Kata spektakel pertama kali saya dengar saat Bung Roky Gerung membungkam pembicara lain dalam satu debat politik.
Ada kalimat yang dikaitkan dengan teori pencitraan yang dapat menjadikan seseorang terkenal dengan gagasan nol. Teori itu disebut dalam buku Guy Debord, Society of the Spectacle, atau masyarakat tontonan, sebuah dunia di mana pencitraan lebih berkuasa daripada pengalaman nyata. Jika bung Roky membahasnya dalam konteks politik, maka saya mencoba melihatnya lebih dalam secara sosiologis praksis.
Hari ini, kita hidup dalam dunia yang aneh. Dunia di mana yang paling penting bukan lagi bagaimana kita menjalani hidup, tetapi bagaimana hidup kita terlihat oleh orang lain. Kita tak lagi sekadar manusia yang hidup, tetapi manusia yang harus ditonton. Kita mungkin tidak sadar, tapi realitas ini sudah menjadi kehidupan kita sehari-hari.
Contoh saat ini di mana musim liburan tiba, sebagian besar orang tidak lagi bertanya, “Di mana aku bisa benar-benar bisa melepaskan penat dan bebas dari rutinitas. Tapi di mana spot-spot yang Instagramable. Itulah sebabnya satu tempat wisata akan viral dalam satu waktu dan hilang dalam waktu yang lain, karena kita semua sudah berfoto di tempat itu dan tidak perlu berkunjung kedua kalinya.
Tak hanya liburan, makanan pun demikian adanya, yang dibutuhkan adalah foto-foto makanan yang lagi viral, sehingga kita kan mendapatkan like yang banyak dari para netizen, atau bahkan perasaan pun kini bisa dikurasi. Kita memilih sudut terbaik, filter terbaik, caption terbaik—semua agar terlihat baik, meski di dalam sebenarnya tidak selalu demikian. Identitas kita perlahan dibentuk oleh ekspektasi publik dan algoritma, bukan oleh refleksi diri atau pengalaman batin.
Tentu, tidak semua hal dari dunia spektakel ini buruk. Ia membuka ruang baru bagi kreativitas, ekonomi digital, dan ekspresi diri. Banyak orang bisa meraih rezeki dan pengakuan lewat konten visual. Usaha kecil bisa viral, kampanye sosial bisa menyebar luas, dan seni visual berkembang dengan pesat.
Namun, kita juga harus jujur: dunia tontonan ini membuat kita lelah secara batin. Ada tekanan untuk selalu terlihat bahagia, sukses, dan menarik. Kita takut ketinggalan, takut tak diperhatikan, takut tak diakui. Kita jadi sangat bergantung pada validasi dari luar, dan itu melelahkan. Hubungan antar manusia pun jadi dangkal, kita tahu orang dari story-nya, tapi tak benar-benar mengenalnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, dunia spektakel membuat kita kehilangan makna. Kita hidup dalam highlight reels, bukan kenyataan penuh jatuh bangun. Kita makan karena viralitas, bukan karena lapar. Kita berlibur demi feed, bukan demi kedamaian. Kita bicara soal kesehatan mental, tapi sambil terus menciptakan standar kebahagiaan palsu di linimasa.
Mungkin sebaiknya kita mulai menyadari bahwa media sosial adalah alat, bukan cermin identitas. Validasi sejati tidak datang dari like, tapi dari makna yang kita rasakan dalam hidup. Kita bisa memulihkan ruang-ruang otentik, makan bersama tanpa selfie, ngobrol tanpa ponsel, liburan tanpa posting. Mari menikmati momen bukan karena bisa dibagikan, tetapi karena itu pantas untuk dihidupi.
Kita juga harus saling mengingatkan: bahwa hidup bukan konten. Kita adalah manusia, bukan tontonan. Kita punya luka, canda, tawa, tangis, dan semua itu sah. Tidak semua harus terlihat indah. Tidak semua harus dibagikan. Kadang yang paling bermakna justru yang tidak terekam kamera.
Tentu kritik ini hanya berlaku bagi kita yang terus hidup untuk ditonton, maka pada akhirnya kita tak benar-benar hidup, kita hidup di dunia nyata dengan kepalsuan, senyum palsu, wajah palsu, sebagaimana dideklamasikan tahun 1998 oleh Agus R. Sarjono, dalam puisinya “Sajak Palsu”. Wallahu alam bisawab.
Kredit gambar: Hipwee

Lahir, 12 Februari 1975 dari pasangan H. Andi Passalowongi Daeng Ngipu dan Hj. Rahmatiah, memulai studi S-1 di UNM/IKIP 1993-2000, Pascasarjana Unismuh 2007-2010. Menjadi guru sejak 2006. Saat ini mengajar di SMAN 6 Barru sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia. Bergelut aktif di ranah literasi sejak 2010 dengan menggerakkan gerbong literasi guru dan remaja Kab. Barru lewat beberapa organisasi kepenulisan seperti Yasbic, Agupena, dan Perpustakaan Iqra Takanitra. Menulis di beberapa flatform media sosial, dan menjadi dosen luar biasa di Universitas Muhammadiyah Barru dan ITBA ALgazali Barru. Telah menulis beberapa buku: Bunga Rampai Bahasa Indonesia (2015), Catatan Seorang Guru (2016), Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara (2016), Kumpulan Cerpen Arajang ( 2017), Antologi Gurusianer Bicara Literasi (2017), Pesan-pesan Berkarakter dalam Kearifan Lokal Nusantara (2018), Cerita Rakyat La Patau (2018). Kumpulan Cerpen Ata Mana (2019), Ayo Tulis dan Terbitkan Bukumu (2019), Kumpulan Esai bersama Yang Digugu dan Ditiru (2019), Kumpulan Esai bersama Guru Melawan Pandemik (2020), Melihat ke dalam Diri (2022), Kota Penulis Ilagaligo (2022), dan Buku Dwibahasa Makkereta Api Baru (2023). Mottonya adalah “Panta Rei” sebuah filosofi Yunani yang berarti mengalir, terus berubah, terus bergerak sampai di perhentian terakhir.


Leave a Reply