Blues dan Politik di Bantaeng

1 Desember 2017, malam menjadi basah diguyur blues Gyant Hidayah. Sependek ingatanku, baru kali ini saya menikmati lengkingan blues di Bantaeng. Sungguh malam yang istimewa. Terima kasih Baling-Baling Café, telah menggelar pertunjukan musik blues.

Gyant Hidayah adalah seniman handal, ia telah menekuni dunia musik dan gitar selama belasan tahun. Sebagai alumni Rockschool London dengan sertifikat Guitar Distinction Grade 8, ia memulai karirnya dengan band Aladin, berkontribusi dalam album “Kurelakan” serta berbagai album kompilasi musik indie pada 2000-2009. Gyant tampil di berbagai even musik dari kafe hingga internasional di Indonesia.

Selain sebagai performer, Gyant memiliki passion dalam mengajar musik, aktif sejak 2005 dan mendirikan Sekolah Musik di Makassar pada 2010. Sebagai gitar demonstrator dan master class gitar, ia telah mendapatkan kontrak endorse dari beberapa merek gitar dan efek sejak 2010.

Gyant juga mengembangkan keahlian di bidang songwriting, composing, dan arranging, memproduksi lagu untuk penyanyi solo, mars, jingle, dan soundtrack film. Ia merilis album solo gitar instrumental “Laugh & Hold” (2013) dan “Right Step” (2019), serta beberapa single seperti “Cerita Lalu” (2016), dan “Pammase” (2017). Selain proyek solonya, Gyant adalah gitaris dari band Moody Pop yang digawangi oleh dua personil Boomerang, Hubert Henry dan Tommy, sejak 2016.

Dan ternyata selain Gyant, ada hal lain yang tak kalah menarik. Malam itu ada seseorang yang disebut sebagai ketua Masyarakat Rock & Blus Makassar. Ilham Azikin, saya luput mengabadikan gambarnya. Dia ikut bernyanyi, mendedangkan lagu BIP. Suaranya lumayan ngerock.

Bagi orang Bantaeng, Ilham Azikin bukanlah sosok yang biasa saja, bapak dan kakeknya pernah menjadi bupati di Bantaeng. Dan saya kira pembaca yang budiman tentu bisa menebak, Ilham juga dipromosikan jadi Bupati. Kalau saja saya belum mendukung calon bupati lain, tentu saya akan tergoda untuk memilih politisi yang suka musik, musiknya rock dan blues pula.

Sambil menikmati suguhan kopi dan pekikan melodi Gyant, saya terus berpikir, mengapa Ilham yang calon bupati memilih mendatangkan gitaris blues. Blues bukan jenis musik yang familiar di di kota kecil ini. Dangdut atau setidaknya musik mainstream seperti musiknya band Wali ataupun Ungu, lebih familiar di telinga orang Bantaeng. Musik jenis itu yang sering diputar tetangga depan rumah kontrakanku.

Persentuhan dengan Ilham menjadi istimewa karena diiringi musik blues. Selanjutnya, saya kembali berada satu forum dengan Ilham Azikin dalam sebuah acara bedah buku yang digelar Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Ilham yang ternyata adalah seorang doktor didapuk sebagai pembicara. Pada kesempatan itu dia menyumbangkan berkardus buku. Tapi tetap saja saya tidak goyah. Saya sudah punya pilihan lain.

Mungkin karena musik blues, atau berkardus buku yang ia sumbangkan, atau karena punya kesaktian politik lainnya, Ilham memenangkan pemilihan Bupati Bantaeng. Dan tentu saja saya tidak bergembira. 

Setelah menjadi bupati, saya kerap berjumpa dengan Ilham Azikin. Beberapa perjumpaan dalam kapasitasnya sebagai bupati, dalam beberapa kesempatan lainnya saya berjumpa (rasanya) sebagai sesama penyuka musik dan kopi.

***

Tak terasa lima tahun telah berlalu, sejak Ilham Azikin terpilih sebagai bupati. Kini, pemilihan bupati akan kembali digelar, dan Ilham akan bertarung melawan Fauzi Nurdin. Fauzi, yang lebih akrab dipanggil Uji, adalah anak muda enerjik dengan motto “gas pol”. Ia juga memiliki warisan politik yang kuat; bapaknya pernah menjadi Bupati Bantaeng, bahkan pernah jadi Gubernur Sulawesi Selatan. Pertarungan ini pasti akan sengit, keduanya memilki pengaruh kuat di Bantaeng. Sayangnya saya sedang tidak di Bantaeng, tidak bisa merasakan langsung atmosfir persaingan dua anak mantan bupati.

Sejauh ini saya hanya bisa memantau dari meda sosial, Facebook dan grup WA. Di sana sesekali ada perdebatan subtantif, namun lebih banyak yang sifatnya saling serang. Mencermati aroma rivalitas seperti itu, saya membayangkan Ilham Azikin bisa kembali melakukan kampanye seperti 5 tahun lampau, dengan musik dan buku. Tampaknya klise memang, tapi musik itu menyenangkan.

Musik bukanlah hal bisa dianggap remeh. Leo Tolstoy, novelis besar Rusia mengatakan, “Music is the shorthand of emotion.” Lalu apakah benar musik sanggup memengaruhi perasaan dan emosi?

Saya pernah membaca artikel yang menceritakan sebuah kota kecil di Australia, sering menghadapi kekerasan jalanan di malam hari. Penduduk bertekad untuk menjadikan jalanan di sekitar kota itu aman.

Mereka tidak menambah jumlah patroli polisi, alat keamanan, maupun kamera pengintai, melainkan memilih untuk memainkan musik klasik. Setiap blok dari kota itu mulai memainkan musik dari Mozart, Bach, Beethoven, dan Brahms pada malam hari. Kurang dari seminggu, kejahatan dan kekerasan di jalanan menurun secara drastis.

Musik mampu membuat manusia menjadi tenang dan damai, juga takut, sedih, sampai gembira dan merasakan cinta. Lima tahun lalu saya merasakan kegembiraan, saat Ilham Azikin mengajak Gyant Hidayah ke Bantaeng.

Uji dan Ilham dapat memanfaatkan musik sebagai alat kampanye yang efektif. Dengan motto “gas pol,” Uji dapat memilih musik yang enerjik dan dinamis, menggandeng musisi muda, untuk menciptakan lagu-lagu kampanye yang membangkitkan semangat dan optimisme.

Musik yang penuh semangat ini dapat menarik perhatian generasi muda dan menciptakan suasana kampanye yang meriah, dan menggerakkan mereka untuk bersama-sama dengan Uji membangun Bantaeng.

Sementara itu, untuk Ilham, selain blues, juga bisa memanfaatkan kekuatan musik tradisional, guna menyampaikan visinya tentang pembangunan sumber daya manusia dan keberlanjutan di Bantaeng. Melibatkan seniman gambus dan kecapi yang yang masih tersisa di Campaga dan Labbo, atau bisa mengajak komunitas musik, Komunitas Pakampong Tulen (Komplen). Lagu-lagu berbahasa daerah akan lebih mudah menjangkau masyarakat di pelosok dengan cara yang mendalam dan emosional.

Sesekali politik yang nyinyir diajak berdendang riang, melupakan ambisi politik yang sempit, menyatukan hati dengan musik. Robert Schumann, seorang komposer, mengatakan, “Seperti matematika adalah bahasa universal dari pikiran, musik merupakan bahasa dari hati.”


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *