Pagi sekali saya sudah tiba di Pusat Penelitian Teknologi Informatika dan Komunikasi Nasional (Pustiknas). Gedung itu berada seberang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) salah sebuah universitas ternama Jakarta. Saya bergegas menuju kakus. Saya harus disiplin membuang hasil ekskresi metabolisme tubuh setiap pagi.
Selepas berakrab dengan “bilik renungan” di lantai dasar gedung itu, saya bergumam dalam hati, “Memang Jepang masih jauh, bahkan Kuala Lumpur juga demikian, masih jauh”. Ada aneka kerumitan yang saya alami di dalam bilik itu. Mulai dari tiadanya tungkai cantolan pakaian, lantai yang jorok, air bilas yang tak memadai, hingga tersumbatnya saluran pembuangan.
Saya coba mengirim kekesalan kepada seorang kawan. Melalui teks WhatsApp saya kisahkan pengalaman buruk tadi. “Tidak institusi kecil, tidak institusi besar, sama saja. Sama-sama joroknya,” kata saya. Ia keberatan dengan gaya saya menyamaratakan semua lembaga.
Setelah itu ia mengingatkan sejumlah tempat yang pernah kami kagumi kebersihan dan keteraturannya. Semua fasilitas disediakan dan sekelilingnya pun ikut “didandani”.
Orang baru akan melihat itu dengan kagum. Mereka akan menghubungkan dengan kesadaran masyarakat. Kesannya adalah masyarakat beradab yang membuat suasana demikian; bersih, tertata, nyaman, dan aman. Kita beradab. Kita ada di dalam peradaban itu.
Saya ingat satu persatu. Ada sekolahan, kantor pemerintahan, rumah ibadah, sarana umum, hingga pemukiman. Saya masih ingat juga waktunya. Jika berdasarkan itu tentu saja tidak benar pernyataan saya.
Masih teringat jalanan tiba-tiba diperbaiki. Pagar dicat dengan warna terang. Bendera dan umbul-umbul dipasang di semua tepian jalanan. Begitu juga, bahkan, anak-anak sekolah dasar dan menengah diseleksi untuk dikerahkan dalam suatu hari penting ketika semua gedung menjadi bersih dan menyehatkan.
Saya sejenak mengenang betapa baiknya andai saja semua itu dapat dipindai dan ditempel ke semua tempat di Indonesia. Sayangnya, secepat itu jugalah saya mengingat bahwa peristiwa itu sangat cepat berlangsungnya dan juga berlalunya.
Peradaban palsu! Begitulah kesimpulan saya ketika menyadari bahwa semua itu terjadi tak muncul dan berangkat dari kesadaran masyarakat untuk hidup beradab tadi.
Semua kejadian itu terkait erat dengan kehadiran pejabat tertentu. Makin tinggi jabatan seseorang yang akan berkunjung maka akan makin kinclong, lengkap, dan teraturlah tempat itu. Namun setelah itu tak perlu menunggu waktu sepekan semua akan kembali seperti semula.
Tokyo tiba-tiba terbayang. Kota yang ramah terhadap semua kalangan. Setiap orang akan merasa terlayani dengan baik jika menggunakan fasilitas di dalamnya. Kamar mandi dan kakusnya selalu bersih, rapi, dan indah. Bahkan di luar kota pun seperti Telaga Kawaguchi pengunjung dapat merasakan terlayani. Masyarakat di sekitarnya masih banyak yang buta huruf atau setidaknya dengan literasi aksara yang kurang memadai. Jangan tanya dengan kesadarannya melayani manusia. Mereka tak memilih orang untuk dilayani. Rumah, bangunan, dan fasilitas umumnya dirancang dan dirawat untuk memuaskan penggunanya, bukan untuk membuat para pejabat berdecak kagum sesudah berkunjung.
Tokyo ramah pengunjung untuk semuanya. Negeri yang diingatkan oleh kawan saya tadi adalah negeri ramah pejabat.
Kredit gambar: suara.com

Lahir di Kasambang, Sulbar, 19 April 1973. Doktor Interdisipliner Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Bekerja sebagai dosen, peneliti, dan penulis. Mengajar di Universitas Cokroaminoto Makassar, Universitas Paramadina Jakarta, Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta. Anggota Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) dan Indonesia Environmental Scientists Association (IESA). Koordinator Riset ICC Jakarta. Terakhir, Dosen Universitas Nasional, Direktur Eksekutif Poros Pemikiran dan Partisipasi Publik Indonesia (P4I).


Leave a Reply