Mendengarkan Tubuh, Pikiran, dan Jiwa

Tidak ada yang lebih cukup selain bersyukur dan tidak ada yang lebih nikmat dari sehat. Jika sebagian besar orang diminta pendakuan, tentang, apa yang lebih diutamakan dalam hidup, salah satu jawabannya: kesehatan.

Sebagai makhluk badani, kesehatan lahir merupakan syarat paling subtil, atas efektifitas manusia melakukan berbagai aktivitas. Banyak kita temukan, berbagai upaya merawat kesehatan dan metode pengobatan pada raga. Hal itu menandakan makin banyaknya ornamen kesehatan, sehingga makin banyak pilihan merawat dan mengobati raga.

Tren kekinian juga makin menambah kebutuhan akan kesehatan. Bisa dilihat, produk-produk kesehatan merawat kemolekan fisik sangat banyak ditemukan. Beragam merek dan kegunaannya tersaji untuk konsumen, begitupun dengan harga jualnya. Di samping  itu, produk kesehatan herbal dan nonherbal, tak kalah banyak tersaji di pasaran, baik berlabel resmi, maupun dipasarkan secara mandiri.

Semakin banyaknya produk kesehatan yang kita temui, sebanding lurus dengan metode pengobatan yang ditawarkan oleh beberapa orang. Mulai pengobatan alternatif, terapi, refleksi, bekam, akupuntur, dst. Setiap segmen pengobatan memiliki peminat masing-masing dan telah merasakan manfaatnya.

Tepatnya, di akhir bulan Juni 2024, saya terlibat perbalahan ikhwal kesehatan. Kemudian, saya diperkenalan dengan konsep kesehatan holistik. Bisa dikatakan, kesehatan holistik merupakan  peninggalan orang-orang dahulu, sebelum orang-orang mengenal pengobatan modern seperti saat ini.

Kesehatan holistik yang biasa disitilahkan naturapathy, adalah cara mengobati yang mengacu pada akar masalah penyebab dari sebuah penyakit. Ibarat sebuah pohon penyakit, pengobatan holistik, langsung menyentuh pada akar masalah dari penyakit yang dialami seseorang. Setelah akarnya teratasi, pohon penyakit akan tumbang dan mati, sehingga, di kemudian hari pohon itu tidak akan tumbuh lagi menjadi penyakit.  

Bedanya dengan sistem kesehatan lainnya, seperti pengobatan medis modern, yakni lebih pada mengacu terhadap gejala yang dirasakan (symptomic therapy). Sehingga, banyak ditemukan penanganannya kurang tepat sasaran. Sebagai amsal,  apabila tiga gejala dirasakan, maka obat yang diminum pun terdapat tiga jenis pula, bahkan bisa lebih.

Belum lagi jika obat yang diminum berefek samping, seperti obat anti nyeri berefek pada lambung. Jika itu tejadi, maka si penderita dianjurkan untuk menambah obat anti lambung.

Bagi kritikus pengobatan modern, kondisi seperti itu sudah menjadi semacam tradisi. Seseorang akan tergantung oleh obat, hingga kadang mendatangkan frustasi.

Menurut Safwan Yusuf, praktisi kesehatan holistik, mendakukan, kondisi seperti di atas, sebetulnya sangat bisa dihindari, jikalau mau membuka diri, hati, dan pikiran, bahwa pengobatan medis bukan satu-satunya metode pengobatan atas penyakit yang diderita.

Lebih lanjut, Safwan menabalkan, berdasarkan penelitian 90 persen penyakit disebabkan olek psikis. Karena itu, psikis menjadi sesuatu yang sangat penting menentukan kesehatan seseorang.

Tak dikhayal, kesehatan adalah kekayaan, mengabaikan kesehatan fisik dan mental, mengakibatkan masalah dikemudian hari. Banyak kita temukan, orang-orang rela mengorban apa pun demi kesehatannya.

Masih segar diingatan, tiga tahun sudah berlalu bencana raya Covid 19 melanda seluruh belahan dunia. Dari peristiwa miris itu, setidaknya, memberi poin penting, begitu berharganya kesehatan.

Kadang pula kita mendengar seloroh orang-orang sekitar, mengatakan, tak ada guna banyak uang, bila sering sakit-sakitan, atau orang miskin dilarang sakit.

Bila manusia ditinjau dari sudut kesehatan, maka ditemukan tiga klasifikasi, yakni  body, mind, dan soul. Ketiganya merupakan kesatuan tak terpisah, saling memengaruhi.

Pada perkembangan kesehatan mutakhir, ketiganya tidak persoalkan lagi, sebab secara fitrawi manusia terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Tak pelak, manusia yang melekat unsur materi, tidak terhindar dari masalah kesehatan.

Untuk menjaga kesehatan tubuh, beberapa syarat dianjurkan oleh pakar kesehatan. Misalnya, menjaga makanan yang masuk dalam tubuh. Memastikan makanan yang  dikomsumsi, adalah makanan yang baik dan sehat.

Bila ditelisik lebih dalam, kebanyakan penyakit bersumber dari makanan yang kita makan. Rasulullah saw mengingatkan kita, perutmu bukan tempat sampah. Jangan berlebihan saat makan, karena hal itu hanya akan membahayakan kesehatan, serta membuat kita lalai dari ibadah.

Pola makan dengan porsi seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh, serta memilih makanan bergizi dan halal, adalah contoh yang dianjurkan Nabi saw. 

Mengutip perkataan Ibnu Qayim, Ketehuilah bahwa makan itu ada tiga tingkatan, yaitu kebutuhan, kecukupan, dan kelebihan. Dalam syarahnya, mengajurkan hendaknya mencukupkan diri dengan beberapa suap makanan, sekadar menegakkan tulang punggung.

Dengan demikian kita tidak menjadi lemas.  Bila kita masih merasa perlu makan lebih banyak, hendaknya kita makan sepertiga dari daya tampung perut. Lalu, sepertiganya menyisakan untuk air minum dan napas kita.

Dalam kehidupan setiap orang pasti merasakan sehat, sakit, hidup dan mati. Namun, kadang sebagian orang kurang memaknai dan mengambil  hikmah dari peristiwa hidupnya, tak terkecuali perkara kesehatan hidup.

Sekali waktu saya terlibat perbalahan perkara kesehatan. Lalu, di akhir sawala saya diperkenalkan suatu produk kesehatan, guna membersihan gulma makanan yang masuk dalam tubuh, khususnya bagian perut.

Dokter Cahyono, menukas, hampir 90 persen penyakit kronis berhubungan dengan pencernaan. Bukankan Nabi Saw 1400 tahun silam, mengingatkan, tidak ada tempat yang lebih buruk, kecuali di dalam perutnya adak cucu adam.

Itu berarti, perut kita berhubungan dengan sistem pencernaan dalam tubuh serta makanan yang kita makan. Sebagaimana kata bijak bestari, “Dirimu adalah apa yang kamu makan”.

Lebih lanjut, dokter Cahyono menganjurkan, dalam mengantisipasi penyakit degenarif seperi, diabetes, hipertensi, asam urat, gagal ginjal, jantung, dst. Agar sedini mungkin menjaga kesehatan pencernaan. Upaya untuk itu salah satunya, yakni rutin membersihkan sistem pencernaan dengan mengomsumsi buah- buahan.

Pada dasarnya tubuh selalu memberi pesan terhadap kita, sehingga wajib membacanya. Dalam perspektif lain tubuh ibarat kitab suci. Saat kita makan atau minum sesuatu, seyogiannya wajib kita membaca dan memahami, apakah cocok bagi tubuh kita.

Pendeknya, manusia yang tidak lepas dari materi, mesti mengetahui hal mendasar tentang kesehatan tubuh, sehingga kita bisa membaca pesan dari tubuh. Dengan membaca tubuh, kita bisa mengenal diri, bahwa sejatinya tubuh, pikiran, dan jiwa adalah manifestasi yang mesti dijaga dan syukuri.     

Kredit gambar: https://www.ibhcenter.org/          


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *