Uang Panai, Mahar, dan Cinta

Tahun 2013 dengan latar hitam membentang, lighting sederhana, penonton yang masih suka ricuh. Dialog tujuh sin (bagian) dengan durasi panjang melebihi tiga puluh menit bahkan lalai di titisan waktu normal.

Teringatlah saya pada naskah yang saya buat kala itu berjudul, “Mahar dan Perempuan”, dengan menumpahkannya dalam tulisan, adegan, dan latar.  Seakan menggugat budaya dari sisi  berpihakannya antara adat istiadat dan cinta. Hem.  Di sana ada bilur kisah cinta diceritakan, ada gairah tak terijabah,  tertolak oleh adat. 

Lantas bagaimana pernikahan di suku Bugis-Makassar di mana  Uang Panai adalah uang yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki untuk membiayai pernikahan pihak perempuan. Sementara Beberapa orang menyalah artikan uang panai sebagai aturan dalam pernikahan. Padahal, meskipun sama-sama diberikan oleh calon pengantin pria kepada calon istrinya, Uang Panai dan mahar memiliki kedudukan berbeda pada tradisi suku Bugis-Makassar.

Disebutkan bahwa Uang Panai digunakan untuk membiayai segala kebutuhan pernikahan di pihak perempuan. Sementara mahar merupakan pemberian calon pengantin pria yang nantinya mutlak milik sang wanita ketika sah menjadi istri.

“Uang panai adalah uang untuk membiayai pernikahan atau resepsi yang diberikan pihak laki-laki untuk perempuan. Sedangkan mahar adalah pemberian berupa uang atau barang kepada pihak perempuan dan menjadi milik mutlak sang perempuan,” jelas budayawan Bugis-Makassar dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Burhan Kadir M.A.

Sebuah fenomena turunan atas nama budaya (Uang Panai). Sementara  mahar hadir dilengkapi dalil.  Fenomena Uang Panai seolah menjatah anak gadis dengan tukar takar materi (rupiah) mulai dari riasan, erang-erang hingga beberapa kebutuhan untuk pesta meriah. Menjadi kebiasaan meninggikan strata. Gengsi sosial. 

Ditambah riasan gaun pengantin puluhan juta, pesta meriah ratusan juta pula. Belum Uang Panai yang kian mahal,  akhirnya kisah cinta dua insan terpental. Tawar menawar harga tancap gas. Pada akhirnya kandas.

Pecah sudah anak perawan di ujung senja dan dini hari, tangisnya tak lagi sesal.  Semua menjadi petaka. Lalu ke mana agama? Di mana pemangku yang suhu bisa menaruh ketegasan.  Potret budaya abai begitu saja. Sepertinya budaya hanya hadir membuat aturan, lalu tanpa solusi.  Bukan menjadi suluh untuk penerang menuju ke peradaban selanjutnya. 

Lalu bagaimana dengan mas kawin/mahar?  Apa juga sama dengan Uang Panai? Sirman Dahwal mengutip pendapat Ahmad Azhar Basyir, bahwa mas kawin adalah pemberian wajib dari suami kepada istri yang tidak ada batas jumlah minimal dan maksimalnya, karena hanya merupakan simbol kesanggupan suami untuk memikul kewajibannya sebagai suami dalam perkawinan, agar mendatangkan kemantapan dan ketenteraman hati istri. Nah.

Kenapa ada Uang Panai? Selain gengsi, tanpa batasan nominal, secara miris maksimal  atau bagaimana  mahar perkawinan dalam Islam? Apakah pernikahan yang dilaksanakan oleh orang Islam tetap tunduk pada hukum perkawinan? Atau  hanya karena kebiasaan lalu agama tunduk tanpa memberi jalan cinta sepasang kekasih?

Semua mulai  hitung-hitungan demi  kemeriahan, kemegahan hingga menjadi petaka dua manusia saling mecinta dan hendak sah menghindari maksiat! Lalu apa hendak dikata,  kebanyakan mengambil jalan pintas. Budaya bertindak seolah-olah Tuhan. Menghukum, mendera, memberi alibi sebagai kesalahan fatal. Lalu semua mengutuk bernama “cinta”. 

Cinta pada titik nadir dan di ujung  takdir! Hendak bertahan, namun ada adat tersemat di luar sepakat dan mufakat, buah kisah asmara membara terpekara hanya karena uang panai. Tertuduhlah anak jadah dan durhaka, seolah-olah  melawan adat adalah kutukan yang melampaui ketentuan Tuhan.

Agar tidak terjebak pada sebatas opini semata, atau sekadar argumentasi/alibi pada tulisan ini. Saya menemukan sebuah ulasan Jurnal FEB Ummul. Dalam sebuah Penelitian ini mengulas sejarah dan perubahan Uang Panai dalam pernikahan adat Bugis-Makassar. Di mana  Uang Panai, sebagai pemberian dari calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai wanita untuk biaya pernikahan, adalah tradisi yang terus berlanjut. Awalnya.

Sebuah hal mencerminkan penghormatan, tetapi sekarang bisa menjadi ajang gengsi atau alat penolakan dalam lamaran. Penelitian ini mengeksplorasi perubahan nilai dalam konteks sosial dan ekonomi.  Telah bergeser pada perubahan nilai dan maknanya, serta pandangan masyarakat saat ini terhadap Uang Panai.

Bahwa Uang Panai merupakan sebuah simbol penghormatan bagi masyarakat Bugis-Makassar kepada perempuan. Selain itu nilai budaya yang terkandung dalam Uang Panai sangat beragam seperti nilai adat istiadat, kekeluargaan, seni dan kreativitas, status sosial dan nilai harga diri.

Adapun perubahan Uang Panai dari perspektif sosial yaitu:  peran keluarga dalam pengambilan keputusan, proses interaksi antara pihak keluarga, perubahan pola pernikahan, sedangkan dalam perspektif ekonomi adalah nilai Uang Panai, perilaku konsumtif, status pekerjaan dan perekonomian keluarga, sedangkan pandangan masyarakat saat ini mengenai Uang Panai, dijadikan sebagai alat negosiasi pernikahan, sebagai alat dalam menolak tawaran pernikahan, sesuatu yang memberatkan bagi pihak laki-laki.

Demikianlah adanya, kemudian kita mulai merasa paling berbudaya, padahal sejauh kita menyusur dan telah terbusur dari beberapa unsur keluar dari hirarki budaya itu sendiri. Katanya ada kultur mengatur tetapi pada akhirnya kabur bin ngawur. 

Tangkusassali adaka. Mingka apaji nasaba loe belo-belona ri kammayya inne.  (Tidak hendak menyesali sebuah kebiasaan/adat, tetapi kenapa mesti pada akhirnya membingungkan/penuh intrik di zaman kekinian. 

Tappu bannang panjaimi pangngainna ri se’rea tussiangaia, lanri nia’na papilea, ka tanre nacini mata ri sesena se’rea tussingainna.  (Putuslah sudah benang kasih dan sayang, diantara mereka, sebab pilihan strata, tertolak karena status sosial golongan dan pekerjaan). Hajat dua insan tertolak penuh hujat.

Kredit gambar: https://makassar.tribunnews.com/


Comments

4 responses to “Uang Panai, Mahar, dan Cinta”

  1. Irma Toputiri Avatar
    Irma Toputiri

    Teruslah menulis… Sang penggiat seni…
    Kami selalu menunggu karyanya…

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Tabarakallah. Insya Allah. Dan terima kasih apresiasinya serta berkenannya Kakak.

    2. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Makasih Kakak

  2. Ratna Puji Avatar
    Ratna Puji

    Adat terkadang menjadi penghalang bersatunya kasih antara dua insan yg saling menyayangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *