Akting: Kejujuran Murni pada Situasi Palsu

Cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua.  Sepenggal lagu, melengkapi lara di ujung tahun. Semua terasa menegangkan, mencekam di titik didih isi otak, megutak-atik, akal jadi bebal. Yang pada akhirnya berujung tikai-tikai yang tak berarti. Kemarin bersama, tetiba menjadi berpisah di ujung lorong. Berkawan, lalu hanya karena akting yang kurang, menjadi ranting-ranting kebencian.

Di depanmu adalah sahaja, secara tak kasat cukup berbahaya. Sandi-sandi di rawa-rawa. Menjadi sandiwara. Memaknai hidup sebatas hujan sehari begitu menyenangkan. Gerah membuat kita resah dan rese. Semua serba perhitungan, gengsi dan sensasi melengkapi setiap peran-peran manusia.

Mereka berujar,  mengejar, dan saling kejar-kejar, menempuh imajinasi menjadi narasi kebenaran. Meski benar dan tidak benar, sama-sama masih butuh kebenaran yang lain.  Ah, ribet nian. Petong mengernyit, sampai mengubah aktingnya dengan berpura tidak tahu, padahal memang hanya pura-pura  tahu.

Adegan dimulai, dialog mengalir sambil menukil pesan-pesan yang solid dengan parawinya. Ada seolah pengamat, ada yang cukup lihai memainkan instrumental bermodal semata nyali. Suasana diwarnai dengan latar yang membakar jiwa-jiwa fragmen.  Para pelakon main umpan karakter. Begitulah keinginan sutradara. Melengkapi kebohongan dari kejujuran murni.  Serta serial kepalsuan yang solid mengibuli. 

Petong mengungkap sesuatu, bukankah sandiwara sebagai perkara terjadi di kehidupan nyata, lalu diperankan sesuai alur? Dunia adalah panggung bermain drama. Tergantung tipikal mana sesuai kecakapanmu. Begitulah skema hidup. Di depan hidungmu baik. Tapi di antara kawanan lain kau terhujat terpental-pental, lengkap dengan analisis yang ngawur. 

Banyak di antara sekelilingmu memainkan perannya meski tidak sesuai. Fenomenya sederhana penuh ciri khas. Hati-hati, sedikit saja kau lengah, maka kau akan terjerat,  tertipu. Danu mengurainya.   “Wah, betapa dunia jika tak hati-hati penuh jebakan dan tipu-tipunya, ya?” Petong meyela. Bukan! Manusianya suka main jebakan sesuai kepentingan, keperluan serta segala keinginan. 

Akting sangat diperlukan di setiap proses hidup. Jika tak mampu bermain pada dunia loe pakabeleng-belengna (penuh tipu daya). Maka kau bersiap jadi budak di atas dada para aktor-aktor, mulai dari amatiran, sampai para jawara-jawara pemain sandiwara. “Seperti kamu?” Petong mengumpan Danu. Danu tersenyum. “Ya, Seperti saya.” Sebagaimana istilah kejujuran kadang menjadi kebohongan sesungguhnya, begitulah sebaliknya.  Petong terdiam berpikir jebakan pertanyaan selanjutnya untuk Danu. 

Takku sassali (tidak kusesali)  bahwa pernah saya tertipu, terjebak, terjerat pada  kebaikan yang kemudian melunturkan segala yang terjaga sebagai kultur.  Dan di sanalah saya mulai belajar ilmu karakter, menyusuri sumber pengetahuan dengan setiap kisah, pergolakan, persoalan, dan segala sifatia manusia yang sesungguhnya semua sama. Hanya kadar dan nalar, seraya tindakan, prinsip idealisme terbangun secara tempaan. Bukan ujuk-ujuk hanya belajar, merenung, dan merunut saja. Tapi menghadapinya, menjalaninya dengan segala risiko serta konsekuensinya. 

Peristiwa demi peristiwa hingga saat ini, gelora, gejolak kemanusiaan makin giat menggeliat agar terlihat begitu sakti atau kuat. Padahal itu trik dan cara jitu bermain muslihat.  “Seperti kamu, saya dia dan mereka.” Danu menunjuk Petong seperti biasa tidak menggunakan telunjuknya. Tetapi memakai isyarat sorot mata memandang tanpa kedip ke arah Petong. 

Peran selanjutnya, pada dialog kesekian. Sebuah kenangan terulang di depan hidungmu. Danu melanjutkan. Harmonis yang dulu terjaga, tetiba saling mengiris-iris. Para kerabat dulu berjabat, kini saling menghujat. Mereka yang dulu begitu intim, sekarang terlihat saling mengintimidasi.  Sambil berakting mengulang cerita klasik.

Percakapan masih begitu-begitunya. Saling mengumpan, saling mengarang dengan diksi untuk menguatkan jati dirinya yang juga palsu. Begitu kuat memainkan karakter, terlatih secara eksploratif, meski kadang terlihat aktingnya cukup buruk bin kaku.

Celoteh di balik layar, para pemain menghafal naskah, mengatur nafas, menemukan jati diri selain dirinya.  Sutradara menyeruput kopi buatan asisten perempuan manis yang juga akan bercikal bakal dengan bakat akan memainkan perannya pula.  Semua kru, menikmati jeda, berkisah pengalaman, bercerita tentang hidupnya masing-masing. Tetawa, bercanda melepas penat sekian hari bermain, men-setting cerita, adegan penuh keberpuaraan dari setiap helai diamati sesuai alur penulis naskah.

Mereka juga berakting.  Tanpa pangling melingkupi kehidupan nyata yang kian tertuang sama saja saling merekayasa.  Rasa kekerabatan, bertetangga, persahabatan, persaudaraan penuh kerelaan nan ikhlas. Menjadi kecaman bersama saling berbuat dengan akting lebih ekstrim.  Tidak ada lagi merasa bersalah, semua benar dan merasa paling baik. Terlihat jelas kurangnya kata minta maaf, sambil mengakui, merasa bersalah. Bukan mengarang untuk saling menyalahkan satu dengan lainnya. 

Loemi tau siparappasa lanri tanre’na sipangngu’rangi le’baka niaka nanikkan, kanjari cakkania’ tannisanna-sannayya. (Banyak orang kini mulai saling menghempaskan, hanya karena nawaitunya yang mulai terlihat jahat). Cukup ini jika sekadar akting, bagai tipuan yang konkrit menjelaskan kejujuran murni, atau kebohongan murni pada situasi yang palsu.

Ada terhasut, seketika manusia lain menggunakan kalimat sakit, sembari berurai air mata tersungut dan seolah ringkih. Itu juga akting yang masih butuh eksplore dan belajar pengendalian diri, serta menjadi bunglon dengan cukup satu tahun, atau enam bulan belajar menjadi orang dan karakter lain. Itu bikin risih. Haha. Petong bingung. Bunglon? Betapa tega manusia mengatasnamakan makhluk ini menjadi kiasan, umpama, contoh, analogi sebagai nilai yang buruk! Seribu kecamuk di pikiran Petong. Manusia mengatasnamakan makhluk sebagai kambing hitam misalnya, menjadi alasan kuat. Lalu semua menyepakati bahwa itu hal tidak baik.

Cara kita berbeda, tujuan sama, pada akting yang kita mainkan setiap saat, setiap detik. Walau kadang terkendala dengan biasanya terlalu basi, dan garing. Akhirnya kita juga terjebak bahkan tersesat mulai dari dialog, komunikasi yang kurang cermat memilih diksi, pada akhirnya akting kita kurang sampai dan tidak berisi. 

Cara kita tertawa, saat kita menangis, dan ketika adegan marah. Selebihnya gunakan cara untuk tidak sekadar memberbaiki akting. Namun artikulasi biar serasi dan sesuai, tidak lagi multi iterpretasi. Semua bisa buyar, jika terbawa suasana dan adegan, namun ketika mampu mengendalikan dari sisi kreativitas seseorang. Maka emosi, gejolak bisa diredam, tanpa harus mengurangi peranmu dalam berakting. 

Petong masih melongo. Namun dia tabah menghadapi dirinya sendiri yang kadang masih bertingkah/berakting dongok menurutnya, yang mulai menerima, dan mengakui bahwa aktingnya masih terlalu datar dan amat ketahuan bahwa ini kebohongan murni pada situasi yang palsu pula. 

Misalkan saya, kata Danu. Suka pakai baju hitam, celana hitam, topi hitam, atau kamu suka pakai warna yang terang. Tanpa harus mencocoklogikan seolah paham warna, dengan menggunakan filosofi warna hitam adalah mencirikan ini dan itu.  Walau sejujurnya memang karena latahnya saya, mereka yang bergiat dalam bidang seni semuanya identik hitam. Tidak pula harus tahu alasannya kenapa!  Itu juga bagian dari akting ingin tampil tanpa berdialog, mereka akan menerima pesan dan segudang intimidasi dalam otaknya mencari alasan. Seperti kamu setiap saat seribu alasan yang kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi tipikalmu suka main drama klarifikasi. 

Kita adalah topeng-topeng sesungguhnya. Memerankan apa saja, kepandaian alamiah, tanpa kampus dan bidang studi khusus dalam melakonkan, menerjemahkan, menginterupsi, lalu seolah kita berdedikasi, padahal kita masih suka memanipulasi sejawat kita sendiri.  Manusiawi! Petong pasrah!  Yah! Inaibanre bura-burana di linoa nikongngia ruoa tau? Danu memberi isyarat pada dirinya sendiri yang juga masih menjadi pembohong ulung. “Itu juga aktingkah?“ Petong kembali bertanya.

“Ya!” Kata Danu singkat, selebihnya meraih gelas tebal putih bergambar sesuatu, pemberian seseorang, berisi sisa seteguk saja, kopi siang yang semakin tidak ramah pada sebuah situasi pasca pesta demokrasi yang semakin menghambarkan ketidakharmonisan sesama tetangga dekat, keluarga bahkan para kecerdasan yang juga terjungkal di lembah ngarai kecerdasannya sendiri.  Itu juga akting! Danu mendahului Petong. Sambil tersenyum meregangkan otot wajah, merileksasi raut muka yang terlihat kusut nan kusam.

Sebagai terapi agar tidak terlalu tegang menghadapi adegan, dengan situasi sama, walau tak mirip, tetapi nuansanya itu-itu saja, polanya yang mudah dikenali, hingga cara beraktingnya sudah amat klasik. Akan kita hadapi episode selanjutnya.

Sumber gambar: Kumparan


Comments

2 responses to “Akting: Kejujuran Murni pada Situasi Palsu”

  1. Desy Ratnasari Avatar
    Desy Ratnasari

    Selalu tertarik dengan ciri khas penulis, selalu memberikan nasehat kehidupan di setiap goresan penanya.. Sukses ki kaka dion dalam setiap karyata’..

  2. Dion Syaif Saen Avatar
    Dion Syaif Saen

    Wets. Sama-sama Kakak. Makasih apresiasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *