Bantaeng patutnya bangga, sebuah torehan sejarah, menambah jejak prestasi kembali sang generasi menjajal bisingnya zaman. Karutnya peradaban.
Ya. Nurfadillah anak desa menempuh asa, mengharumkan nama daerahnya Provinsi Sulawesi Selatan, kampus tempatnya menempah ilmu. Wabil khusus tanah kelahirannya Bantaeng. Alhamdulillah, Nurfadilah bersama tim meraih Juara 1 Tingkat Nasional, lomba Statatistics Infographic Competition.
Keharuan itu tak terbendung, bersama keluarga mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah memberikan doa dan dukungan semoga Allah membalasnya. Demikian seorang ayah mengaturkan rasanya di sebuah media sosialnya. Sambil menaruh foto anaknya di dinding Facebook-nya.
27 April 2005, Nurfadilah, buah hati dari pasangan Syaripuddin S.Ag, M.Pd.I dan Nurhayati, S.Pd.I, di sebuah kampung terpencil, Bulorapa, Desa Bonto Majannang, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng. Kurang lebih 12 KM dari pusat kota Kabupaten Bantaeng.
Sejak usia 4 tahun, Nurfadilah, akrab disapa Dillah, mengenal sekolah TK Morowa, ikut ayahnya yang mengajar di SD Inpres Morowa. Masa perkenalan kanaknya di TK, kemudian lanjut ke SD Negeri 38 Janna-Jannaya.
SMP Negeri 1 Bantaeng merupakan tambatan hatinya sejak dulu. Dengan tekad dan berusaha untuk lanjut ke jenjang selanjutnya. Kemudian SMA Negeri 1 Bantaeng menjadi impian untuknya, ditempah dalam menempuh langkah ilmu dan pengetahuan selanjutnya.
Sebagai remaja, dan perempuan yang lahir di sebuah kampung, tetapi mampu beradaptasi, lalu berprestasi, membawanya kemudian ke sebuah pilihan, yang selanjutnya Dillah tekuni.
Di forum Anak Butta Toa (FABT) sebagai proses aktualisasi dan mengeksplor kemampuannya, untuk beradaptasi, berkomunal, dengan menduduki sebagai sekretaris. Di sana dia harus membagi waktunya, bagai hamparan sabana pengetahuan, Dillah mengasah dirinya. Mampu mengatur jadwalnya, yang sejak SMA begitu aktif di luar kegiatan sekolah.
Seperti petualang hendak keluar dari kegerahan zaman, kian padat memengaruhi dan menghujam peradaban dan pikirannya. Lalu dia menata pola pikirnya, imajinatif, kemudian menempuh petualangannya bersama sahabatnya Mutia. Perpaduan dua anak remaja perempuan dengan kecerdasan, serta sikap dan sifat saling melengkapi satu dengan lainnya.
Tatkala matahari tegak penuh, hingga ke tepi senja. Dillah masih saja berusaha, meski pikiran, raganya butuh jeda. Tetapi dia memilih amanah untuk bertanggung jawab sebagai anggota dan perwakailan dari anak-anak untuk berbagi, berinteraksi demi generasi bersama FABT menghiasi hari-harinya.
Sisi lain meluangkan waktu, untuk menambah kecakapannya dengan kursus bahasa Inggris di Daily London, dibimbing langsung oleh Mr Baharuddin, S.Pd. Dillah begitu lahap agar tidak gagap. Di sanalah nutrisi pengalaman, ilmu sesungguhnya.
Setelah tamat dengan predikat sebagai siswa penerima jalur undangan, untuk mendaftar di Universitas Indonesia namun tidak lolos. Dillah tidak harus putus layangan harapan cita dan mimpinya. Semakin menantangnya.
Lewat jalur prestasi pada President University serta di Universitas Tarumanegara dan lolos. Selanjutnya, mencoba lagi mendaftar di Universitas Trisakti. Alhamdulillah lolos, namun banyak keluarga berharap, Dillah kalau bisa kuliah di Makassar saja. Akhirnya, ikut seleksi di Unhas lewat jalur tes dan lulus jurusan statistika.
Di sanalah perjuangan itu dia mulai, hingga pada sebuah hal yang dulu dianggap sepele, dan saat prestasi itu tersemat barulah orang-orang ngeh! Pengakuan di mana-mana. Mereka lupa di balik itu ada “gurindam” menuntun, selalu ada dan hadir setiap dinamika, ada peran, sebuah prepaduan team work, bertaut merawat dan meraut bersama, ada prosesi dan dedikasi. Terutas menjadi bannang panjai (sebagai benang penjahit, menghubungkan kesemuanya).
Sebuah ilustrasi dari sekian prosesi yang pernah ada meraih prestasi. Saya hanya mau bilang bahwa: Dillah hanya sebagian kecil dari beberapa anak Bantaeng yang mengharumkan nama daerah. Namun, semata riuh tepukan, kebanggaan sesaat serimoni belaka.
Seperti menunggu senja berikutnya, tapi mendung telah merenggutnya. Banyak kisah heroik, ada banyak anak-anak yang berprestasi. Hanya saja kita abai bahkan gengsi mengakui, atau minimal mengapresiasi. Paling tidak memberinya satu momen, untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Begitulah tugas negara hadir. Bukan hanya kebanggaan semu.
Tapi saya yakin, Dillah bukan mengharapkan kesemua itu. Akan tetapi ada harapan, ada pinta agar kelak ada Dillah lain yang menjadi kebanggan bagi kita semua. Anak-anak yang pernah hadir menghiasi catatan sejarah membanggakan untuk daerahnya. Baik yang masih menempuh pendidikan, atau apa saja keahlian, kecakapan hidup mereka. Untuk lebih diperhatikan, ada apresiasi, menyematkannya atas prestasi dari pihak terkait, atau pemerintah hadir. Bukan semata riuh tepukan, dan pujian semata.
Pucuk-pucuk buah pengetahuan, pokok yang kukuh dan kekeh, untuk tumbuh dari rimpung sekitarnya dan dirinya, membuatnya segera bergegas beranjak dari sebuah hal mendominasinya. Dillah menguatkan jiwa, memusatkan pikirannya, untuk kukuh tidak luruh hanya karena persoalan sepele.
Hari dinanti tiba, selama kompetisi, sekian banyak pesaing dari beberapa perguruan tinggi ternama. Dillah dengan kesiapan, kesigapannya telah tunai dan siap dengan percaya diri atas kompetensinya. Optimis memberinya sugesti dan amnesti untuk tidak keder dan minder. Meski Dillah sang anak kampung. Kini mampu bersaing, hingga meraih Juara 1 di Tingkat Nasional.
Sembari di sela waktu saya menyambangi lewat pesan WhatsApp agar tetap tawadu. Sambil mengingat masa dulu aktif kami berbincang, hal apa membuat Dillah seperti itu. Percakapan kami mengalir, seketika terlontar sebuah hamparan motivasi dan tips ala Dillah, “Jangan pernah putus asa, jangan pula karena terpaksa memilih apa yang membuatmu merasa tenang dan pilihan, apa yang membuatmu lebih nyaman melakoni secara totalitas dan kualitas. Maka kau telah melangkah lebih maju meraih mimpi.”
Dillah telah menjalaninya dengan hati, jiwa, dan fokus, begitu puriti (telaten). Mengubah kebiasaan buruk, dengan tidak menjadi generasi yang mudah prustasi dan sindrom yang selayaknya tidak pantas. Jika kau malas, maka zaman akan menggilas dengan segala dinamika peradaban yang kelak cita dan mimpimu dirampas. Bergegaslah sekarang juga. Tegas Dillah.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply