Jalaluddin Rumi sang sufi yang penuh filosofi cinta dan kehidupan, mengingatkanku kembali saat kusaksikan dua sejoli, kala dulu bertemu melengkapi, merangkai bunga cinta penuh sejuta harapan, dalam sebuah hajatan mereka bersama mengarungi lembah, lorong kehidupan, tamasya bersama di ujung dusun, hingga ke kampung-kampung. Pada ruang-ruang yang mengamini kala itu, dengan bait doa tersemat untuk menuju mimpi bersama. Namun, kini semua musnah seketika.
Rumi mengingatkanku kembali, jika kau mencinta seseorang. Maka kau akan selalu bersama dalam kegembiraan, ketiadaan, keheningan dan kekecauan. Begitulah cinta dulu yang keruh nenjadi jernih. maka kita jangan gegabah dan bodoh menempatkan kesenangan yang akan menjadi kesenjangan serta kekecewaan.
Petong melirihkan kata, sebagai bagian belajar untuk merangkai aksara, “Seandainya waktu bisa terulang, maka tak ada air keruh di beranda jiwa sanubari. Hanya karena hujan sehari sekilas terbantah sejuta kenangan. Ada asa mengadu hanya karena romantisme selama ini, kurang terjalin dengan ritme yang kaku, lalu terasa kaku”. Wow. Danu tersenyum. Mendengar Petong mulai merambati dunia romantika. Yang kadang dianggap lebay. Hem.
Dia telah pergi, tak mungkin kembali. Menapaki jalan menuju titah rasanya. Antara ada dan tiada, sebuah harapan yang pernah kita ikrarkan kala itu. Ya, kurang lebih begitu kira-kira percakapan sang mantan, yang dan meninggalkan siapa? Atau begitulah persemaian. Ketika terlena dan merasakan rona-rona asmara hanya karena persoalan sensitifitas dan hubungan mulai turun kadar kualitas selama tiga tahun atau lebih, kini menjadi bara amarah.
Bagai saliu’ ri biring moncong (di tepi gunung). Lembah rebah dengan resah, kemarau panjang. Tragedi kemesraan menjadi lontaran kata kata saling menyalahkan! Kemarin pemenang saat sejoli meraih episode berseminya, hanya karena pertengkaran dan janji cinta yang manis, kini tertuai saling mendepa jarak, bertegur sapa sekadar saja, padahal dulu begitu bersahaja. Sejoli melenggang di tengah cinta yang mengalir, lalu kenapa tetiba mereka saling tidak mengakui?
Saat mekar-mekarnya, berkelopak di awal musim, di tengah perjalanan terasa hambar. Bunga mawar kelopaknya sendu. Kelabu di saat purnama pertama, hanya karena antara harapan dan kenyataan menjadi sebuah kesenjangan. Tersisa hanya genangan dan kenangan kecewa, di kubangan yang ditumbuhi lumut dan ilalang. Sang mantan pergi, atau yang ditinggalkan menyusuri lereng-lereng kemerasaan dari sekilas kemesraan saja.
Lalu pertemuan tak terduga di sebuah pesta, mereka seperti saling menyandera, mencari celah dan tidak ada lagi percakapan penuh romantika seperti dulu. Saling melengkapi katanya, saling menerima, namun di tengah perjalanan keduanya mulai retak hingga pisah bagai pecah sebelanga. Ri cappanapi nakabateang siranggaselana, massing sibungkarrang, singkamma pambuakanna alloa, surang pammono’kanna ribokoang. Singkamma tallang buburu’na mata alloa ri ujung bori’. Bagai hanya mengingat pagi, dan seiring jejak senja terbenam di peraduannya.
Lesung rasa bagai ditumbuk, hanya karena sehelai harapan, berbuah petaka cinta dan sejuta kenangan yang kini telah usai di ujung tahun kebersamaan yang kini berstatus “mantan”. Saling merajuk, atau sesiapa yang merasa tersakiti atau terkhianati. Pesona yang dulunya saling memuji, saling melengkapi rusuk yang hilang. Lalu kemudian menjadi persona saling bermain satire. Cukup kusimak saja dari raut wajah, gestur dan raut wajah yang setidaknya masih menyimpan rindu, tetapi apa hendak dikata semua telah terlanjur. Ada getir, ada pandir yang mengelabui rasa masing-masing.
Ya, sang mantan. Seperti sepenggal bait lagu dari Nidji, “Sakit teriris sepi, ketika cinta telah pergi. Akulah sang mantan.” Melengkapi kisah berdua, menempuh halaman waktu bersama. Menikmati aroma pagi dan saat senja membenamkan kita berujung perpisahan.
Petong menyimak, ketika Danu mencoba kembali membait, dengan romantika yang selalu berujung petaka. Hanya karena berbeda prinsip dalam kebijakan. Memutuskan dan menjalankan sesuai janji mahar itu terpenuhi. Semuanya sirna. Hilang tiada pesan. Hanya miris teriris, luka pada gerimis tiga tahun, bukan waktu yang mudah. Rencana indah merintis bersama, mewujudkan impian ke gerbang harmoni. Namun teramat terjarak oleh sebuah tirani.
Ini hanya ibarat dalam isyarat yang kemudian mereka interpretasi sesuai iamajinasi mereka saat berkenan mendaras kisah sang mantan ini. Danu mengingatkan Petong yang merasa terbawa suasana, menikmati alur yang dikisahkan Danu.
Begitulah adanya, ketika harapan, keinginan yang terlerai dan menjadi saling mencederai. Hajat yang dulu penuh khidmat bersepakat, menjadi tikai saling menghujat. Sama-sama punya alasan kuat, namun tidak perlu pulalah jua untuk saling menyalahkan. Semua telah berlalu. Tersisa kenangan antara manis dan pahit, kadarnya tidak seimbang. Mengunyah renyah setiap kesalahan, melontar bagai dentuman meriam, menjadi dendam.
Berstatus mantan. Butuh waktu untuk move on. Melingkupi jiwa, rasa yang ditimang oleh sanaubari, debar-debar menjadi hambar. Asmara dulu begitu mesra, tetiba di ujung pisah menjadi luapan amarah.
Mencintai itu merelakan, bukan memaksakan. Tetapi jangan berlebihan, sebab semua bisa berubah menjadi kebencian yang menghujam kelak. Sebagaimana pesan seorang Ibu yang selalu mengingatkan setiap saat, “Passitaba-tabai pangngainnu, teako sikalujjui dudui. Erang nyawa surang ampenu, tea tongko sisayui dudui. Kabiasa pamminrana nyawayya anre nissengi sa’gena”.
Simpung, anre balleanna. Riolo le’ba nasikko jarre. Rikamonnea nia’mi siranggaselai (rasa sakit susah obatnya, saat dulu pernah berjanji, namun saat ini saling melupakan ).
Petong mengalihkan. Sembari mencari identitas yang dimaksud siapa sang mantan, sesiapa yang pergi dan ditinggalkan. Katanya menyimak saja. Agar tidak nyasar asal-usil tidak mendasar. Betapa susah melupakan, namun memaafkan itu jauh lebih rumit. Danu memicing sesekali mencermati Petong yang lagi suntuk.
Mawar itu berduri, melati wanginya abadi. Simbol keduanya memiliki unsur-unsur nilai atas nama cinta. Akan tetapi di sisi lain kudapati mewanginya menjadi puing-puing dan duri dendam.
Yang namanya mantan, sama-sama memiliki sensitifitas yang amat kuat. Itu wajar-wajar saja. Apatahlagi perpisahan di tikungan tajam. Saat saking mesra-mesranya lalu retak hanya karena keinginan tidak terakomodir, dan kecewa saat kebutuhannya tidak terpenuhi. Padahal sederhananya hanya karena tidak tercapainya ruang komunikasi. Atau sama-sama mulai terasuk, dan terjebak pada sistem yang tidak lagi sejalan.
Saya mencoba mencermati, jawaban kutemukan masih lazim bersifat umum: “kecewa”. Benar kata bijak, bahwa jangan terlalu berekspestasi lebih pada sesiapa, teman, orang-orang sekitar, karib, pada kekompok. Bahkan kepada pasanganmu sendiri. Karena bersiaplah merasakan kekecewaan yang mendalam.
Akhirnya sesama mantan mulai merasa sama-sama kecewa. Hari berganti, bulan kesembilan mengharap ada pengertian dan pemahaman. Di ujung tanduk akhir tahun, menjadi ending yang akan menyulam luka lama, dan membalut luka baru. Sama-sama membuka halaman baru dengan saksama mengasuh diri pada kenduri yang akan mereka hadir dan ikut pada pesta dihelatkan bulan, seperti syair lagu Guns N Roses berjudul November Rain, di sana ada lirik begitu kuat untuk sesama mantan:
Karena tak ada yang abadi
Dan kita berdua tahu hati bisa berubah
Dan sulit menjaga lilin tetap menyala
Di musim hujan bulan November yang dingin
Kita telah melalui ini cukup lama
Dengan berusaha mengobati rasa sakit
Tetapi kekasih selalu datang dan pergi
Dan tak seorangpun benar-benar yakin siapa yang akan pergi hari ini
Berlalu pergi
Apakah sesama mantan akan melepaskan kerelaan, tanpa harus saling mematahkan tulang rusuk?
Sumber gambar: Tribun

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply