Category: Esai
-

Indonesia: Lagu yang Tidak Lagi Seirama
Cinta Indonesia sering kali hanya terdengar dalam lagu. Ia begitu merdu ketika dinyanyikan dalam lagu “Tanah Airku Tak Kulupakan”, tetapi segera sirna dalam kenyataan sehari-hari. Kita merasa menjadi bangsa yang kuat hanya ketika lagu “Hening Cipta” diperdengarkan, seolah-olah kekuatan bangsa hanya lahir dari peringatan atas kematian, bukan dari keadilan hidup yang seharusnya dibangun. Indonesia dikisahkan…
-

Tatanan yang Goyah oleh yang tak Terhitung
Pemerintah Pusat, baik eksekutif maupun legislatif, tampaknya telah sampai pada titik di mana mereka harus menatap cermin. Kerusuhan yang merebak di berbagai daerah bukan sekadar kebetulan. Ia adalah kulminasi dari kemarahan yang telah lama terpendam. Ia adalah gelombang yang sepertinya sulit dibendung, terutama setelah tewasnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, yang dilindas barakuda Brimob.…
-

Indo: Ibu Relasi untuk Literasi
Bertubi-tubi ucapan duka melayang buatmu, bagai rudal-rudal Iran menghantam Israel. Menyemut pelayat menyambangi mukimmu di pinggiran kota. Mengular kisanak-nyisanak mengantarkan jenazahmu ke peristirahatan terakhirmu. Bahkan, malam-malam takziyah atasmu, kursi-kursi padat terisi, walau tak semewah kursi anggota DPR. Paling tidak, itulah yang kusaksikan via layar datar ponselku. Mungkin berlebihan saya menggambarkan kepulanganmu pada keabadian. Walakin, untuk…
-

Ketika Polisi Menjaga Gedung, DPR Menjaga Kursi, dan Rakyat Menjaga Luka
Di jalanan ibu kota, pagar-pagar besi di depan Gedung DPR RI sering kali menjadi simbol jarak antara rakyat dengan para wakilnya. Sebuah batas yang seolah menegaskan: di dalam sana ada kekuasaan, di luar sini ada rakyat yang bersuara. Namun, sejarah menunjukkan, setiap kali pagar itu mulai bergoyang diterjang aspirasi, benteng pengganti segera muncul: aparat kepolisian.…
-

Salamat Jalan Perempuan Hebat
Seraya mencoba melerai dan mengurai, entah dari mana narasi ini saya mulai. Bukan tidak punya ide, bahan, dan diksi yang basi sekalipun. Terlalu banyak hal, peristiwa persemaian kita, walau tidak selama mereka jauh sebelum saya mengenalmu. Jika menuangkan semuanya, ini bukan lagi narasi berjuluk esai. Tapi bisa saja menjadi prosa dan cerpen, bahkan menjadi tulisan…
-

Demokrasi, Kopi, dan Perjalanan Pulang
Senin malam, 25 Agustus 2025, saya menerima telepon dari Pak Alimin DS, Pimpinan Redaksi Publikasionline.id yang juga Ketua JOIN Bantaeng. Dengan gaya bercandanya yang khas, beliau menyampaikan undangan untuk hadir di sebuah kegiatan Bawaslu Kabupaten Bantaeng. “Besok di Hotel Kirei, jangan sampai tidak datang,” ujarnya ringan namun penuh maksud. Saya iyakan tanpa pikir panjang. Keesokan…
-

Indra: Nama yang Kini Menjadi Doa
Indra, Bu Indrawati, atau kak Indo. Begitu kami biasa memanggilnya. Bukan sekadar seorang guru. Ia lebih seperti denyut kecil yang memberi irama pada setiap pertemuan, sesuatu yang tidak selalu kentara tetapi terasa bila tak ada. Saya masih ingat dengan jelas sore 10 Agustus tahun lalu, di lapangan Seruni. Senja turun perlahan, cahaya jingga menyapu halaman,…
-

Kebenaran, Kerendahan Hati, dan Masa Depan Pengetahuan
Sejarah pengetahuan manusia adalah kisah panjang tentang keberanian dan kerendahan hati. Keberanian untuk bertanya di tengah ketidakpastian, dan kerendahan hati untuk menerima bahwa setiap jawaban adalah langkah sementara menuju pemahaman yang lebih dalam. Namun, di tengah laju kemajuan teknologi dan kompleksitas sistem sosial, kita menghadapi bahaya baru: arogansi ilmiah—sebuah keyakinan berlebihan pada kelengkapan dan supremasi…
-

Divyannisa Isvara Gauri: Cahaya Kecil yang Menyalakan Perlawanan
Hari ini, 27 Agustus 2025, seorang anak perempuan berulang tahun ke lima di Bantaeng. Namanya Divyannisa Isvara Gauri. Nama yang kalau disebut, orang bisa mengira sedang membaca mantra dari kitab kuno: “perempuan suci yang bercahaya, penguasa seperti dewi Gauri.” Bukan main. Saya dan ibunya, Wahdat Mustika Wangi, memang sengaja memberi nama sebesar itu, supaya kelak…
-

Panggung Belajar di Era Media Sosial (Komodifikasi Murid, Pseudo-Pedagogi, dan Ironi Pendidikan)
Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan pribadi, setelah beberapa hari terakhir, saya menemukan sejumlah video kegiatan guru di platform TikTok, yang menampilkan murid-murid mereka dalam berbagai aktivitas. Ada yang bernyanyi bersama, berjoget mengikuti irama musik, bahkan saling menggoda dalam suasana yang dikemas seolah penuh keakraban. Sekilas, tayangan semacam ini tampak menyenangkan dan menghadirkan nuansa segar…
