Author: Dion Syaif Saen
-

Sahwa: Si Mungil Berprestasi
Mungil tidak lantas sepintas secara fisik orang melihat. Tanpa mendengar suaranya nan lantang, bagai gemuruh yang menghentikan zaman yang rusuh. Ditambah karakter kuat, saat memerankan sebuah persona, tanpa berjingkrak, tanpa harus berlebihan percaya diri. Namun, mampu memahami isi naskah dongeng, mengalir, memainkan setiap peran dalam cerita naskah yang dia bawakan. Sosok guru honorer, bernama Dahniar…
-

Bocah Argan dan Orang-orang Keranjingan
Perihal budi yang mulai menjadi jumud. Hendak menguasai dengan mencatut, menghasut melewati bekas puing-puing perangai. Sepertinya semua orang mulai keranjingan, di mana sebagian orang merasa ingin selalu menjadi sesuatu. Pada satu titik Danu dan Argan hampir sama, walau sedikit mirip. Maka terlepas sama dan beda. Sebuah kesenangan, kesukaan, ada yang perlu diselipkan untuk menahan diri.…
-

Ketika Angngaru Berujung Petaka
Angngaru sebuah ikatan menyatukan di atas sumpah bernama “ikrar” dalam adat Bugis-Makassar. Istilah ini cukup kuat menjadi tradisi, adat, budaya yang kemudian dikembangkan dari beberapa komponen pertunjukan. Melansir dari Indonesian Journal of Pedagogical and Social Sciences yang berjudul “Pergeseran Fungsi Kebudayaan Pada Tradisi Angngaru Suku Bugis-Makassar”, disebutkan bahwa Aru’ atau Angngaru’ merupakan sumpah atau ikrar…
-

Tepuk Tangan
Tepuk-tepuk tangan, suka-suka // tangan di kepala, tangan di pinggang // loncat yang tinggi satu dua tiga // mari meniru burung terbang di udara. Bagaimana meniru burung, sementara kepak sayapku terdogma oleh nomenkelatur, penuh struktur dan ambigutas tak mampu meretas sebuah harapan di masa kanak-kanakku dulu. Dan meniru burung terbang ke udara, hanya karena tepuk-tepuk…
-

Danu dan Petong: Sebuah Percakapan
Butuh pemantik. Dalam pusaran sisi lain untuk lebih cerdik. Bukan sekadar spontan atau bersemat dirinya sebagai pemain sulap misalnya. Dan kedok budaya kemanusiaan hanya menghasilkan lendir-lendir nan pandir. Masih tanggapkah kita menjalani hidup dengan bongkahan pikiran yang dianggap janggal? ada rinai air mata jatuh di keranda. Sebuah isyarat, matinya persona dan sejuta pesona. Terkubur bersama…
-

Monolog
Adegan demi adegan. Danu memainkan satu tabiat tidak secara kasat, bahkan dengan mata nanar, berbinar-binar sekalian. Wajah manis dan menawan. Sesaat kemudian, kita terlena saat mengurai kata menaruh harapan, bukan menghamparkan semata slogan. Di sudut kerling dan pasang mata menanti kejutan. Tetiba menjadi bualan. Orang–orang main ketapel dan seribu “stempel”. Emm! Punya jurus dan rumus…
-

Abu-Abu Dua Mata Pisau
Mereka belum rabun, tetapi mengapa masih gagap mengenali warna. Karena berburu lencana menaiki kencana, sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Namun, lamat-lamat melumat secara muslihat. Itu juga bagian keranjingan yang perlu di-“eksplore“. Lupa kemarin senja tertuduh bermesraan dengan laut biru, menyedapkan rasa, jiwa. Senja tertuduh! Terbungkam hitam pekat (pertanda malam). Saya menemui seorang Dudung malam itu. Di celah…
-

Cinta dan Kemanusiaan
Jauh di lubuk hati, Bisma sebenarnya juga jatuh hati pada Amba. Tapi ia ingat sumpah selibatnya. Meski ditolak, Amba tak menyerah. Ia mengikuti Bisma ke mana pun pergi. Tanpa bosan, Amba terus meminta Bisma untuk menikahinya hingga suatu kejadiaan nahas. Bisma yang berniat menakut-nakuti Amba dengan anak panah, tanpa sengaja melepaskan anak panah hingga mengenai…
-

Hadap Diri
Bagai cermin pecah seribu, saat perawakan mulai punah, dan kecamuk yang diaduk-aduk lalu remuk, menjadi remah-remah, lalu manusia dengan mudah meremehkan.Dinamika dari bekas koyak dan tombak kisah perjalanan hidup setiap manusia untuk tidak gegabah, atau memaksakan yang berujung petaka kedirian yang masih suka berkedok. Wow menohok. Menakar, menukar nalar. Ada yang mulai tidak ramah. Khilaf…
-

Jemput dan Ciptakan Masalah
“Adalah sebuah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.” Ah, Itu sudah umum dalam kita mendefenisikannya. Namun ada filosofi lain yang menandai, mengurai sebuah masalah dengan menciptakan masalah! Sepucuk surat Umbu layangkan, sebuah hamparan sabana dari tanah Sumba menghampar pada radar kehidupan yang ditimpuki masalah. Akan menjadi binasa, tanpa harus mengemas dengan teliti, sigap, dan siaga. Lalu…
