Author: Dion Syaif Saen
-

Jejak Air Mata Leluhur
Atas nama buyut dan cicit nan luhur, ada yang semesta mempertautkan sekian puluh tahun sanak terpisah. Kini, sepertinya akan assiama kembali bagai sediakala. Para ayah, kakek kita masing-masing membangun silaturahmi yang kuat. Kukutip dari sebuah laman, tentang mutiara dan air mata. Sebagai pembuka narasi sederhana ini, bahwa di dasar laut yang dalam, terdapat sebuah kisah…
-

Mengelola Kegagalan
Sukses itu dari sebuah kegagalan, katanya! “Itu hanya sugesti saja, sekadar penyemangat,” ujar Petong menggebuki dirinya sendiri, yang tidak percaya terhadap angan-angan para motivator yang menumpang jadi “aktor”. Danu berusaha menenangkan Petong, “Teako Rangga selai, risesena tallasaka. Tea tongkol tappu pangrannuangngi mange iya niaka angngatoroki sikuntu kajarianga ri tompo lino-Na. Sikuntu iya napa’jaria ri Kun-faya…
-

Fandi dan Profesinya sebagai Desainer Grafis
Merancang idea, menerapkannya di antara imaji, terkadang menyeka peluh menarik sebuah garis, atau sketsa, tanpa harus berani merekayasa sebuah karya. Fandi menekuni dengan belajar melayani dirinya sendiri, sebelum karyanya di-publish bukan juga untuk numpang populis. Menjadi seorang desainer grafis saat ini bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan seiring perkembangan teknologi. Dulunya saya seorang perupa, di mana…
-

Seekor Ayam untuk Argan dan Nurul Lamung
Tetiba seorang ibu menenteng seekor ayam sambil senyum-senyum masuk ke rumah saya. Berpikir mungkin suruh potong seperti biasa di rumah. Kadang memang orang-orang suruh potong ayam sama Tata’ (ayah). Saya kecele. Karena ayam tersebut adalah sebuah pemberian dari H. Ramlan Lamung yang mendirikan musholla bernama Nurul Lamung di sebuah kampung bernama Lembang-Lembang. Konon penamaan musala…
-

Tata’ dan Uwa’: Sebuah Identitas?
Seketika saya menyusuri lorong waktu, seiring proses pencarian saya, sekian lama seribu tanya dan andai. Dengan dekil saya menyembunyikan identitas saya sesungguhnya. Ya, saat berinteraksi sekian lama. Ada hal terjaga agar tidak gegabah, lantas hampir menyerah saat kata Uwa’ itu disinyalir oleh beberapa orang sebagai strata sosial (terbawah). Saya mulai menyadari untuk merendah, walau hendak…
-

Ruang Alonica II
Jumat siang, awan tebal di langit sepertinya akan menumpahkan sejuta butir air. Saya bergegas melaju, ke tempat yang sudah lama saya rencanakan, rindu menyeruput kopi gula aren yang lezat di sebuah cafe bernama Alonica. Serta beberapa menu lain yang juga tak kalah lezatnya, sila merasakan sensasi itu. Cukup recommended untuk dinikmati. Ditambah juga sisi ruangan…
-

Menghapus Kenangan Pahit?
“Aku percaya semua orang terlibat dalam hidupku akan mengkhianati. Aku percaya akan hal itu, meski mereka akan menyangkalnya,” Ungkap Mike Tyson. Sebuah pembuka yang menghentak. Saya mencoba mengalir hingga ke hilir, sambil belajar mengukir kembali. Katanya sekelompok ilmuwan baru-baru ini berhasil menemukan pendekatan baru untuk membantu menghapus kenangan buruk. Bagaimana caranya?Dalam sebuah eksperimen yang berlangsung…
-

Antagonis dan Protagonis Sebuah Lakon
Setiap peristiwa, sebagaimana peran yang dijalankan, sebagai pelengkap cerita. Ada sifat, karakter bagi setiap manusia, ada keluar dari cirinya, ada keduanya ia mainkan. Melengkapi kurikulum dunia, manusia dan kehidupan setiap saat, setiap masa bahkan detik. Semua merasa benar dan baik menurut lakon “protagonis dan antagonis”. Secara murni dan jujur memerankan. Maka harus totalitas, profesional. Meski…
-

Ruang Adaptasi, Persepsi, dan Refleksi
Atau saya kadang kurang jeli melihat secara presisi. Cenderung kesusu. Terbuai, tercederai, terlena, terselip, terpental dengan mental ciut. Pada setiap usaha beradaptasi. Terlalu jujur dalam kebohongan mungkin, atau sebaliknya?Harus mencoba mengubah pola adaptasi, dengan tidak berlebihan lagi, pura gagap dan tidak harus larut menerima guyup. Adaptasi mulai saya batasi. Karena penyakit saya cepat jenuh tatkala…
-

Runut
Bukan tafakur, tetapi bisa saja tetiba saya mendengkur, di tengah temperatur dunia dan manusia yang masih suka sekonyong-konyong. Tidak jua merenungi nasib, sambil merasa bertaubat. Padahal masih sering saya lakukan peran muslihat di antara kerumunan manusia. Secara berkelompok atau secara individu, saya bangun identitas itu. Untuk mengajak manusia lain menerjemahkan lalu menjadi pengakuan. Bukan juga…
