Ketika Angngaru  Berujung Petaka

Angngaru sebuah ikatan menyatukan di atas sumpah bernama “ikrar” dalam adat Bugis-Makassar. Istilah ini cukup kuat menjadi tradisi, adat, budaya yang kemudian dikembangkan dari beberapa komponen pertunjukan.

Melansir dari Indonesian Journal of Pedagogical and Social Sciences yang berjudul “Pergeseran Fungsi Kebudayaan Pada Tradisi Angngaru Suku Bugis-Makassar”, disebutkan bahwa Aru’ atau Angngaru’ merupakan sumpah atau ikrar sakral yang diucapkan seseorang kepada raja/pemimpin dengan suara yang lantang.

Pada masa kerajaan, Angngaru biasa dipersembahkan kepada tamu atau raja (karaeng) yang datang sebagai raja atau pemimpin sahabat, atau pemimpin/raja yang berkedudukan tinggi. Selain itu, Angngaru di masa peperangan berfungsi untuk mengobarkan semangat para pejuang dalam mempertahankan wilayah kerajaan di medan perang.

Seiring berkembangnya zaman, budaya tersebut mengalami pergeseran fungsi, hal ini sejalan dengan bubarnya dinasti kerajaan yang menjadi alasan tradisi tersebut mengalami perubahan. Di masa sekarang, Angngaru kini bukan hanya hanya dipersembahkan dalam kegiatan adat, pemerintah, sambutan tetapi kini menjadi seni pertunjukan populer bagi khalayak umum.

Saya menyimak, beberapa lontaran dan tanggapan beragam di  sebuah dinding medsos sejak tragedi angngaru dengan fatalnya sampai pada akhirnya tubuh yang merasa anti senjata tajam (kebal), namun di ujung keris itu darah bercucur, merubuhkan seorang pangngaru.  Kemudian saya teringat saat kami KOMPLEN (Komunitas Pakampong Tulen), di setiap agenda tahunan membuat giat kala itu temanya fokus pada  sifat, katakter dan fenomena angngaru selama ini kehilangan muruah.

Adalah Bapak Daeng Tutu salah satu pemantik diskusi kala itu. Dengan mengalir menjelaskan bagaimana sifat, etika, dan sakralnya angngaru itu. Mulai dari posisi, cara bertutur, hingga pada tiga unsur cappa (ujung) beliau jelaskan. Yang paling utama diterangkan  adalah cappa  badik. Bahwa selama ini, lanjut Daeng Tutu mengurai sejarah angngaru dalam versi Makassar kebanyakan keluar dari koridor sesungguhnya. Sambil menggerakkan penuh khidmat dan estetik, Daeng Tutu memperagakannya sambil menjelaskan setiap gerak makna yang terkandung pada aru.

Beliau melanjutkan. Bukan ritual atau adat yang turun temurun menjadi hambar hanya karena cara, tempat tidak disesuaikan. Misalnya acara pengantin dan beberapa seremonial lainnya. Dijelaskan tidak semua harus ada angngaru bahkan bergeser sudah seketika marak perhelatannya di acara pengantin. Itu sudah menyalahi tempat dan nilai sakral angngaru itu sendiri.  Kala itu pula, acara diskusi kampung budaya beliau buka dengan sastra tuturnya (sinrilik).

Bapak Tutu serta beberapa ulasan pemahaman yang mendasar.  Bahwa para pelaku lupa, atau entah sekadar entertain. Mencoba mengadopsi, menyosialisasikan budaya aru itu bukan asal dijadikan tolak ukur untuk perhelatan semata. Saya menggumam.

Kadang pula hendak berbincang kepada para pelaku, namun takut ada hal yang belum bisa mereka terima, menjadi kemerasaan yang tidak pantas. Saya urungkan.  Apatah lagi  menerima sebagai masukan saja dari beberapa unsur nilai, etika dan estetika saya takut  kebablasan.  Secara  dari segi proses lirihnya ucapan, sebagai tutur, ritmenya cukup lantang, hingga artikulasi tidak jelas, seolah begitu lantang tapi terkesan menentang, dan menantang.  Padahal di sana ada sastra  yang megah nan kuat mengikat , menjunjung tinggi menjadi kekuatan dalam satu hal dasar yaitu prinsip “sumpah tau barania“.  

Angngaru sependek saja saya tahu.  Sebuah loyalitas serta prinsip, idealisme.  Badik sebagai simbol  sakralnya, mengingatkan bahwa menjaga segala appasulapa. Bukan di acung-acungkan seenaknya, membuat tetamu merasa geram, keder, takut dan beberapa berkecamuk di pikiran dan mentalitasnya. Dan akhir-akhir ini, semakin ke sini, para pangngaru melakukannya.  Bagai debus, tetapi akhirnya banyak pula yang tembus.  Itu juga miris. 

Apakah itu elok, atau atas nama unsur seni?  Atau sekadar ingin menjadi ksatria dan sakti mandraguna?  Menikam-nikam diri, padahal seperti Daeng Tutu urai, bahwa di suku Bugis-Makassar menjaga segalanya yaitu, “Cappaka intu ammanraki puara. Cappa lila (lidah), cappa badik.” Jari katutui, jangan berlebihan.    Setidaknya bisa direlevankan, sesuai suasana, kebutuhan. Bukan asal seolah sakral saja. 

Kita kadang lupa, meski kita sudah merasa pelestari, namun seperti batang ilalang mudah digoyahkan angin musim. Berlagak berbudaya, tetapi kita masih butuh nutrisi, secara literasi, bukan mengeja semata, menghafal, merafal lalu menjadi riasan sekadar sensasi.  Ada budaya yang jauh dari kerindangannya, ada budaya yang kini papah. Sejarah budaya itu lahir dari sebuah ide, imajiner pikiran, tradisi bukan menjadi intimidasi, adat tidak juga harus hanya sepakat. Butuh sungai-sungai walau kecil, sebagai sumber mata air, atau minimal telaga. Agar rasa haus itu tidak lama larut dan cenderung merekayasa budaya itu sendiri.

Akhirnya cukup membuat kita prihatin saja. Tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena kita dan semuanya sudah terlanjur terjebak, dari setiap babak budaya,  peristiwa sejarah yang bagi saya perlu dibincangkan bukan dipertengkarkan.

 Sipatangarri, bukan saling iri, apatahlagi sipakasiri’-siri’. Atau beberapa simbol, istilah yang kental Makassarnya pula mulai merasa rabun. Terjungkal di tengah peran budaya dan pelaku, tidak sekadar pelaku, namun menerjemahkan, mewasiatkan, bahkan mewakafkan sebagai perangai dari etika budaya, membuadayakan budaya literasi itu sendiri.  Agar tidak lagi seolah pelengkap bahwa kita telah berbudaya. Padahal kita masih  ditipu dan menipu dayakan budaya itu sendiri.

Sambil bercengkrama, Danu menyentil. Melontar begitu saja. Sementara mereka masih suka saling mengkritisi, mengintimidasi bukan menjadi solusi. Saya terdiam takut yang lain merasa.  Lalu membombardir dengan sejuta sarapan serapah. Di dinding medsos mereka. Itu juga bagian tradisi baru kebudayaan manusia mengadu dan mengeluh, berujar dengan kadar yang minim kosa kata, yang ada hanya serapah. Padahal budaya selama digeluti dan dipapah. 

Agar tidak gegabah, tidak kapitu-pitu atau piti-piti. Sembari saya mencari referensi, literatur, supaya tidak asal bertutur bin ngelantur.   Sebagai asupan nutrisi dalam mengolah, me-refresh pola pikir biar tidak mangkir.  Mengalir sebagai telaga yang menyejukkan.  Wets. Danu mengerinyit lagi. Seolah menyindirku di tengah hamparan kebudayaan yang masih suka saling mempedaya. 

Kembali ke awal dari sesuatu yang viral, saat aru dimulai, dengan penuh semangat, menusuk-nusuk dengan ujung keris ke tubuhnya. Tetiba tersungkur, lemah terkulai tak berdaya ketika keris hendak disarungkan tubuh, dan  jiwanya lunglai. Peristiwa ini sudah banyak kejadian, padahal angngaru itu sendiri tidak sedemikian juga. 

Kalaulah sebagai bagian melestarikan itu boleh saja. Tetapi kalau hanya untuk semata menguji kesaktian di depan umum. Itu juga tidak elok. Dan pada akhirnya kita hanya pelaku, tidak mau mencari  tahu, bagaimana dan sisi mana kepantasan dalam seni, budaya, tradisi, dan sejarah (kisah, awal mula, cerita) angngaru itu hadir.  Setidaknya bagi kita semua sebagai tefleksi agar tidak gegabah dalam hal ini aspek tradisi, budaya. Tujuan kita sama luhurnya. Namun jangan abai sifatia dan pesan leluhur. 

Tidak ujuk-ujuk asal memerankan sebagai tubarania, padahal kita hanya “latah” sebab doktrin budaya yang selama ini juga teramat kaku, minim data dan fakta, atau sejarah tertulis sangat hampir tidak pernah terbukti. Lalu kita generasi pencatut dan penjiplak hanya tahu sedemikian kebiasaan sekian abad, sekian tahun, sekian episode peritstiwa kebudayaan itu tercipta dan diejawantahkan. 

Di sebuah laman di mana angngaru juga dianggap sebagai simbol dari karakter masyarakat Bugis-Makassar, yang dikenal dengan nilai keberanian dan kehormatan (siri’). Karakter-karakter ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga, yang menekankan pentingnya kehormatan dalam setiap aspek kehidupan. Lantas kecenderungan dalam pelestariannya jauh memenuhi syarat, makna filosofi yang terkandung di dalam ucapan, gerak, melangkah berucap. Acap kali abai pada sisi memahami isi naskah aru tersebut. 

Kemudian dilanjutkan bahwa, tidak hanya merawat warisan leluhur, tetapi juga menanamkan semangat keberanian, dan kehormatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang terjadi kini sudah melampaui kerindangan maknanya.  Angngaru sepertinya mencari bentuk lain agar lebih menarik katanya. 

Dari ritual menjadi kearifan lokal yang hidup dan terus berkembang, menjadi inspirasi bagi generasi, bukan dengan cara yang menggambarkan dengan membaca mantra, dengan gaya arogansi, serta narasi yang begitu epik nan apik, menjadi tidak menarik. Justru badik melengkapi sisi keranjingan manusia. Lupa pula filosofi badik sebagai benda semata, bukan menyandera kesakralannya yang justru membuat pelaku (pangngaru) merasa paling sakti, didogma ilmu kanuragan. Tanpa teknik, tanpa metode yang lebih bisa membuat pangngaru itu lebih  terlihat elok nan estetik. 

Danu tersenyum, namun saya tahu senyumannya kecut seperti dirinya yang masih juga pengecut. Raut wajahnya terlihat datar saat bincang terkait peristiwa tragis menimpa seseorang pangngaru menanggapinya santai tanpa merasa paling pintar bin sakti. Suaranya  lirih. Leluhur sepertinya kecewa! Baginya tradisi menjadi ajang audisi “kaporeang“( hendak dikata). Lupa bahwa ibarat permainan, butuh lebih jauh mengulik tanpa  mengusik dan merasa asyik. Namun berujung petaka jua akhirnya.  Sambil menyeruput kopi pagi di tengah perbincangan, serta komentar yang terlontar begitu saja. Bagai anak panah tanpa arah, serta cara membidik seperti ujung kidah dan badik dua sisi, jika tak bisa menjaganya. Maka kita sama-sama menelanjangi diri dan budaya kita sendiri.

Sumber gambar: Twitter/dg_to


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *