Sahwa: Si Mungil Berprestasi

Mungil tidak lantas sepintas secara fisik orang melihat. Tanpa mendengar suaranya nan lantang, bagai gemuruh yang menghentikan zaman yang rusuh.  Ditambah karakter kuat, saat memerankan sebuah persona, tanpa berjingkrak, tanpa harus berlebihan percaya diri. Namun, mampu memahami isi naskah dongeng, mengalir, memainkan setiap peran dalam cerita naskah yang dia bawakan.

Sosok guru honorer, bernama Dahniar atau Ustazah Niar, sering kudengar muridnya menyapanya.  Dengan menyeleksi sekian siswa berbakat, dan  menemukan seorang anak yang memiliki  potensi  bernama Sahwa, buah cinta yang lahir sebagai anak pertama dua  bersaudara, dari  pasangan sosok ibu  bernama Utari Nur Insani dan seorang Ayah bernama Syahrul. Sebagai buah kasih-Nya diamanahkan anak berbakat membanggakan kepada keduanya. Patutlah bangga, bahagia penuh keharuan.

Tidak seperti anak lainnya, teruji secara mental, dari seleksi di sekolah, tingkat gugus, kemudian ke Kabupaten mampu melampui itu. Sampai di tingkat provinsi berkompetisi dari sekian banyak perwakilan anak-anak dari  daerahnya  yang juga punya kemampuan di atas rata-rata.  Sahwa dengan prosesnya selama ini, memahami, bukan sebatas  menghafal naskah, tetapi memahami, serta berlatih, menangkap isi, ide, dan alur cerita dalam naskah dongeng. Pada akhirnya  tampil di atas pentas secara maksimal, menyuguhkan yang terbaik. Walhasil dari sekian banyak penampil, Sahwa mampu membuat Juri terbawa suasana, hening seketika.  Sahwa meraihnya sebagai juara satu lomba dongeng Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI)  mengangkat judul kisah “Jonga sanna rewana, surang poko-poko erasa” di tingkat provinsi tahun ini.

Ini menambah catatan sejarah kembali untuk Bantaeng, beberapa kali menjadi juara umum pada  event FTBI yang menjadi program tahunan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan. Mulai dari tingkat gugus, lanjut ke tingkat kabupaten, lalu mewakili daerah masing-masing di provinsi.

Meski sederet prestasi dari sekian generasi kita yang kini minim apresiasi. Lalu membiarkan bakatnya tersandera dan harapannya terbuang di tepi zamannya.

Adalah kebanggaan untuk kita semua, mempersembahkan kembali, bertaruh bukan lagi mewakili sekolahnya. Namun, mewakili tanah penuh petuah, Bantaeng.  Sungguh menambah prestasi, dan membuat kita semua terbawa suasana euforia. Lalu, kelak menemukan kembali Sahwa yang lain yang punya talenta yang mengharumkan nama daerah dan sekolah. Lalu membawanya pulang ke rumah membuat keluarga menyambutnya penuh kebanggan.

Perlu tentunya dijadikan tolak ukur pada sebuah kultur, bukan terjerat pada nomenkelatur yang juga sering ngawur, dengan memberi ruang ekpresi, mengawalnya sampai  ke jenjang pendidikan selanjutnya, sesuai bakat, minat, mengeksplorasi segala talentanya. Bukan hanya sehelai kertas tertera  namanya (piagam). Namun, bagaimana mengawal dan menemukan jalan untuknya menuju prestasi jauh lebih mumpuni. Bukan sekadar seremonial saja, atau alasan nominal yang  menjadi alasan nan klasik. Saya cukup terusik persoalan menyangkut generasi dan segudang prestasi minim kepekaan.

Ya, hanya sebatas tepukan. Pertanyaannya apa kita pura-pura tahu, atau kadang kita tidak pernah mau tahu, bagaimana proses meraihnya? Kesemuanya butuh waktu, antara lelah saat pagi mata pelajaran menghantuinya. Hingga saat sesi latihan. Semua dilaluinya. Bahkan mungkin pernah merasakan titik jenuh, dan bahkan mungkin ingin meronta, dalam tangis dia mencoba kuat. Demi nama baik sekolah dan memenuhi harapan mereka. Di sanalah seorang pembina/pelatih (guru) yang menemukan bakat, mengabdi tanpa pamrih, atas nama tugas, amanah dititahkan kepadanya, tidaklah  mudah dalam menghadapi anak didik.

Di balik semua itu, ada manajemen dan kebijakan yang terjalin sinergis, antara pihak kepala sekolah dan guru.  Terbukti setiap event lomba selalu hadir menyuguhkan yang terbaik dari hasil seleksi latihan ekstra.  Dengan segala kesabaran menjalani profesinya sebagai guru yang masih honorer. Dahniar menjalaninya dengan penuh kesabaran lalu berbuah manis, menjawab dengan  menghasilkan karya, terbukti dengan hadirnya di sekolah tersebut, SD Negeri 5 Lembang Cina mampu mengharumkan nama sekolah dengan beberapa kali meraih prestasi dalam bidang seni. 

Ustazah Dahniar memulai pengabdiannya sejak di TK, mengabdi tahun 2014 sampai 2017. Lanjut ke SD 5 Sebagai Guru Honor PAI 2017 hingga sekarang. Di STAI AL GAZALI Bulukumba dia menempah ilmu pada jurusan Pendidikan Agama Islam. Namun talentanya cukup mumpuni di bidang seni peran. Selain mengajar di sekolah, dia juga membuka Taman Pengajian Alqur’an di rumahnya. Sebagai generasi cucu penerus dari dulu keluarga telah menjadi titisan leluhur dari kakek, sampai dia terpilih sebagai cucu untuk mengabdi sebagai guru mengaji.  Semoga mimpi dan segala citanya segera menjadi tenaga guru yang dilengkapi statusnya menjadi ASN.

Saya menyusuri sisi lain pola pembinaan yang menjadi kurikulum yang tidak semata program belaka, atau bagaimana Merdeka Belajar itu terejawantah? Atau seharusnya kita baru belajar merdeka untuk meraih dan menerima sistem  pendidikan tanpa seabrek dan seribet seperti keluhan banyak guru? Hem

Lalu kemudian saya terdiam menikmati, menyimak. Saya pun sepakat pada sebuah ulasan tentang bagaimana tumbuh kembang dan minat serta bakat terhadap anak bisa berjalan sesuai. Bukan hanya hadir memenuhi kolom laporan administratif, dan secara terpaksa guru melengkapinya.

Di sebuah laman, diurai bahwa usia dini merupakan masa yang paling penting bagi seorang anak untuk mendapatkan stimulasi yang tepat agar proses pendewasaan anak (Pratisti, 2008:56). Dilihat dari sudut pandang tersebut, semua kegiatan yang merangsang tumbuh kembang anak secara optimal membutuhkan kegiatan yang sangat kreatif agar anak dapat mengolah ide kreatif menjadi karya.

Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru dan orisinal, serta hubungan unik antara ide-ide yang ada. Kemampuan kreatif ini sangat penting dalam masa depan seorang anak, karena ia harus dapat menemukan solusi yang kreatif untuk masalah dan menemukan cara untuk mencapai tujuannya.

Bakat kreatif sebenarnya dimiliki oleh setiap anak, tapi pada kenyataannya setiap anak memiliki kreativitas yang berbeda-beda. Mengembangkan kreativitas anak dapat dilakukan dengan cara menghargai kreativitas anak,  tingkat kreativitasnya, memberikan dukungan tanpa banyak memberikan pengarahan tetapi memberikan pujian dan memberikan lingkungan yang kreatif. (Utami Munandar 2009:19).

Melatih kecerdasan  kognitif, imajinasi serta  kecakapan hidup yang mencakup nilai-nilai yang tunas. Meraih mimpinya. Digenggam erat dan kelak dunia akan mengakui. Jangan mudah goyah karena pujian, masih banyak setapak zaman pada  sungai-sungai dan sabana pengetahuan. Lalu  kau temui dengan segala rintangan. 

Jangan berhenti belajar dan berlatih. Percakapan saya dengannya sekadar menyapa, ketika jeda istirahat di  sekolahnya, tanpa diduga pertemuan saya dengannya. Saya mengabadikan sebuah moment bersamanya, memintanya foto bersama dengan Sahwa, sebagai kenangan bahwa pernah ada ruang interaksi walau sedetik.  Saya pamit, dan Sahwa melangkah riang ke kelasnya.

Sahwa hanya salah satu anak generasi yang berprestasi,  begitu pula sekian  prestasi anak-anak lain Bantaeng yang ditorehkan sesuai bidang pengetahuannya. Seraya bagai iming-iming jauh tak bergeming menghampiri. Apatahlagi menghantarkannya ke gerbang impian anak berprestasi, mereka disuguhi dengan hanya sebuah fantasi.


Comments

2 responses to “Sahwa: Si Mungil Berprestasi”

  1. Hj. Nursiah, S. Pd. SD Avatar
    Hj. Nursiah, S. Pd. SD

    Mantap, semoga prestasi2 yg tertoreh tiap tahun dpt menjadi inspirasi untuk lebih mendalami lagi karakter2 yg masih perlu diasah.
    Selamat mengabdi…
    Semoga Ustadzah Dahniar menjadi guru yg tetap jadi perhatian buat pemerintah agar statusnya bisa berubah di tahun 2025…🤲🤲🤲

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Amin. Alllahumma amin. Atas izin semesta dan segala ketulusan maka semua akan terijabah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *