Author: Dion Syaif Saen
-

Lawan yang Jujur
Hidup tanpa cinta bagai taman tanpa bunga. Hidup hanya berkawan tanpa lawan, bagai tanpa penyedap, hambarlah rasa. Dinamika tak elok, suasana hanya kita merasa baik dan bahkan paling benar. Butuh lawan untuk pengakuan yang jauh lebih jujur. Kadang kala melepas yang berkenaan cara kita yang sering keliru. Atau terlalu fanatik. Padahal itu adalah pemantik yang…
-

Tujuh Belasan Kebablasan
Setiap perayaan kemerdekaan Indonesia sampai saat ini dengan usia yang cukup matang. Masih berkalang tanya, sejauh mana sisi kemerdekaan itu berlaku, jika masih saja terdampar di tengah zaman? Masih saja disandera kemerdekaannya. Seperti terjajah kembali di negerinya sendiri. Tidak harus kita tutup mata. Dan apatah lagi merasa nasionalis. Padahal kita sering mengolok-olok negeri sendiri. Tanpa…
-

Merasa Pintar tidak Pintar Merasa
Apa kriteria pintar itu? bagaimana dengan kata cerdas? Atau beberapa kalimat lain untuk yang dimiliki kecapakan dan potensi setiap manusia? Cania Citta mendefinisikan pintar itu smart, artinya cara mesin berpikirnya canggih dalam mengolah informasi, karena penalaran atau logikanya bagus. Lebih tajam lagi Cania menggunakan tiga indikator atau cara menilai orang pintar atau tidak. Pertama, mampu mencerna…
-

Hadiah Indah Nurfadillah
Bantaeng patutnya bangga, sebuah torehan sejarah, menambah jejak prestasi kembali sang generasi menjajal bisingnya zaman. Karutnya peradaban. Ya. Nurfadillah anak desa menempuh asa, mengharumkan nama daerahnya Provinsi Sulawesi Selatan, kampus tempatnya menempah ilmu. Wabil khusus tanah kelahirannya Bantaeng. Alhamdulillah, Nurfadilah bersama tim meraih Juara 1 Tingkat Nasional, lomba Statatistics Infographic Competition. Keharuan itu tak terbendung, …
-

22-23-24
22 Aku mengira kau telah pergi jauh, meninggalkan bekas kecupan di kening, tanpa dugaanku terdetak dan mengepakkan sayapmu, bersama penekuk dan teluk cinta yang telah tersemai. Dan pada akhirnya, setelah aku belajar merelakanmu. Tiba-tiba angin sepoi menyambar jendelaku, kabar siuman darimu telah terbawa pecahan-pecahan angan dan belangah. Aku hanya menyaksikan beberapa ekor burung terbang rendah…
-

Balada Petualang
Sebentang harapan di pusaran bilik-bilik khayali, menjadi apa saja, atau masih bertualang menggelandang mencari sejatinya kehidupan yang katanya telah tertakdir. Atau tertakar. Seorang petualang melenggang kangkung. Terhuyung langkahnya terbusung mimpinya. Di balik cahaya dan bukit ditemui satu persatu jejak peradaban manusia yang keok. Teringat karib bertarung menghadapi gelombang kehidupan. Petualangannya begitu menarik untuk kita belajar.…
-

Kebangkitan dan Kebaikan sebuah Pilihan
Adalah bangkit itu baik, dan baik untuk menuju kebangkitan. Bangkit dalam kebudayaan berpikir, baik secara naluri sifatia berbuat untuk menuju mimpi bersama, merakit dalam parit-parit demokrasi dengan ide yang konstruktif. Bagai pesona menabur benih harapan di setiap sudut. Menebar dan menakar kemampuan untuk meraih simpati bersama. Mengurai kesenjangan dalam kesenangan walau sesaat. Namun, itu sudah…
-

Manusia Warisan dan Warisan Manusia
Warisan? Menjelma menjadi pengertian dari berbagai persepektif. Kadang sering menjadi dampak. Karena harta yang ditinggalkan orang wafat, sering kali menimbulkan permasalahan bagi pewarisnya. Nah, di detik.com terhampar beberapa hal: Islam menetapkan aturan tentang warisan dengan rapi dan adil, tanpa mengabaikan hak seorang pun dalam pembahasan ilmu waris. Lantas, apa arti sebenarnya dari waris? Waris secara bahasa…
-

Uang Panai, Mahar, dan Cinta
Tahun 2013 dengan latar hitam membentang, lighting sederhana, penonton yang masih suka ricuh. Dialog tujuh sin (bagian) dengan durasi panjang melebihi tiga puluh menit bahkan lalai di titisan waktu normal. Teringatlah saya pada naskah yang saya buat kala itu berjudul, “Mahar dan Perempuan”, dengan menumpahkannya dalam tulisan, adegan, dan latar. Seakan menggugat budaya dari sisi …
-

Pergi tak Meninggalkan
Datang dan pergi, beranjak tak berjarak, pergi tapi tidak meninggalkan. Di antara waktu, bertepatan tujuh puluh delapan tahun silam, ke-Bhayangkara-an dicetuskan dalam sebuah prosesi secara presisi dalam ketepatan, keakuratan dalam sebuah rancangan atau perencanaan. Menyatu menyusuri rimba kehidupan, mengayomi, melindungi, dan melayani. Tabur tuai, setelah hari esok mengadu ke hari kemarin. Ada rindu menghentak, ada…
