Teras Literasi

Seduhan dan racikan kopi, pisang goreng renyah, seraya mengulang secara klasik di titimangsa, yang lebih mendapati diri masing-masing dengan penuh keteduhan. Bukan kemudian menjadi tabiat baru, meski ada yang rese, pun juga berada pada dimensi merasakan bertautnya jiwa-jiwa, bersemi  tidak harus sesegera pergi begitu saja.

Begitu melekat tapi tidak merasa paling memikat, menjaga untuk tidak saling sikat. Sebagaimana fenomena sekarang. Terlihat saling mengikat dan penuh muslihat. 

Saling melengkapi segala kekurangan. Mengakui setiap kelebihan. Menerima supaya tidak menjadi gulma yang kemudian hari akan saling memamah.  Eling Ahar tidak oleng, dan melihat, membaca minimal belajar menoleh, membaca sejarah.  Agar tidak terjebak lagi.

Bento dengan peralatan, telah siaga lalu  meracik kopi. Sesekali petikan manis gitar akustiknya.  Dirhas menikmati suasana, bagai reinkarnasi di ruang sama, namun suasana pemuh khidmat, adem katanya. Sembari juga sesekali memantik serunai dengan nyanyian baladanya. 

Nehru seperti biasa dengan candaannya. Namun, kelezatan  suguhan pisang goreng yang dibawa Amri.   Aliando dengan senyuman khasnya, tidak lagi seperti dulu, pemalu. Ia mampu beradaptasi seperti yang lain. Echa menikmati pula seperti biasa jika berada di teras.  Tidak lupa mengambil momen dengan mengabadikan sesuatu yang melengkapi kemerasaan setelah sekian lama. 

Di ujung malam, tetiba Azhar bergabung. Bincangnya lanjut hingga tepian malam berakhir, seperti biasa jika suasana ngumpul seperti ini, ada indomie goreng, tapi minus telur kali ini.

Sesekali saya nyeletuk, dari horor dan teror, serta pelor-pelor peradaban yang menembaki diri sendiri. Atau saya sesekali sok menjadi pengamat abal-abal dari sekian geliat literasi dan narasi kemanusiaan yang kadarnya mulai tertungging miring ke arah jarum jam yang begitu kian gesit dan pesat, menebas kekonyolan. Saat kebudayaan kita dikoyak-koyak sendiri.  Lantas saya berpura-pura menenteng kitab kebudayaan, pengalaman serta pengetahuan penuh tinta-tinta warna yang palsu. 

Semakin malam, semakin dalam percakapan, tanpa tema, tidak harus berdebat kusir seperti biasa. Di tengah percakapan nan seru Yayu muncul setelah sekian purnama, masih gaya rambut, serta bicara tidak mengubah ciri khasnya. Hampir bersamaan dengan Adhie, yang juga lama baru melengkapi rindu sekian cerita dan peristiwa. 

Bagai melengkapi kencana malam yang dulu pernah ada, walau bukan berarti sudah punah, bahkan  dianggap sebagian orang telah musnah. Wets.  Tetapi malam khidmat itu, masih ada, dan tidak  mengada-ada. Hehehe.  Hanya mengubah ritme, intensitas. Agar titik jenuh, dan resitensi perjamuan antara menguatkan, atau saling menggugat. Hem.

Sebuah keteguhan jiwa, merangkai bunga hidup dan peristiwa masing-masing terangkum indah pada halaman sejarah yang hampir dijarah. Letupan tawa menghiasi. Sembari mengulik dan bukan sekadar memiripkan, apatahlagi mencocoklogikan dengan sebuah buku berjudul Filosofi Teras karangan Henry Manampiring. 

Di sana ada hamparan nan luas untuk dituangkan sebagai filosofi kehidupan.  Seperti tempat kami guyub di teras rumah sederhana, dengan menularkan nalar. Cara berpikir, serta menyemai sisi lain individu, melengkapi dengan sejuta kisah. Perjalanan, perjamuan kemanusiaan dalam bentuk komunal. 

Ya, Henry Manampiring merangkai pemahaman yang terkutip pada lembaran-lembaran yang terbit tahun 2018 itu”. Berkenanan di teras literasi itu, dihuni beragam profesi, dari kuli bangunan, guru, ASN, buruh pabrik, sopir, tukang batu, dan gelandangan si tukang dongeng sepertiku. Di teraslah kami mengasah, mengasuh jiwa, perangai,  corak, kebiasaan, kemerasaan, nilai, budaya, serta cara menggugurkan ego, kemerasaan yang berpotensi menjadi petaka. Dan itu terjadi laiknya seleksi alam. 

Saya mencoba menerjemahkan sederhana saja. Bahwa semua persitiwa jiwa, laku diri, dan terseleksinya perangai, tabiat individual, jauh dari konsep awal berkomunal.  Di teras keteduhan itulah saya belajar menerima, meneguhkan, dan belajar hadap diri.  

Nah, apa korelasi pada diksi teras keteduhan dengan Filosofi Teras? Dalam buku itu Henry Manampiring menguatkan, pada sifatia, manusia dalam pikiran,  menginspirasi dalam mengatasi emosi negatif dan membentuk mental yang tangguh dengan bahasan praktis dan relevan dan mudah dipahami.

Secara garis besar, buku ini mengajak pembacanya untuk menaruh perhatian pada dua hal utama, yakni konsep stoisisme dan cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, serta dikotomi kendali.

Keterhubungan pada teras keteduhan dan Filosofi Teras adalah pada nama “teras”.  Di sana kutemukan konsep stoisisme. Mendorong manusia untuk menekankan kehidupan pada empat pilar utama, yaitu kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian emosi. Seluruh aktivitas manusia hendaknya berporos pada empat hal ini.

Untuk mampu menerapkan konsep stoisisme dalam kehidupan sehari-hari, seseorang perlu belajar menghadapi berbagai situasi, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan, dengan tenang dan bijak.

Dalam buku tersebut ada istilah dikotomi kendali, Henry mengingatkan pembacanya untuk membuat perbedaan antara hal mana yang masih bisa dikendalikan dan hal mana yang sebaiknya dilepaskan. Sebab, sejatinya ada banyak aspek dalam kehidupan manusia yang tidak bisa dikendalikan oleh seorang individu. Dengan belajar memahami, menerima, dan melepaskan, kehidupan akan terasa lebih ringan dan membahagiakan.

Saya mulai merasa pada kendali yang kurang terjaga. Syahwat, perilaku, sampai pura-pura. Bermain akting, walau cukup buruk dan tak layak jadi artis.  Dengan mengendalikan sesuatu. Sisi mana harus melepaskannya, sementara paling ciut nyalinya. Selalu mengalah, menerima, tidak lantas seperti kebanyakan: mudah melepaskan, mudah melupakan.  Susah memaafkan. Eits. Dirhas menegur membawaku ke sebuah titik tempuh. Ini hanya mimpi buruk. Kata Dirhas, karib yang ibarat melengkapi rusukku.

Malam menetralkan, bagai cawan rindu yang kuat membasuh kami.  Selayang pandang, selayak yang kita kira, dari sekapur sirih, hingga mereka yang menanggung riwayat yang ditumbuhi jerawat.  Seperti puber masa kedua . Hem.  Jurus mengelak dan mabuk sebotol, lalu lupa jalan pulang. Wets

Reda sudah, melengkinglah dawai, merajut aksara-aksara semesta di teras literasi ini. Tidak harus larut pada kesenjangan kemanusiaan, dan zaman yang sudah terlanjur karut.   Bento, Dirhas, Nehru, Amri, Aliando, Echa, Yuya, dan Azhar menarik benang merah, dan menemukan jalan menuju sabana.  Melewati setiap proses, sebagai jiwa yang altruis, tidak sekonyong-konyong hadir dari beberapa babak peradaban hingga kini. 

Di teras ini, bukan sekadar menghibur, dia pelipur. Pelengkap dari yang merasa pintar menjadi pintar merasa, dari yang merekayasa pergi bagai kelana tanpa pelana, seperti burung merak terbang memamerkan sayapnya yang megah. Di teras literasi sebuah interaksi, transaksi pengetahuan, bukan nominal apalagi ingin dominasi. 

Di teras literasi ada multi, ada talenta, bukan untuk menjadi “tale’talekang” .  Namun menjeda, menjaga, mengajari diri untuk tahu dan hadap diri. 

Tawa pecah sejenak memecah malam di jarum jam pukul 23.23 mengarahkan kita untuk segera siuman dari mimpi buruk, lalu esok hari kita bangun meneguk kopi di beranda pucuk pagi tanpa benalu dan celoteh yang receh yang kerap mengganggu tidur nyenyak kita. 


Comments

2 responses to “Teras Literasi”

  1. Teras baca yang bukan hanya unt tempat kita membaca buku2 yang ada disitu, tapi teras baca adalah tempat kita jg ngumpul keluarga besar Baharu terutama di moment Hari Raya. Semoga tahun depan kita bisa ngumpul lagi sambil bercanda ria.
    Keren…salut sama kita Cika, narasi yang sangat luar biasa. Sukses selalu….🤲👍👍💯

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Masya Allah cika. Terharu rasanya. Amin semoga kita semua kembali berkumpul memperkuat ikatan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *