Menenun Tali dari Pena yang Tak Terbeli

Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam perang, yang mati sebelum waktunya.” (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir)

‎Di bawah naungan langit Ngada yang abu-abu, YBS—gadis kecil berusia sepuluh tahun dengan binar kecerdasan yang mulai meredup—menatap ujung sepatunya yang mulai terkoyak. Baginya, sekolah bukan sekadar gedung, sekolah adalah arena di mana ia setiap hari dikalahkan tanpa pernah melempar pukulan.

Sekolah jika ditarik dalam gagasan Pierre Bourdieu, merupakan mesin kekerasan simbolik. Pemerintah, melalui kurikulum dan standarisasi nasional, telah menetapkan modal budaya dan modal ekonomi tertentu sebagai syarat mutlak untuk dianggap berhasil atau bahkan sekadar ada. Bagi pemerintah di Mama Kota, sebuah buku tulis dan sebatang pena mungkin hanya bilangan desimal kecil dalam anggaran negara. Namun, bagi YBS, benda-benda itu adalah tiket masuk untuk diakui sebagai manusia di ruang kelas.

Malam itu, di rumah ibunya yang lembap, YBS memberanikan diri. “Mama, saya butuh buku dan pena baru. Guru bilang besok harus mencatat tugas.”

Mama Reti hanya bisa menunduk. Tangannya yang kasar karena kerja serabutan meremas ujung kainnya yang kusam. “Mama tidak punya uang, Nak. Untuk makan besok saja kita masih harus meminjam pada nasib.”

Di sinilah kekerasan simbolik itu bekerja dengan paling kejam. Negara menciptakan sistem pendidikan yang mewajibkan kepemilikan alat tulis, namun abai terhadap jurang ekonomi yang pekat diantara anak-anak di pelosok desa. Ketidakmampuan membeli pena bukan sekadar masalah kemiskinan, itu adalah pesan tersirat dari sistem bahwa anak-anak seperti YBS tidak diharapkan untuk ikut serta. Kegagalan ekonomi keluarga akhirnya diinternalisasi oleh si anak sebagai kegagalan diri sendiri.

Kamis pagi, 29 Januari 2026. YBS duduk di bale-bale bambu di depan pondok neneknya. Angin gunung berbisik dingin, namun tak sebanding dengan dinginnya perasaan terasing yang menghujam dadanya. Ia tidak pergi ke sekolah. Bagaimana mungkin ia masuk ke ruang kelas, tempat di mana pengetahuan disucikan, jika ia tidak memiliki alat untuk menangkap kata-kata gurunya?

Ia teringat nasihat terakhir ibunya: “Rajinlah sekolah, meski kita susah.”

Nasihat itu, meski penuh kasih, justru menjadi beban simbolik yang berat. Ada kontradiksi yang mematikan di sana, permintaan untuk berlari (sekolah), namun kakinya diikat oleh kemiskinan struktural (tidak adanya alat tulis). YBS merasa dirinya adalah anomali, sebuah noda dalam sistem yang menuntut kerapian dan kelengkapan.

Di dalam kepalanya yang mungil, ia mulai merumuskan sebuah kesimpulan pahit, “Jika dunia ini adalah sebuah permainan yang membutuhkan modal yang tidak akan pernah ku miliki, maka satu-satunya cara untuk berhenti kalah adalah dengan berhenti bermain.”

Ia mengambil secarik kertas—mungkin sisa terakhir dari buku lamanya—dan sebuah pena yang tintanya hampir habis. Ia menuliskan sebuah pamit dalam bahasa Ngada, bahasa jantungnya yang tidak pernah diakui dalam soal-soal ujian nasional.

Secarik surat pesan terakhir
KERTAS TII MAMA RETI
MAMA GALO ZEE
MAMA MOLO JA’O
GALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATA
MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE
MOLO MAMA

(SURAT BUAT MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU
MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)
JANGAN MENANGIS YA MAMA)

Surat itu bukan sekadar pesan perpisahan, itu adalah surat protes tanpa suara kepada sistem yang lebih mencintai angka statistik daripada nyawa seorang bocah yang saat itu hanya ingin bersekolah.

YBS berjalan menuju dahan pohon cengkeh di dekat pondok. Di sana, ia menyiapkan seutas tali. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya kemuraman yang dalam—jenis kesedihan yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak yang baru mencicipi satu dekade kehidupan.

Saat tubuh kecil itu tergantung, kekerasan simbolik telah mencapai puncaknya. Negara mungkin akan mencatat ini sebagai masalah kesehatan mental atau kurangnya perhatian orang tua. Namun, mereka jarang mengakui bahwa struktur pendidikan yang mereka bangun telah mencekik YBS lebih dulu sebelum tali itu melakukannya. Mereka memaksakan standar yang sama kepada mereka yang memiliki segalanya dan mereka yang tidak memiliki apa-apa, lalu menyebutnya sebagai keadilan.

Lantas keadilan yang seperti apa?!

Menjelang terik, Kornelis melintas di dekat pondok kediaman YBS, gubuk sang nenek. Teriakannya memecah keheningan Ngada, namun tak mampu membangunkan YBS dari tidurnya yang paling sunyi. Gadis itu telah pergi ditemani tali hasil tenunan, membawa serta rasa malunya yang tak mampu membeli pena. Pena yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara yang berjanji mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sungguh kegagalan sistemik yang berbalut kisah tragis personal. Namun apalah daya, di bawah pohon cengkeh, YBS akhirnya terbebas dari tuntutan dunia yang tidak pernah memberinya modal untuk sekadar mengeja namanya sendiri di atas kertas dengan tinta baru.

Selamat tidur adik.

Tulisan disadur dari tautan: https://www.kompas.id/artikel/anak-sd-di-ntt-bunuh-diri-tinggalkan-sepucuk-surat-buat-ibunya diakses 03 Februari 2026 23.57 Wita.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *