Category: Esai
-

Membincang Semesta Fatimah Az-Zahra
Ahad, 16 November 2025 di Gedung MULO, Makassar. Langit tampak bersih dan cerah, sejak pagi-siang, setelah sepekan terakhir hujan deras mengguyur Kota Makassar. Semesta mendukung kata orang. Karena akan membincang sesosok tokoh wanita agung dalam sejarah. Kegiatan yang berlangsung pada hari itu, bisa berjalan lancar tanpa terkendala cuaca. Meski sebenarnya semua juga tahu, kalau saat…
-

Mengulik Kembali Legenda Tunipelaka
Esai ini saya tulis sebagai refleksi pribadi terhadap kisah “Tunipelaka (Orang yang Terbuang)”, sebuah legenda yang saya tulis untuk mengenang keberanian perempuan-perempuan Sulawesi Selatan dalam melawan sunyi, adat, dan ketakutan. Bagi saya, kisah ini tidak berhenti di masa lalu, melainkan terus berdenyut dalam kehidupan perempuan masa kini yang masih mencari kebebasan dan makna. Setiap perempuan…
-

Menulis di Jalan Sunyi: Menjaga Obor di Tengah Badai
Menulis selalu saya bayangkan seperti berjalan di jalan sunyi dengan membawa obor kecil di tangan. Kadang anginnya terlalu kencang, badai datang tanpa permisi, dan langkah terasa goyah. Namun setiap kali obor itu hampir padam, ada suara halus dari dalam diri yang berbisik: ‘Siapa lagi yang bisa menjaga obor ini kalau bukan kamu?’ Dan di situlah…
-

Pemimpin tanpa Jabatan
“Jika semua orang mau menyapu halaman mereka sendiri, seluruh dunia ini akan bersih.” (Bunda Teresa) Dunia yang makin cepat dan kompetitif mengharuskan semua orang berlomba mengejar impian masing-masing. Realitas kehidupan sosial, mengharuskan kita memilih yang terbaik dari seluruh pilihan yang ada. Dengan demikian, keberhasilan orang diukur, sejauh mana memilih cara yang tepat meraih yang diimpikan.…
-

Sesat Pikir Pahlawan Nasional
Saya cantumkan kembali tulisan ini (Sejarah, Buku, dan Diktator) karena menurut saya memiliki irisan dengan penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional, Senin (10/11) kemarin. Momentum yang ganjil, saat memperingati hari Pahlawan Nasional, dengan mengangkat seorang koruptor a.k.a penjahat HAM sebagai bagian di antaranya. Ini seperti menyaksikan film dengan ending antiklimaks, atau menyaksikan plot twist di babak…
-

Kerajaan di Bawah Kaki Huadi (Bagian II): Republik di Dalam Karung Nikel
Ada yang berubah di Bantaeng. Udara tak lagi bau garam dari laut atau aroma jagung rebus dari warung pojok, tapi bau besi nikel yang sombong, bau yang katanya “tanda kemajuan”. Katanya, di sini akan lahir masa depan yang bercahaya. Tapi yang saya lihat justru masa depan sedang dipanggang di tungku pabrik milik PT. Huadi Nickel…
-

Literasi Kuat, Bantaeng Bangkit (?)
Apalah makna satu peristiwa bila tak direfleksikan. Hanya akan menjadi seonggok ingatan tanpa geliat. Peristiwa yang direfleksikan akan berpucuk pada perenungan kejadian. Lalu, hikmah menyata, sikap berubah, dan kesadaran membumi. Begitulah kiranya dengan hajatan Festival Literasi Bantaeng, dibentang helatannya oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantaeng, 23-25 Oktober 2025, bertempat di Perpusda Bantaeng, dibuka oleh…
-

Gegara Kata Budele
Sebelumnya, agar tidak piti-piti dan kapitu-pitu (asal dan ngawur). Supaya lebih terarah, agar tidak mengada-ada. Bagaimana seksi dan rupawannya serta asal-usul “budele“? Konteks budayanya? Yang sering jadi incaran, bahkan sengketa pada sebuah keluarga. Hingga berujung tragis. Sesama saudara “sikapallakki” (saling sikat), hanya gegara “budele“. Kata budele, memiliki beberapa versi pengertian. Ada yang memperkirakan berasal dari…
-

Ketika Pengadilan Memilih Membalik Fakta: Kasus Buruh Huadi dan Ancaman bagi Keadilan Ketenagakerjaan
Putusan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Makassar pada 3 November 2025, terhadap perkara PT Huadi Nickel Alloy Indonesia vs 20 buruh, bukan sekadar kekalahan satu kelompok pekerja. Putusan tersebut mencerminkan persoalan yang jauh lebih serius, bagaimana lembaga peradilan dapat dengan mudah mengabaikan bukti negara, data jam kerja, serta kesaksian ahli, lalu memutus berdasarkan konstruksi hukum yang…
-

Belajar dari Ombak dan Pasir Bonto Jai
Sebagai seorang relawan literasi yang sering berinteraksi dengan anak-anak di pesisir Desa Bonto Jai, saya menemukan pelajaran berharga tentang kehidupan dari cara mereka tumbuh dan beraktivitas. Di tempat yang mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang, di tepi laut dengan embusan angin asin dan debur ombak yang tak pernah henti, tersimpan kisah keteguhan, keceriaan, dan semangat…
