliki arti bahwa pemahaman tersebut sebatas perbandingan antara orang yang saolat sendiri dengan yang salat berjamaah. Bahwa orang yang salat berjamaah memiliki keunggulan 27, yakni 27 derajat. Keunggulan ini diartikan untuk menisbatkan 27 derajat pada setiap rukun yang dilakukan dalam salat.

Sehingga jika menilik numerologi 27, ada peristiwa besar dari perintah salat yang bukan sekadar 27 derajat. Angka 27 merupakan angka peristiwa agung dan menjadi landasan perintah menjalankan kewajiban salat. Peristiwa itu dikenal dengan Isra’ Mi’raj, yang terjadi bertepatan pada tanggal 27 Rajab, seperti kupasan sebelumnya.

Kemudian, kita juga tertarik dengan pilihan angka 27,pada perhelatan akbar nasional secara serentak dalam sejarah pesta demokrasi, untuk pertama kalinya dilaksanakan seantero jagat nusantara, pemilihan kepala daerah sebanyak 545 daerah dengan rincian 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota yang akan digelar pada tanggal 27 November 2024.

Hal muasal dan asbab terhadap pada pilihan angka ini, telah dirunut dan dipandang tepat buat susunan tahapan pemilihan tahun 2024. Sebagaimana telah diatur pada PKPU 02 tahun 2024 terkait dengan tahapan-tahapan yang ada di dalamnya.

Namun, kalaupun ada yang mencoba mengcocokkan sebagai angka keberuntungan atau apalah sebutannya. Saya hanya menstimulus dan mengajak, untuk menggunakan hak pilih kita pada tanggal 27 november 2024. Sebagai bagian peran keturutsertaan, selaku warga negara yang baik dan menentukan pilihan, sesuai selera hati nurani sejati. Sebab, ujung dari perhelatan tersebut, akan melahirkan pemimpin, berawal dari angka 27 (dua puluh tujuh).

Kredit gambar: Depositphotos


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *