Cangke’: Sebuah Permainan

Cangke’ dimainkan oleh dua kelompok, satu kelompok sebagai pemukul dan satu kelompok lagi sebagai penangkap. Biasanya masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Yang diperlukan dalam permainan ini alat  pammeppek (pemukul/stik) dengan ukuran yang berbeda, dan sebuah lubang kecil di tanah. Pammeppek  pertama dengan ukuran sekitar 30-40 cm sebagai pemukul dan penghitung poin, dan pammeppek kedua sebagai objek yang dilontarkan, panjangnya sekitar 10 cm. Pammeppek biasanya terbuat dari ranting pohon mangga, atau jambu.

Di Makassar, permainan ini dinamakan cangke’. Sedangkan di daerah lain, permainan ini dikenal dengan nama gatrik. Sebelum memulai permainan, biasanya akan dibentuk dua tim. Hampir semua bisa memainkan cangke’, yang jelas ikuti aturannya saja.

Permainan tradisional Melayu yang bernama maccuke masih sering dimainkan oleh anak-anak di Sulawesi Selatan (Sulsel). Di beberapa tempat di Sulsel, permainan ini disebut dengan nama yang berbeda-beda. Orang Bugis menyebutnya maccuke, orang Makassar memberi nama accangke. Sedangkan orang Toraja menyebutnya dengan nama mattonggang. Permainan ini dianggap lebih mendidik mentalitas anak daripada permainan modern (Mattulada, 1979).

Kunikmati keriangan dan keceriaan masa kanak dulu. Melengkapiku dengan segala kenangan indah. Tiada pengusik, dengan asyik bermain riang gembira. Kerinduan itu terasa kini, saat mengenang beberapa permainan masa kanak dulu, termasuk cangke’ ini. 

Penerapan permainan ini memberikan satu edukasi dan literasi sesungguhnya, ada ilmu kecakapan (skill), bagaimana berkelompok untuk tidak memainkan ego, sesuai kapasitas. Bertugas sesuai kemampuan, serta  kekompakan.

Kemudian  anak cangke’ dicongkel dari lubang kecil dengan teknik dan kepandaian,  agar lawan tidak bisa menangkapnya. Lalu jika  ditangkap  oleh lawan dengan tangan kanan, maka dapat nilai 100 sebagai poin. Sedangkan tangan kiri itu 50, dan kalau keahlian dengan hanya menangkap dua tangan maka nilainya 25.  Keahlian berikutnya, anak cangke’ dilempar menuju lubang kecil tempat pammeppek di taruh di atas melintang. Jika anak cangke‘ jatuh di lubang kecil oleh lemparan lawan, maka kelompok penjaga akan menggantikan posisi kelompok sebelumnya. Begitulah seterusnya. 

Dalam permainan ini ada pemenang ada yang kalah, mereka sebelumnya membuat kesepakatan, jika poin terpenuhi maka lawan yang poinnya kurang bersiap menyerah dan menyatakan kalah dengan menggendong pemenang pada jarak yang telah disepakati. 

Seketika pikiran, mencoba melirik sisi pada ranah, situasi tahun politik kali ini. Pengamatanku  menyelinap ke tubir-tubir  hal yang kini mirip dan marak menjadi budaya baru, kemanusiaan yang saling mengintimidasi, memprovokasi dan saling main “cangke’“,mencungkil-cungkil hal yang tidak layak, menjadi babak saling membantai. 

Lawan dan kawan, teman kekerabatan keluarga dan tetangga saling melejitkan kata, menukik tajam di ujung jalan, di lorong dan setapak. Mengumpat yang dulu erat ikatannya pada nilai kebersamaan sesama, saudara kini menjadi petaka hanya karena pilkada!

Atas nama demokrasi yang masih butuh edukasi, menjadi momok lima tahunan. Ada yang bergembira, ada tepuk tangan di luar arena, ada yang syahwat penuh tabiat. Tidak bisakah sedikit sama-sama santun? Saling mengedukasi, mengapresiasi dengan segala kreativitas, ide yang konkrit. Bukan saling “sipatungtung” (membanting/membantai). 

Hampir separuh waktu pada masa tahun politik ini, saya merasa selalu digelitik, pada fenomena setiap saat sesama pendukung massingaccangke’” mencongkel nilai yang bijak menjadi bahan olok-olok. Betapa tidak elok.

Anak cangke’ melejit setelah dipukul keras, berharap lawan bisa kelimpungan untuk menangkap dengan lebih tenang, tidak gegabah atau marah-marah. Tidak menemukan poin jika kesusu menangkap anak cangke’ ketika melambung, menjarak dengan kecepatan cukup kuat dari pammeppe.

Setelah dengan bar-bar mencungkil, lalu anak cangke’ melayang bebas di atas kepala, lalu yang lain berebutan, tetiba saling menyalahkan karena ketidakmampuan menerima, menangkap anak cangke’ dengan cermat. Begitulah adanya saat ini, isu dikemas saat berhasil dicungkil, dan melontarkannya ke semua penjuru medsos.

Lantas apa yang terjadi? ketidakmampuan menahan gejolak, menerimanya tanpa lebih jauh menyusuri,  memilah, memilih cara dengan apik dan epik.  Tetapi betapa pelik semua ikut memekik, berteriak, berjingkrak. Lupa mendaras dengan cerdas pada suasana yang dihembusi informasi yang belum tentu benar. 

Semua diungkit, para tim hore bersorak-sorai. Tuding menuding dicolak-colek, dicongkel-congkel.  Pemukul cangke’ menukil sebuah dalil yang sanadnya juga masih labil.

Kusaksikan, kurasai aroma dan suasana ranah yang kian gaduh. Kudapati sebuah anak cangke’ tergeletak, berjarak jauh dari pemukul, di dekat bekas bongkahan anak-anak cangke’ lain. Berbekal kecewa dan luka hati, serta lebam. Saya bergumam, mencoba menentukan cara untuk tidak terjebak dan jerat  peran-peran manusia yang terlanjur melontar dan mengumbar-umbar.  Kini  mulai merasakan kekecewaan serta penyesalan saat permainan telah usai. Mereka pergi meninggalkan “anak cangke” yang terperangkap dalam suasana yang saling mengibuli. 

Sang pemukul melesat masuk ke kerumunan. Jejaknya cukup dikenali, tapi lihai memilih cara melarikan diri. Tersisa lubang kecil tempat mereka mencongkel, mencungkil-cungkil dengan segala strategi. Dan kini hanya  genangan air keruh yang tertimbun bekas-bekas anak cangke’, yang  selanjutnya menjadi saksi bisu.

Ini hanya ilustrasi, tidak harus terintimidasi dengan narasi sederhana ini. Tetiba pula  menjadi kedongkolan. Bukan pula untuk merasa paling piawai, tetapi apa salahnya jika menginterupsi dari adopsi yang kusimak, serta kutelusuri lalu harus menemukan sensasi! Setidaknya saya hanya mencoba menyusuri ke sisi lain dengan menemukan korelasi cangke’ dengan fenomena yang kita rasakan bersama? Dan apa salahnya jika duduk manis, sambil senyum-senyum menikmati aroma kopi dan pisang goreng renyah. 

Permainan ini akan berakhir seiring waktu, lalu akan kembali pada suasana yang berulang. Sebagai kenangan di setiap peran peradaban yang generasi berikutnya akan melengkapi jejak zaman sebelumnya.  Bertahan pada kebiasaan atas nama “budaya”? Atau meluangkan waktu untuk   melengkapi kebudayaan yang diadopsi pada nilai-nilai yang arif. Mengelaborasi kekinian, sebagai pilar tidak tergusur oleh busur kebudayaan lain.

Saya menyimak, menyikapinya dengan segala kerangka berpikir yang harus kutimbang-timbang, kuraut dengan benang-benang kesadaran, agar tidak kasak-kusuk.  Mengimbangi anak-anak cangke‘ lain, yang telah melawan arah rambu-rambu etika kebiasaan manusia: “sipakasiri’siri’ sicalla-calla, sipatoa-toai. Sikapalakki (saling mencela, mengejek, saling melampaui batas nilai keadaban manusia). 

Anak cangke kini menggelinding, di ujung gang, di lorong buntu, dekat tiang listrik yang sudah lama bersama gelap sekitarnya. Pemukul berlindung di balik semak-semak.

Permainan cangke’ kali ini makin marak dan kusisipkan pada lembaran perumpamaan di narasi ini. Sebagai pelepas dahaga untuk terjaga dari anak-anak cangke’ yang telah bersiap bergeriliya, petak umpet. Pammeppe (pemukul) main hompimpa di sebuah ruang, merancang prosesi cangke’(cara mencungkil, mengungkit) secara genit, gesit. Atau terjun pakai parasit. 

Pemainan belum usai. Sebelum dan di akhir sebuah pesta perayaan di wara-wiri hingga ke permainan cangke’ selanjutnya. Seolah poin telah di tangan, terlihat sama-sama optimis, namun di sisi lain ada gerimis yang pesimis, mulai paranoid, hingga mengakali dengan ganti pemain!  Tak akan, tetapi sama saja. Semakin menggusur nilai, skill mumpuni, di ujung pesta ada bidikan dan cara mencungkil yang kurang cerdas  yang akhirnya berakibat fatal bin  bablas.

Di teras sore itu, ibu mengisahkan permainan masa dulu, salah satunya adalah cangke’. Sambil melirik ke arah bunganya yang mulai tampak memucuk mekar berseri. Ibu tersenyum, pertanda semestanya (sakitnya) kembali pulih. Ibu berpesan dengan suaranya yang pelan dan bergetar, “Linoa pammari-mariangji, surang singkamaji pakkare’-karenang. Teako erokki napakabeleng-beleng ri pakkusiang siki’dia, surang teako sanging nupabebe/nupalele carita mange ri tauwa.   Kannasaba punna nikuayya rupa tau, massing nia kodina surang kabajikanna“.

Passitaba-taba erang gio’ surang angka’-angka’ bicarayya.  Appibacako, appitangarakko, teako ranggaselai ri sesena tallasa ri linoa.”

Peran cangke‘ terdepak, resah menghitung-hitung hari. Musim ini, adalah musim mencungkil, sio siparumba, sipatungtung, sisala-sala assiana’, seppe balla, surang bija.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *