Setiap perayaan kemerdekaan Indonesia sampai saat ini dengan usia yang cukup matang. Masih berkalang tanya, sejauh mana sisi kemerdekaan itu berlaku, jika masih saja terdampar di tengah zaman?
Masih saja disandera kemerdekaannya. Seperti terjajah kembali di negerinya sendiri. Tidak harus kita tutup mata. Dan apatah lagi merasa nasionalis. Padahal kita sering mengolok-olok negeri sendiri. Tanpa solusi.
Dihiasilah gemuruh riuh dengan tradisi kemeriahan, setiap sudut kampung, pelosok kota, lorong dan lereng-lereng, merah putih berkibar terpajang dengan tiang bambu. Sebagai wujud rasa bangga dengan bumbu kemeriahan sejatinya manusia penghuni bumi pertiwi.
Berbagai lomba dihelatkan. Dari makan kerupuk, lari balap karung, panjat pinang, para lelaki main bola pakai daster. Serta beberapa permaianan yang sesungguhnya semata tontonan yang sekadar lucu saja. Seru-seruan kata mereka.
Namun, dulu saat Belanda masih menguasai Indonesia, mereka pernah mewajibkan wilayah koloninya, untuk memperingati Koninginnedag setiap tanggal 31 Agustus. Hari itu dimaksudkan untuk menghormati kelahiran Ratu Belanda, Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau.
Sebab itu, semua masyarakat diminta untuk melakukan berbagai perayaan seperti festival, karnaval, hiburan, pasar kaget, wayang, termasuk salah satunya lomba panjat pinang. Melansir dari detikX, panjat pinang di era kolonial disebut dengan “de Klimmast” oleh orang Belanda yang artinya memanjat tiang.
Senada yang dilansir detik.com. Panjat pinang mulai dikenal pada saat Belanda menduduki Indonesia. Saat itu, sekitar tahun 1930, para kolonial Belanda mengadakan panjat pinang, untuk hiburan saat mengadakan hajatan, seperti pernikahan, kenaikan jabatan, atau pesta ulang tahun.
Sementara hadiah yang digantung pada ujung pohon pinang tersebut berupa makanan, seperti keju dan gula. Ada pula yang berupa pakaian.
Masa itu, hadiah-hadiah seperti itu sangat berarti bagi orang-orang pribumi dan tergolong barang mewah. Sebab itulah perlombaan panjat pinang dulunya hanya diikuti oleh orang pribumi yang ditonton dan ditertawakan oleh orang-orang Belanda.
Orang pribumi mati-matian memanjat pohon pinang, sedangkan mereka (kolonial Belanda) menyaksikannya. Namun, bagi keluarga pribumi yang kaya dan merupakan antek kolonial, mereka juga kerap mengadakan perlombaan khas 17 Agustus ini.
Betapa mirisnya. Mengira itu tradisi kita, Padahal itu satir para penjajah ketika itu. Betapa pribumi disuguhi lomba panjat pinang dengan susah payah, demi hadiah berbagai macam kebutuhan sandang dan pangan. Sementara para penjajah terbahak, tertawa lepas menyaksikan kebodohan itu.
Dengan batang pinang di olesi oli. Lalu mereka telanjang dada bagai budak dipaksa memanjat kehidupan. Meski beberapa pakar membantah bahwa ada makna filosofi di baliknya. Tapi bagi saya tetap itu pembodohan.
Selanjutnya lomba makan kerupuk. Anak-anak dengan tangan terlilit tidak harus memegang lalu merebut dengan penuh antusias merebut makanan yang juga tanpa nutrisi. Semua menyaksikan, ada tertawa lepas pula menyaksikan kebodohan yang di pertontonkan.
Tali terbentang kerupuk di gantung sesuai jumlah peserta. Mirisnya hadiah pun dibungkus dengan rapi. Tetapi isinya sama saja, pensil satu batang, tiga buah buku, dan satu bungkus keupuk. Hem. Saya menggumam. Sembari mengingat pernah mengalami peristiwa seperti ini. Bahkan menjadi panitianya.
Kemerdekaan dihiasi sejuta harapan nan tawar. Tujuh puluh sembilan tahun sudah. Masih saja terdengar jerit, terdampar di garis kemiskinan pada naungan katulistiwa, tetapi sejuta peristiwa tangis dan jerat tak berkesudahan. Anak-anak kehilangan jati diri dan mimpinya. Pendidikan menjadi ajang bisnis. Hukum bertindak sesuai pesanan, ala prasmanan, main santap saja. Keadilan hanya slogan di tumpuk.
Haruskan revolusi? Dengan lantang seseorang seolah cinta tanah airnya, padahal masih suka menghardik sesama dan negerinya sendiri. Saya tersenyun saja. Mendengar kata itu. Bukankah sudah ada dan pernah terjadi sebelumnya? Tetapi apa dampak dari semua itu? Haya menimbulkan dendam politik sejarah yang dikaburkan.
Merah putih disamarkan. Bahkan seorang berdedikasi pada negerinya mati dalam kesepian. Ditambah dengan gerakan reformasi sekadar sensasi. Sementara tata kelola kenegaraan, seabrek tete bengek aturan dan ikrar atas nama sumpah di bawa kaki langit katulistiwa. Namun hanya kedok. Semua sama-sama kebablasan.
Rasanya bagai teranggas daun pucuk pengharapan, dari kesenjangan sosial. Suasana perlahan tapi pasti, menjajah dan membantai kita semua, dengan dalil yang kacau, bagai kacung memburu di tengah ilalang, semua kembali kepada segala kekuasaan.
Kusaksikan bendera di setiap rumah. Ada yang lusuh, ada yang baru. Saya ditimpali seorang kawan, karena di rumah saya belum juga terpasang. Tidak perlu saya jawab. Dia bereaksi, bahwa saya tidak punya rasa dan jiwa nasionalis. Saya diam saja. Karena kemeriahan kemerdekaan semakin konyol saja.
Lalu, ada pesta rakyat katanya. Proposal kegiatan dari tingkat dusun, RW. Kemudian di kelurahan bahkan di kecamatan, hanya tertimbun siap ditimbang dengan nego harga para pemulung, bertarung mengarung di negerinya yang katanya merdeka.
Akhirnya, ayah saya yang sok nasioanalis memajang bendera dengan tiang bambu bekas. Ditambah bendera yang berukuran kecil, kayaknya sejak beberapa tahun lalu, yang masih terlihat jejak lipatannya. Berkibar merasai dan mendera dirinya sendiri, dan miris menyaksikan kebrutalan pikiran yang kian tertumpah di lembah serapah sampah, sesama anak bangsa sendiri.
Apakah ini kemeriahan atas nama menghiasi kemerdekaan, atas nama solidaritas, jiwa nasionalis, yang meraka sendiri tidak tahu? Hanya latah saja ala pesta-pestaan dari kampung sebelah. Agar terlihat nasionalis cinta tanah air! Hem.
Saya bagai tumpul, tidak tahu menyesuaikan yang sudah terlanjur menjadi tradisi setiap menjelang tujuh belasan yang kebablasan menurut saya. Atas nama budaya pula yang juga membuat kita tersandera tanpa sadar. Sementara budaya dan tradisi bagai dua sejoli yang mengkhianati sejarah itu sendiri.
Makin terpuruk terhadap gairah masyarakat kita untuk menggali sejarahnya, menggagas hal yang lebih maju. Dengan kecakapan hidup, merawat generasi kita diasupi cara berpikir, mental, imajinatif, daya kritis, secara ilmiah, bukan sekadar tridisi yang di susupi. Tanpa di suguhi ancaman mentalitas. Kultur yang ngawur menurut saya.
Tetiba seseorang menancapkan merah putih di sebuah huma dekat bukit. “Ajaklah mereka bertarung para delegasi untuk dunia keterpelajaran (pendidikan) bagaimana mereka merasakan keceriaan, kesedapan mendapati kesenangan bidang studi yang dia sukai. Bukan di timpuki dengan PR, hapalan, baca doa, dipaksa patuh lalu tetapi akhirnya patoa-toai (mengejek). Santun tidak harus dipaksa karena biasanya hanya rekayasa”. Mereka masih asyik pesta perayaan kemerdekaan yang kebablasan.
Pekik kemerdekaan terdengar lantang. Di antara anak bangsa yang semakin tercekik begitu pelik. Kemeriahan sesaat, sehari mengunggah di media sosial, terkalahkan konten yang katanya kreator, tetapi berulah menjadi teror horor, budak kapitalis, minim kemampuan imajinatif. Secepat itu tertimpa manusia yang kebelet ingin viral.
Usai perayaan, seorang pemanjat pinang sejati pulang ke rumah, dengan tubuh penuh bekas sayatan pohon pinang dan oli. Kepada anaknya berpesan: Cukuplah ayah merasakan kebablasan terlanjur ini. Kau harus mampu menaruh harapanmu sejauh mimpimu kau gapai. Akal budi dan mentalmu yang kudu kuat. Jangan miskin ilmu, apatah lagi harta, karena kau direndahkan. Bersainglah, berjuang dengan segala potensimu, kecakapan hidupmu. Sebelum mereka merangggas pucuk bunga bangsamu yang menjarahmu kelak.
Tatapan anaknya begitu kuat menahan rasa miris, hatinya terkoyak, manyaksikan ayahnya membawa sehelai baju dan sebungkus minyak goreng, dengan berjuang di tengah licin dan perihnya batang pinang, bau oli yang menyengat, dan ditimpuki temannya sendiri yang ikut berebutan di sebuah tiang pinang, bagai pammobo bokoangna tallasa’na (pengharapan terkahir untuk bertahan hidup) dan tak terasa air matanya jatuh berlinang.
Kredit gambar: https://www.finansialku.com/

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply