Author: Dion Syaif Saen

  • Monolog

    Monolog

    Adegan demi adegan.  Danu memainkan satu tabiat tidak secara kasat, bahkan dengan mata nanar, berbinar-binar sekalian. Wajah manis dan menawan. Sesaat kemudian, kita terlena saat mengurai kata menaruh harapan, bukan menghamparkan semata slogan. Di sudut kerling dan pasang mata menanti kejutan. Tetiba menjadi bualan. Orang–orang main  ketapel dan seribu “stempel”.  Emm! Punya jurus dan rumus…

  • Abu-Abu Dua Mata Pisau

    Abu-Abu Dua Mata Pisau

    Mereka belum rabun, tetapi mengapa  masih gagap mengenali warna.  Karena berburu lencana menaiki kencana, sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Namun, lamat-lamat melumat secara muslihat. Itu juga bagian keranjingan yang perlu di-“eksplore“. Lupa kemarin senja tertuduh bermesraan dengan  laut biru, menyedapkan rasa, jiwa. Senja tertuduh! Terbungkam hitam pekat (pertanda malam). Saya menemui seorang Dudung malam itu. Di celah…

  • Cinta dan Kemanusiaan

    Cinta dan Kemanusiaan

    Jauh di lubuk hati, Bisma sebenarnya juga jatuh hati pada Amba. Tapi ia ingat sumpah selibatnya. Meski ditolak, Amba tak menyerah. Ia mengikuti Bisma ke mana pun pergi. Tanpa bosan, Amba terus meminta Bisma untuk menikahinya hingga suatu kejadiaan nahas. Bisma yang berniat menakut-nakuti Amba dengan anak panah, tanpa sengaja melepaskan anak panah hingga mengenai…

  • Hadap Diri

    Hadap Diri

    Bagai cermin pecah seribu, saat perawakan mulai punah, dan kecamuk yang diaduk-aduk lalu remuk, menjadi remah-remah, lalu manusia dengan mudah meremehkan.Dinamika dari bekas koyak dan tombak kisah perjalanan hidup setiap manusia untuk tidak gegabah, atau memaksakan yang berujung petaka kedirian yang masih suka berkedok. Wow menohok. Menakar, menukar nalar.  Ada yang mulai tidak ramah. Khilaf…

  • Jemput dan Ciptakan Masalah

    Jemput dan Ciptakan Masalah

    “Adalah sebuah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.” Ah, Itu sudah umum dalam kita mendefenisikannya. Namun ada filosofi lain yang menandai, mengurai sebuah masalah dengan menciptakan masalah! Sepucuk surat Umbu layangkan, sebuah hamparan sabana dari tanah Sumba menghampar pada radar kehidupan yang ditimpuki masalah. Akan menjadi binasa, tanpa harus mengemas dengan teliti, sigap, dan siaga. Lalu…

  • Pesona

    Pesona

    Saat rilis awal, betapa manis dibumbuhi penuh jimat, mantra sakti mandraguna. Beberapa reaksi penuh harapan, menggugah.Tetiba menggugat. Ada tercekat, terpikat, ada terdiam kalabangngaang (kaget, terhentak tak menyangka). Masih kusimak permainan hompimpa alaium gambreng saling mengutuk.  Ada yang berwasiat, dan pula bermuslihat. Pesona ditabuh bertalu-talu. Tetiba si Petong hadir di tengah pergulatan adu kesaktian. Mereka yang…

  • Hompimpa Alaium Gambreng

    Hompimpa Alaium Gambreng

    Kalimat Hompimpa Alaium Gambreng dalam bahasa Sansekerta memiliki arti, Dari Tuhan kembali ke Tuhan. Kalimat ini sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha di awal abad ke-5. Filosofi di balik kalimat Hompimpa Alaium Gambreng diyakini sebagai upaya leluhur, untuk mengajarkan anak-anak tentang mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan hompimpa sebagai bagian dari permainan…

  • Asmara dan Amarah

    Asmara dan Amarah

    Rasa itu menjelma menjadi ornamen dari setiap momen. Setiap jiwa dilengkapi cara bersikap dan bertaruh. Ada geliat, ada getar menyelinap  melewati  nadi-nadi,  dan menembus hingga ke sebuah hulu. Tempat bersemayam sebuah rahasia. Teringat kisah Rahwana antara amarah meluapkan dendam kematian adiknya di tangan Rama. Dan rasa cinta kepada Sinta yang membuatnya mengubah segala perangai yang…

  • Di Ruang Alonica

    Di Ruang Alonica

    Sore dengan kopi gula aren, serta beberapa pilihan menu lainnya. Sila dicoba . Sebuah nama cafe  yang membuat saya  penasasan. Andien sang pemilik kafe dengan usia masih muda, mampu menerobos kafe di tengah menjamurnya kafe, serta begitu  ketatnya persaingan. Sambil kuseruput kopinya. Dan menemukan siapa sesungguhnya Alonica? Ternyata terinspirasi dari sebuah  judul lagu, dari sebuah…

  • Lawan yang Jujur

    Lawan yang Jujur

    Hidup tanpa cinta bagai taman tanpa bunga. Hidup hanya berkawan tanpa lawan, bagai tanpa penyedap, hambarlah rasa. Dinamika tak elok, suasana hanya kita merasa baik dan bahkan paling benar. Butuh lawan untuk pengakuan yang jauh lebih jujur. Kadang kala melepas yang berkenaan cara kita yang sering  keliru. Atau terlalu fanatik. Padahal itu adalah pemantik yang…