Indo: Ibu Relasi untuk Literasi

Bertubi-tubi ucapan duka melayang buatmu, bagai rudal-rudal Iran menghantam Israel. Menyemut pelayat menyambangi mukimmu di pinggiran kota. Mengular kisanak-nyisanak mengantarkan jenazahmu ke peristirahatan terakhirmu. Bahkan, malam-malam takziyah atasmu, kursi-kursi padat terisi, walau tak semewah kursi anggota DPR. Paling tidak, itulah yang kusaksikan via layar datar ponselku.

Mungkin berlebihan saya menggambarkan kepulanganmu pada keabadian. Walakin, untuk ukuran sebuah negeri-kampung, kalimat-kalimatku benar adanya. Waima, aku sendiri tidak menyata, baik di mukimmu maupun di makammu.  

Tak elok aku mengemukakan segenggam alasan tak menyata. Sebab, kelemahanku masih seperti sediakala, belum bisa berada di dua tempat dalam waktu yang sama. Meski pikiran dan hatiku, tetap kuupayakan membersamai kepergianmu pada keabadian. Urita wafatmu pada 25 Agustus 2025, kembali memahatkan kepastian Ilahi, bahwa kita semua akan bermuara pada-Nya.

Indrawati binti Sampara, lebih akrab disapa Indra. Namun, bagi yang lebih intim lebih suka memanggil Indo. Termasuk aku, amat sering memanggil Indo. Pasalnya, engkau yang lahir pada 20 Juni 1986, sangat menonjol laku indo’-mu. Indo’ dalam bahasa Bugis-Makassar, bermakna ibu. Dan, bagi yang berinteraksi denganmu di komunitas, lebih merasakan sentuhan ke-indo’-anmu, sebagai ibu bagi anak-anak komunitas. Plus murid-muridmu di sekolah, beserta adik-adikmu di pramuka.

Paling tidak ada tiga kalangan kehilangan atas wafatmu, selain keluarga besarmu. Pertama, kalangan guru. Engkaulah guru sejati, bagai pelita dalam kegelapan. Bertahun-tahun selaku guru honorer, lalu terangkat menjadi guru P3K. Kalakian, ikut menjadi guru terdepan di kalangan Guru Penggerak, khususnya di Komunitas Guru Belajar Nusantara.

Pendakuan Usman Djabbar Mappisona, selaku Kabid Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bantaeng dan mantan Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara, cukup merepresentasikan sosokmu sebagai guru inspiratif.

Usman memahatkan kata hatinya, bahwa Bu Indrawati atau Kak Indo, begitu kami memanggilnya, bukan sekadar seorang guru. Ia lebih seperti denyut kecil yang memberi irama pada setiap pertemuan, tak selalu kentara, tetapi terasa bila tiada. Bukan sekadar guru penggerak, Indo adalah guru yang sungguh-sungguh hadir untuk murid, rekan, dan siapa pun yang berjalan bersamanya.

Lebih khusyuk Usman menegaskan, kehadiran Indo terasa dalam hal-hal kecil: cara ia mendengarkan tanpa memotong, cara ia memberi dorongan tanpa menggurui, cara ia menertawakan kesulitan sehingga beban terasa ringan. Indo tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana menjadi manusia yang sederhana sekaligus berdaya.

Bagi Usman, Indo bukan pemimpin yang memerintah dari atas, melainkan dari tengah, dengan tubuh yang ikut berlari, dengan keringat yang sama-sama jatuh ke tanah. Dalam sosok itu kami menemukan sesuatu yang jarang hadir: kepastian yang tidak memaksa, otoritas yang tidak menindas, dan karisma yang tumbuh bukan karena posisi, melainkan karena hati yang tulus menjaga.

Kedua, jagat Pramuka Bantaeng. Nurdin Halim, sebagai Ketua Harian Kwarcab Pramuka Bantaeng, bersaksi bahwa Indrawati yang biasa kami sapa dengan kakak Indo, serupa srikandi muda yang bermulti talenta. Cerdas, terampil, dan beradab.

Khususnya dalam organisasi kepramukaan di Kwartir Cabang Pramuka Bantaeng, Kakak Indo nyaris menjadi pramuka yang paripurna. Sebab, dalam jenjang kaderisasi kepelatihan tersisa KPL (Kursus Pelatih Lanjutan) yang belum diikutinya. KMD (Kursus Mahir Dasar) dan KML (Kursus Mahir Lanjutan) sebagai syarat pembina dan pelatih telah dilaluinya.

Menurut Nurdin, secara struktural organisasi kepramukaan Kwarcab, Indo cukup teruji dengan amanah yang diembannya. Ketua Dewan Kerja Cabang (DKC), Bendahara Kwarcab, dan Andalan Cabang. Pembina di Gugus Depan dan pelatih dalam kursus-kursus pelatihan pembina pramuka. Dari gambaran itu, maka kakak Indo adalah aset SDM Pramuka yang teramat berharga dan mahal.

Ketiga komunitas literasi. Selaku pegiat literasi, aku ingin mendedahkan kesaksianku dalam jejaring literasi. Aku mengenal Indo, sewaktu aku diminta oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantaeng, via ketuanya, Hamzar Hamna, periode 2018-2023, agar membantu mengawal Relawan Demokrasi (Relasi) KPU Bantaeng, guna memantapkan kapasitas literasinya. Sebab, ada proyek literasi untuk Relasi, mereka akan diminta menulis pengalaman kerelawanannya, lalu diterbitkan menjadi buku.

Pertemuan pun dirancang. Tiga kali tatap muka formal, selebihnya pendampingan masing-masing relawan, tak mengenal waktu lagi. Nah, ada 55 relawan dan Indo didapuk sebagai Koordinator Relasi. Ada yang menarik sewaktu Indo ditunjuk, ia membeberkan perasaannnya, “Saya diberikan amanah menjadi seorang koordinator, bagi saya adalah ujian. Amanah ini saya harus pertanggungjawabkan dengan bismillahirahmaanirrahiim.”

Indo menjadi Koordinator Relasi, benar-benar menunjukkan kualitas kepemimpinannya. Selain menunaikan amanah selaku Relasi KPU Bantaeng dengan seabrek aktivitasnya selama tiga bulan, juga terkait bagaimana tulisan para Relasi itu dikonsolidasikan, agar tujuan melahirkan sebuah buku bisa menyata.

Dari interaksi bolak-balik Relasi dan literasi inilah membuahkan satu buah buku berjudul, Dari Relasi ke Literasi (2019). Bagiku, selaku editor, kehadiran buku ini, setidaknya bermuara pada dua harapan. Pertama, bagi para Relasi selaku penulis, dapat mengantar pada cara berbahagia yang mudah dan murah. Kedua, kehadirannya akan ikut menguatkan gerakan literasi di Bantaeng.

Amat elok bila saya sertakan penabalan seorang Hamzar, sebagaimana dituangkan dalam pengantarnya, “Rasa haru dan bangga ini lebih lengkap, ketika setiap personil dari Relasi, mampu mempersembahkan tulisan yang sangat menarik dalam bentuk buku, Dari Relasi ke Literasi. Hal ini lebih mengukuhkan bahwa Bantaeng sedang berproses menuju “Kabupaten Literasi”.

Sewaktu buku ini terbit, Ilham Azikin, selaku Bupati Bantaeng, bukan saja hadir membedah buku di pelataran Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Lamalaka, Bantaeng. Ilham pun berwakaf secarik pengantar, pucuknya Ilham menulis, Relasi telah menempatkan dirinya di tempat yang paling tinggi, paling bergengsi. Sejatinya, praktik baik ini tidak boleh terputus. Pengalaman yang ditulis para relawan, pada waktunya akan menjadi pengetahuan baru yang tak pernah usai, terus bertaut dari generasi ke generasi berikutnya. Begitulah waktu menjaga keabadiannya.

Walhasil, buku Dari Relasi ke Literasi ini, telah menjadi cendramata, tanda pikir dan alamat rasa bagi KPU Bantaeng. Sebab, buku ini selalu menjadi oleh-oleh, tatkala KPU Bantaeng dikunjungi atau mengunjungi relasinya. Sependek pengetahuanku, buku ini merupakan satu-satunya buku yang merekam aktivitas Relasi KPU di Indonesia, ditulis oleh para Relasi.

Eloknya lagi, buku Dari Relasi ke Literasi, menginspirasi lahirnya buku kerelawanan lainnya. Dinas Kesehatan Bantaeng, ikut mengonsolidasikan relawannya, para kader kesehatan, agar berbuat serupa, menuliskan pengalamannya. Lahirlah dua buku, Kader Promkes untuk Literasi Kesehatan (2021)dan Kader Gizi untuk Literasi Kesehatan (2022).

Oh nyaris lupa, maklum aku sudah tak muda lagi, Indo telah menjadi bagian dari Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Indo telah ikut “Kelas Menulis Esai”, sembari tetap merawat Relasi purna tugasnya para relawan. Bahkan, aura cara hidup berkomunitas ala Boetta Ilmoe memvirusinya, sehingga Relasi bertahan menjadi satu komunitas silaturrahmi.

Pentolan Relasi tetap berkumpul, sebentuk komunitas saling memelihara kebersamaan, lewat peristiwa demi peristiwa. Semisal, ada Relasi yang menikah, melahirkan, khitanan anak, buka puasa bersama, kala ada yang sakit, dan berduka. Puncaknya, di hadapan pusara Indo, beberapa jebolan Relasi, membantinkan diri masing-masing. Relasi kehilangan Indo, tetapi sang indo’ mewariskan anak rohani bersama: buku

 Ala kulli hal, atas setiap keadaan, tiada mengapa bila saya tabalkan, Indo telah menjadi indo’ (ibu) dari Relasi, dalam melahirkan buku Dari Relasi ke Literasi. KPU Bantaeng selaku ayahnya. Dan, aku sebagai dukunnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *