Panggung Belajar di Era Media Sosial (Komodifikasi Murid, Pseudo-Pedagogi, dan Ironi Pendidikan)

Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan pribadi, setelah beberapa hari terakhir, saya menemukan sejumlah video kegiatan guru di platform TikTok, yang menampilkan murid-murid mereka dalam berbagai aktivitas.

Ada yang bernyanyi bersama, berjoget mengikuti irama musik, bahkan saling menggoda dalam suasana yang dikemas seolah penuh keakraban. Sekilas, tayangan semacam ini tampak menyenangkan dan menghadirkan nuansa segar dalam dunia pendidikan.

Namun, ketika ditilik lebih jauh, muncul pertanyaan reflektif: apakah ruang kelas hari ini memang telah berubah menjadi panggung hiburan semata demi mengejar popularitas di linimasa media sosial, ataukah fenomena itu merupakan bagian dari transformasi sosial yang tak terelakkan dalam dunia pendidikan kita?

Di ruang kelas modern, kamera ponsel guru sering kali mengambil peran yang lebih besar dibandingkan papan tulis atau buku pelajaran. Ring light, angle kamera terbaik, dan caption penuh jargon edukatif menjadi “peralatan tambahan” yang menandai hadirnya era baru: era di mana proses belajar tidak lagi berlangsung secara eksklusif di antara guru dan murid, melainkan disiarkan kepada publik luas.

Murid, tanpa banyak pilihan, kerap diposisikan sebagai “aktor figuran” dalam narasi besar yang dibangun oleh guru. Mereka hadir bukan sekadar untuk belajar, tetapi juga untuk menghidupkan cerita-cerita inspiratif, dramatis, bahkan menghibur yang kemudian dikonsumsi publik di media sosial.

Fenomena ini menyingkap logika komodifikasi pendidikan. Nilai belajar tidak lagi diukur  dari kedalaman pemahaman, keterampilan berpikir kritis, atau sikap yang terbentuk, melainkan ditransaksikan menjadi like, komentar, dan share.

Popularitas digital perlahan menjadi ukuran baru keberhasilan guru, bahkan kadang dianggap sebagai bukti kreativitas dalam mengajar. Padahal, logika ini sering kali menyingkirkan esensi pendidikan yang sesungguhnya: membentuk manusia seutuhnya dengan kesadaran, pengetahuan, dan karakter.

Ironi semakin tampak ketika apa yang ditampilkan di feed Instagram atau TikTok kerap jauh lebih manis daripada realitas yang terjadi sehari-hari di kelas. Dalam durasi satu menit video, guru terlihat sabar, penuh kasih, dan kreatif. Suasana kelas tampak hidup, hangat, bahkan “ideal.”

Akan tetapi, di balik layar, tak jarang proses pembelajaran masih dibayangi rutinitas birokratis, tekanan kurikulum, dan kebosanan yang tak pernah benar-benar terpecahkan. Di sinilah kita bertemu dengan apa yang saya sebut sebagai pseudo-pedagogi: sebuah kepalsuan pedagogis yang lebih mengutamakan citra dan pencitraan daripada praktik mendidik yang sebenarnya.

Pseudo-pedagogi lahir dari obsesi terhadap visualisasi dan viralitas. Alih-alih berfokus pada bagaimana murid memahami teks, mengasah logika, atau berani mengajukan pertanyaan kritis, energi guru justru habis untuk mengatur adegan, menyiapkan properti, dan menyesuaikan konten dengan algoritma media sosial.

Murid diperlakukan layaknya “konten kreator junior” yang tanpa sadar ikut melanggengkan budaya tontonan. Pendidikan pun kehilangan dimensi mendalamnya, tergeser oleh logika hiburan dan konsumsi cepat.

Namun, tentu saja fenomena ini tidak bisa kita pandang hitam-putih. Ada guru yang memang tulus menggunakan media sosial untuk berbagi inspirasi, membangun jejaring, bahkan memotivasi murid maupun sesama pendidik.

Konten edukatif yang dikelola dengan baik dapat membuka akses pembelajaran bagi publik luas, terutama di era digital yang serba cepat. Masalah muncul ketika batas antara edukasi dan hiburan menjadi kabur. Alih-alih menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bersama, media sosial justru mendorong lahirnya kompetisi citra: siapa guru yang lebih lucu, lebih kreatif, lebih viral.

Di titik inilah, pendidikan berhadapan dengan ironi. Ruang kelas yang seharusnya menjadi arena dialog kritis justru bertransformasi menjadi panggung hiburan digital. Murid yang seharusnya menjadi subjek pembelajaran berubah menjadi objek tontonan. Guru yang seharusnya menjadi fasilitator pengetahuan terjebak dalam peran sutradara konten. Pertanyaannya, ke manakah arah pendidikan kita jika fenomena ini terus dibiarkan berkembang tanpa refleksi mendalam?

Pendidikan sejatinya tidak hanya berbicara tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter, kesadaran kritis, dan keterampilan hidup. Nilai-nilai ini sulit diwujudkan jika proses belajar lebih banyak dihabiskan untuk mengejar viralitas. Kita membutuhkan guru yang tidak hanya piawai menciptakan konten menarik, tetapi juga konsisten menumbuhkan semangat belajar murid, membangun budaya literasi, dan melatih kepekaan sosial mereka.

Pada akhirnya, media sosial memang hadir sebagai keniscayaan zaman. Kita tidak bisa menolaknya begitu saja. Akan tetapi, tugas besar kita adalah menjaga agar pendidikan tidak terjerumus dalam jebakan komodifikasi dan pseudo-pedagogi.

Guru perlu menegaskan kembali posisi ruang kelas sebagai ruang otentik bagi tumbuhnya pengetahuan dan kepribadian, bukan sekadar studio produksi konten. Murid pun harus dilibatkan sebagai subjek aktif, bukan hanya figuran yang tampil demi kebutuhan visual.

Refleksi ini bukan untuk menyalahkan guru-guru yang kreatif menggunakan media sosial. Sebaliknya, ia menjadi ajakan untuk menata ulang orientasi kita: bagaimana menjadikan teknologi sebagai alat bantu, bukan tujuan utama; bagaimana menjadikan media sosial sebagai ruang berbagi, bukan ruang pencitraan; bagaimana menghadirkan pendidikan yang lebih jujur, otentik, dan membebaskan.

Jika pendidikan kembali ditempatkan pada tujuan hakikinya yakni membentuk manusia yang sadar, kritis, dan berdaya maka media sosial akan menemukan posisinya yang proporsional: sebagai pendukung, bukan pengendali. Dengan begitu, ruang kelas tidak lagi terjebak menjadi panggung semu, tetapi tetap menjadi laboratorium kehidupan yang sejati. Wallahu alam bisawab.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *