Warisan? Menjelma menjadi pengertian dari berbagai persepektif. Kadang sering menjadi dampak. Karena harta yang ditinggalkan orang wafat, sering kali menimbulkan permasalahan bagi pewarisnya.
Nah, di detik.com terhampar beberapa hal: Islam menetapkan aturan tentang warisan dengan rapi dan adil, tanpa mengabaikan hak seorang pun dalam pembahasan ilmu waris. Lantas, apa arti sebenarnya dari waris?
Waris secara bahasa dalam buku, Pembagian Waris Menurut Islam, oleh Muhammad Ali Ash-Shabuni, berasal dari kata al-miirats, berarti berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain atau dari suatu kaum kepada kaum lain.
Makna waris jika dilihat dari pengertian bahasa ini, tak sebatas pada hal berkaitan dengan harta benda, tetapi juga mencakup nonharta benda, seperti keimanan, sifat, serta kecerdasan. Lantas kenapa banyak kehilangan identitas diri dan keluarga?
Terjegal materi, tercekat keinginan, tanah sepetak dipersoalkan. Harta separuh tak jelas hak, ditengkarkan. Dunia melepaskanmu bebas memilih. Manusia kian punah oleh risalah. Semakin ke sini semakin menciptakan masalah. Tetapi sudahlah, kata karibku mubarak. Kita nikmati sambil mendeteksi tensi diri masing-masing. Memantik api lalu kami sama-sama membakar tembakau. Seperti dupa menjajal ruang-ruang misteri alam semesta.
Akhirnya banyak kehilangan waras karena harta waris. Kecubung mimpi si sulung terurung. Demi sanak kandung mengalah, hanya karena jatah menjadi berujung petaka kekuarga.
Mawardi Muzamil menyatakan, bahwa hukum waris adalah ketentuan yang mengatur perhitungan, pembagian, dan pemindahan harta warisan secara adil dan merata kepada ahli waris dan/atau orang/badan lain yang berhak menerima.
Begitulah manusia dan perjalanan hidupnya! Hanya soal waris seorang terhujam tersungkur di ujung keris. Karena sengketa entah kebenaran hukum berpihak di mana. Budaya terkencing terbirit lari dari ruang pertarungan antara hukum tuhan, dan manusia. Makin direkayasa.
Ini fenomena umum dan dilazimkan terjadi. Tanpa peduli yang punya latar pendidikan mumpuni, dari perangai seolah santun dan bijak, justru menjadi aktor pembajak sepetak, hingga yang berundak-undak sesungguhnya. Hukum dibayar biar urusan kelar, tanpa peduli sanak saudara beralas tikar terkapar kehilangan dan haknya dirampas. Jika demikian. Betapa hukum tak lagi cadas, justru begitu culas mengulas, mengemas lalu memeras.
Di sela waktu, seperti biasa, bersama ibuku melepaskan tawa dan bincang kami mengalir hingga tentang “warisan”. Ibu hendak melerai, sambil senyum-senyum saya nyeletup. Bu, warisan apa bapak titipkan?
Seperti merahasiakan sesuatu. Sampai sekarang masih saja begitu! Tak jeda lama, ibuku berusaha menyeka telaga di selaput matanya. Sebuah kata terlontar bagai anak cahaya mengusap-usap ubunku.
“Maafkan saya dan ayahmu, tiada seperti orang tua yang lain, punya tanah berhektar, memiliki aset ratus hingga ratusan. Sementara saya dan ayahmu tanpa sehektar, tanpa sepetak-pun bahkan segemggam tanah untuk kami wariskan. Sebab kami takut kelak kalian akan menjadi petaka keluarga, seperti banyak kejadian para saudara kandung saling merundung sikapallaki. Bahkan saling membunuh.”
Saya mendengar dengan penuh khidmat.
“Namun ibu punya warisan yang dititipkan oleh-Nya dalam rahim ibu, lalu menjadi manusia penuh adab, berahlak, peduli dan memanusiakan sesama manusia yaitu kau anakku.”
Seperti hening yang dingin mendekapku. Seketika Air matanya bampir mengalir seperti anak sungai, tertambat ke pelipis penuh peristiwa kehidupan itu
Saya terhujam diam merelung dan termenung jauh, hendak menyeka air bulir-bulir matanya yang juga hendak kutadah ke tepi ujung kakinya, bagai terpental ke satu titik. Ya. ada rasa bersalah, ada haru, bangga lalu segera kugemgam erat wasiatnya.
Saya tidak harus larut tersedu-sedu, seolah anak paling baik, paling patuh, saleh! Hem, dan berpura menangis di hadapannya? Saya hanya termangu bagai anak kecil dan segera bangkit. Mengajaknya menikmati bersama matahari pagi, dan rasa rindu buah racikan pisang goreng renyah, warisan paling berharga, terlezat dari jemarinya yang selalu meraihku. Mendekap dan membuaiku doa.
Ibu menutur kembali. “Jangan gegabah, jagai sikiddia, kanasaba sikidiaji ammanraki” (Jagalah pada hal sederhena dan terkecil itulah petaka besar tercipta).
“Sikatutui, sikapacceiko, sikamaseang assiana’ teako sicini-ciniki. Nasaba loe tau nappa’lingu barang-barang, si kapallakki si sa’ribattang, nipakabeleng-beleng lino.” (Saling peduli/empati, jangan bertikai sesama saudara hanya karena barang, harta warisan. Pada dunia penuh dinamika dan sementara ini).
Kredit gambar: Pixabay

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply