Category: Esai

  • Satu Juta Pohon Matoa pada 22 April 2025

    Satu Juta Pohon Matoa pada 22 April 2025

    Saat sedang mencari-cari informasi tentang keadaan iklim dunia, saya dikejutkan oleh sebuah laporan yang dirilis pada Januari 2025. Berita tersebut mengulas kondisi iklim global pada 2024, dan seketika itu pula saya merasa terhenyak. Tahun 2024 menjadi tinta hitam yang menodai kitab kehidupan alam. Tercatat,  suhu rata-rata global mencapai angka tertinggi dalam sejarah pencatatan modern, menyentuh…

  • Menunda Ritual Jumat?

    Menunda Ritual Jumat?

    Menunda ritual Jumat. Apakah terpaksa? ‎Iya! Begitu diperhadapkan pilihan dilematis yang sangat dramatis. ‎‎Atau saya berdosa dalan dua dimensi perintah antara Tuhan dan ammak (ibu)? Linglung mencari letak ukuran dosa di mana? Saya mulai terlibat dalam dua situasi yang sakral. ‎‎Berusaha tidak gegabah pada keputusan saat ritual Jumat sudah memanggil. Di mana orang-orang bergegas, lengkap…

  • Trah Seorang Pama’

    Trah Seorang Pama’

    Apalah arti sebuah trah. Jika menjadikanmu lupa, merasa berderajat paling level atas, akhirnya ingin dipuja-puji. Tetiba Pama’ berucap, “Nakke manna tannu angkaka karaeng nasaba lanri nakke tongji nanu nia risesena pakkusiangna adaka.” Benarkah Pama’ pernah berucap seperti itu?‎‎Nyali seorang Pama’ menambatkan pesan bahwa bukan “kella-kella“. Meski satu syarat menjadi rekayasa politik menghambatnya, karena dulu mengangkat…

  • Perantau, Mudik, dan Kampung Halaman

    Perantau, Mudik, dan Kampung Halaman

    Di penghujung bulan suci, ketika takbir mulai merayap ke sanubari, para perantau berbondong-bondong pulang. Ada kerinduan yang tak tertahankan, rindu akan rumah, rindu akan keluarga, dan rindu akan tanah kelahiran yang selalu menanti dengan pelukan hangat. Jalanan berdenyut dengan roda-roda kendaraan yang melaju, seolah membawa hati yang bergejolak oleh harapan dan kebahagiaan. Mendengar kata “perantau”,…

  • Pama’ Bukan Pramoedya

    Pama’ Bukan Pramoedya

    Pama’ bukan Pramoedya. Selain beda zaman, ada paten dan telaten. Pram dengan segala kehebatan penanya. Pama’ dengan pelana kudanya, serta tuturnya. Kalau Pram menulis, Pama’ mengaplikasikannya. Pram memerdekakan pikirannya, Pama mengalami, mengayomi, dan menjalani dinamika perjalanan sunyi. “Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia,” kata Pram. Pram benar. Ia…

  • Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    Hari, bulan, dan tahun merupakan siklus hidup manusia yang diukur menurut satuan waktu dengan berdasarkan peredaran bumi, bulan, dan matahari. Siklus hari manusia terbagi dalam dua babakan, yaitu malam dan siang. Dalam penciptaan keduanya, begitu sangat istimewa sehingga Allah mengulang-ulang penciptaan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir (QS. 3:190, 11:3, 16:12, 23:80,…

  • Malam Penyaksian Ilahi

    Malam Penyaksian Ilahi

    “Jika tak kau pahami cinta itu apa? Tanyalah malam! Tanyalah dari wajah pucat dan bibir yang kering.”  (Maulana Rumi) Memutuskan suatu hal yang amat menentukan perjalanan hidup, adalah bagian penting dari seseorang. Kesadaran akan hal itu, tidak ujub-ujub muncul, jika bukan atas kehendak-Nya, maka Allah tidak memberikan pada makhluknya. Ketika Allah menghendaki seseorang, dan ingin…

  • Nakaluki Kanyamangngang, Tersisa Semata  Kenangan

    Nakaluki Kanyamangngang, Tersisa Semata Kenangan

    Na apajia ana’. Punna nia’mi russaka, nanu anre angkatutui sikuntu niaka rikau battu kabattuangna barang-barangnu surang kaniakkangna. Tiada guna semuanya, hanya membuat menjadi petaka kelak jika tidak sesuai hak sesungguhnya. Masih terngiang masa kecil, remaja sampai dewasa para orangtua kami, dan hampir semua sepupu mengalami buah kisah tentang konon katanya, bagaimana situasi nakaluki kanyamangngang surang…

  • Ketika Ibadah Menjadi Konten: Puasa Ramadan di Era Digital

    Ketika Ibadah Menjadi Konten: Puasa Ramadan di Era Digital

    Sejak kecil, Ramadan bagi saya selalu terasa lebih tenang. Setelah sahur, saya senang menikmati udara subuh yang masih sejuk. Tidak ada kebisingan, tidak ada kesibukan. Hanya langit yang perlahan terang dan suasana yang hening nan damai. Di siang hari, semuanya berjalan lebih pelan. Saya lebih banyak membaca Al-Qur’an, berhenti sebentar, lalu membaca lagi. Tidak ada…

  • Smapat Bantaeng: Wajah Pendidikan Harmoni dalam Keberagaman

    Smapat Bantaeng: Wajah Pendidikan Harmoni dalam Keberagaman

    Pagi masih cerah meninggalkan rumah. Tubuh yang masih enggan bergerak terpaksa bergegas lantaran penyelesaian tugas akhir (skripsi) sebagai mahasiswa sudah tak bisa lagi ditunda. Udara semangat pagi di hari Senin terasa mengembuskan energi jaket almamater kampus biru yang kukenakan kala itu. Selayaknya mahasiswa akhir, saya sadar bahwa waktu tak akan menunggu. Kali ini, perjalanan terasa…