Ada buku-buku yang kita baca, lalu kita tutup, dan hidup berjalan seperti biasa. Ada pula buku-buku lain atau lebih tepatnya, pemikiran yang tidak sekadar mengubah cara kita membaca dunia, tetapi mengubah cara kita membaca diri sendiri.
Pemikiran Nawal El Saadawi hadir dalam hidupku seperti itu: bukan sebagai teori, tetapi sebagai lampu yang menyorot ruang-ruang gelap dalam diriku. Ruang-rung gelap yang dulu kupikir wajar, natural, bahkan seharusnya kujalani sebagai “perempuan baik.”
Nawal adalah seorang penulis, dokter, feminis, dan aktivis asal Mesir yang sangat dikenal karena kritiknya terhadap patriarki, penindasan perempuan, dan ketidakadilan sosial di dunia Arab. Ia lahir pada 1931 dan wafat pada 2021.
Selain berpraktik sebagai dokter, ia banyak menulis novel, esai, dan karya pemikiran yang berani membahas isu-isu sensitif seperti: hak-hak perempuan, kekerasan berbasis gender, praktik sunat perempuan (FGM), relasi agama, budaya, dan kekuasaan, serta otoritarianisme politik. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol), yang menjadi bacaan penting dalam studi feminisme dan sastra dunia.
Nawal tidak memberiku jawaban. Ia memberiku kemampuan untuk melihat. Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi melihat diriku dengan cara yang sama.
Pertemuan Pertama: Kalimat yang Membelah Senyap
Aku tidak sedang mencari pencerahan ketika bertemu tulisannya; aku hanya sedang mencari kata-kata yang bisa menjelaskan kegelisahan yang sejak lama mengendap di dada. Kemudian aku membaca kalimat itu: “They tortured my body, but they could not touch my mind (Mereka memenjarakan tubuhku, tetapi mereka tidak bisa menyentuh pikiranku).
Ya, di luar sana banyak Perempuan yang merasakan ini. Tubuhnya dipenjara, tetapi pikirannya tetap merdeka. Bagiku, ini bukan sekadar kisah keberanian seorang perempuan Mesir. Ini adalah deklarasi yang membuatku sadar bahwa: aku selama ini tidak pernah membela pikiranku sendiri.
Selama ini aku menjaga tubuhku, agar terlihat baik, agar tidak dicap tidak sopan, agar tidak melanggar standar sosial. Tetapi pikiranku? Aku membiarkannya diserbu rasa bersalah, tuntutan, dan keraguan yang diwariskan. Pikiran perempuan bukan hanya tidak dihargai; ia kerap dianggap berbahaya.
Pemikiran Nawal membuatku bertanya: “Jika pikiranku adalah ancaman bagi sistem yang mengekangku, bukankah itu berarti pikiranku berharga?”
Retakan Pertama dalam Struktur yang Selalu Kuanggap Normal
Selama bertahun-tahun aku tumbuh dengan keyakinan bahwa: perempuan baik adalah perempuan yang patuh, perempuan dewasa adalah perempuan yang diam, perempuan kuat adalah perempuan yang menahan diri, perempuan bijak adalah perempuan yang tidak membantah. Pemikiran Nawal tidak serta-merta menghancurkan semua itu, tetapi meretakkannya. Ia menggeser pondasi yang dulu tampak sangat kokoh.
Untuk pertama kalinya, aku mempertanyakan sesuatu yang tidak pernah kupertanyakan: “Benarkah semua ini tentang moral? Atau tentang kekuasaan?” Ketika aku mulai mempertanyakan, rasa bersalah yang dulu tampak seperti suara hati, tiba-tiba terdengar seperti instruksi sosial. Ya, aku merasa bersalah karena aku merasa bukan perempuan yang baik, harusnya aku patuh, diam saja, menahan diri dan tidak membantah kemauan orang lain atas apa yang kualami sendiri.
Aku mulai memahami bahwa kedewasaan bukan berarti menerima semuanya. Kadang kedewasaan berarti berhenti menerima sesuatu yang tidak lagi masuk akal.
Dari Pembaca Menjadi Subjek yang Sadar
Saat membaca tulisan Nawal, ada momen tertentu ketika aku merasa bukan lagi sekadar pembaca tetapi subjek yang sedang bercermin. Ia berbicara tentang perempuan yang diambil kepalanya, dan aku melihat diriku.
Ia berbicara tentang perempuan yang dihukum oleh rasa bersalah, dan aku menemukan masa laluku. Ia berbicara tentang perempuan yang dibentuk untuk patuh, dan aku melihat pola-pola dalam keluargaku, sekolahku, masyarakatku. Bagiku pemikiran Nawal bukanlah teori abstrak; ia adalah alat melihat. Dan ketika seorang perempuan mulai bisa melihat dirinya sendiri dengan jujur, tanpa ilusi itu adalah awal dari pembebasan.
Ia menulis: “To see clearly is to start resisting.” (melihat dengan jelas sama saja dengan memulai perlawanan). Dan aku mulai melihat. Karena itu, aku mulai melawan, pelan, dari dalam, tanpa bentuk, tetapi pasti.
Saat Pencerahan Menjadi Luka dan Obat
Pencerahan tidak selalu terasa indah. Kadang ia terasa seperti luka yang baru terbuka: perih, panas, dan membuatmu ingin kembali buta. Pemikiran Nawal menyinari bagian-bagian hidupku yang selama ini kututup rapat: relasi yang tidak setara, pengorbanan yang tidak pernah diminta tetapi dituntut, batas diri yang tidak pernah kupahami, mimpi yang kutahan demi kenyamanan orang, suara batin yang kubisukan demi “harmoni” sosial.
Pencerahan itu mengungkap betapa lama aku hidup dengan kepala yang terpisah dari tubuhku. Betapa terbiasanya aku menyesuaikan diri hingga tidak lagi mendengar apa yang sebenarnya kubutuhkan. Aku dulu pernah berpendapat bahwa perempuan yang cerdas adalah perempuan yang selalu bisa beradaptasi dengan kondisi apa pun, di mana pun dia berada.
Pendapat itu yang akhirnya lebur dalam karakterku yang dengan mudahnya memaksa diri sendiri untuk rela menerima apapun perlakuan orang lain terhadapku, dan aku hanya bisa beradaptasi, menyesuaikan dengan kemauan orang lain. Padahal itu bukan pertanda kecerdasan, itu adalah tindakan bodoh yang kubiarkan begitu saja.
Pencerahan yang aku temukan akhirnya mengutuk diriku sendiri di masa lalu dan pada saat yang sama pencerahan itu juga menjadi obat. Karena hanya yang terlihat yang bisa disembuhkan.
Aku mulai belajar bahwa: luka bukan tanda kebodohan, kebingungan bukan tanda kelemahan, dan keberanian sering lahir dari kejujuran pada diri sendiri.
Ketika Pemikiran Nawal Mengubah Cara Aku Mencintai Diriku
Pencerahan ini perlahan membentuk ulang cara aku memahami self-love. Self-love bukan lagi tindakan manis, tetapi tindakan berani. Bukan lagi pelarian, tetapi konfrontasi. Bukan lagi perawatan, tetapi pembelaan.
Aku mulai melihat diriku bukan sebagai proyek perbaikan, tetapi sebagai subjek yang layak diperjuangkan.
Nawal seolah berbisik: “Perempuan yang berpikir adalah perempuan yang berbahaya, bukan bagi dirinya, tetapi bagi sistem yang ingin membuatnya kecil.” Dan aku ingin menjadi perempuan semacam itu. Perempuan yang tidak menunggu izin untuk mencintai dirinya sendiri.

Lahir dan besar di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada Program Studi Statistika, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Hasanuddin, kemudian melanjutkan pendidikan S2 pada Jurusan Administrasi Publik di Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar.
Selain sebagai seorang ibu rumah tangga, Atte aktif menulis karya-karya fiksi yang sarat makna kehidupan. Novel-novel yang telah diterbitkannya antara lain: Titisan Cinta Leluhur, Djarina, Surat Cinta untuk Djarina, dan Sang Anak Guru. Juga sebuah Otobiografi berjudul Menuju Jalan Pulang.
Ia percaya bahwa setiap tulisan adalah doa yang menjelma kata, dan setiap kisah yang lahir dari hati akan menemukan pembacanya sendiri.


Leave a Reply