Datang dan pergi, beranjak tak berjarak, pergi tapi tidak meninggalkan.
Di antara waktu, bertepatan tujuh puluh delapan tahun silam, ke-Bhayangkara-an dicetuskan dalam sebuah prosesi secara presisi dalam ketepatan, keakuratan dalam sebuah rancangan atau perencanaan. Menyatu menyusuri rimba kehidupan, mengayomi, melindungi, dan melayani.
Tabur tuai, setelah hari esok mengadu ke hari kemarin. Ada rindu menghentak, ada jejak yang kemudian menjadi penanda, pada abjad-abjad peradaban di Bumi Butta Toa Bantaeng tersemai.
Larut tak lebur, seperti itulah kata Edward Jacky Tofani Umbu Kaledi, Kapolres Bantaeng, ketika itu. Lantas segera kutemui seorang Albert Camus di suatu laman. Di sana dia menguatkan sebuah hal yang jarang kutemui sebagaimana ciri pemimpin sesungguhnya: Janganlah engkau berjalan di depanku, karena saya tidak akan mengikutimu, jangan pula kau berjalan di belakangku, karena saya bukan pemimpin. Tetapi berjalanlah di sampingku dan kita berjalan bersama senagai sahabat.
Untuk mata yang cantik, lihatlah kebaikan orang lain; untuk bibir yang indah, berkata-katalah dalam kebaikan; dan ketenangan diri, berjalanlah dengan pengetahuan bahwa kamu tidak pernah sendiri. Albert Camus menutup dengan kata yang lantip
Tunai dan tertuai. Sebagai jiwa altruisme yang mengeja setiap proses mengayomi dan melindungi. Wangi cendana di tanah Sumba semakin mengajakmu bertanak di sana setelah tunai tugas di bumi bertuah Bantaeng.
Sejenak namun memberi penanda. Seorang Umbu menepuk pundakku, “Sejatinya manusia adalah mengurai bersama, merangkul dan menjadi bagian dari segala proses. Tidak harus protes, tapi bagaimana menjadi akses kedirian, integritas, dan loyalitas.”
Sedetik berjumpa, sedekat erat menjadi penguat untuk tahu diri dan bagaimana lebih menjadi manusia bermanfaat. Begitulah adanya, segala yang ada di pikiranku berundak-undak, lalu memberi ruang ekspresi, bukan halusinasi dan sebagai sekadar mengusap-usapku.
Cekatan kutuliskan satu, dua, tiga hingga lima bait. Mengajak semua memadu suara, di atas kertas bekas, sehabis ditumpahi kopi, seakan menjadi jejak sejarah. Walau kita sama-sama takut pada penyaksi, apatah lagi pelaku sejarah.
Beberapa coretan yang akan menjadi kesaksian kita dalam menyanggupi, menyuguhi sebuah instrumentalia dengan larik lirik menggema menjadi penyatu, penguat serta pengingat. Bahwa semua akan dikenang dari setiap jumpa pasti ada pisah.
Albert Camus kembali menghentakku dari sekian ritus ketakutan kehilangan, bahwa hubungan manusia selalu membantu kita untuk melanjutkan, karena mereka selalu mengandaikan perkembangan lebih lanjut, masa depan dan juga karena kita hidup, seolah-olah satu-satunya tugas kita justru untuk memiliki hubungan dengan orang lain.
Pergi tapi tak meninggalkan. Jawaban menguatkanku selaju waktu yang sekejap menyembunyikan keharuan itu. Kecanduanku semakin mengobrak-abrik. Selepas matahari bertaut di ujung pisah.
Umbu menguatkanku, memapahku dari rasa terasing di kampungku sendiri, dari khasanah senja yang orang-orang hanya pandai menjepret dan berfose, berswafoto. Seketika Umbu hadir berkhidmat di ujung kesenjangan yang akan dinanti, dikenang sepanjang abad manusia yang memiliki kekuatan imajinasi, inovasi, secara presisi menghiasi lalu mengisi celah waktu, yang membuatku semakin takut sebuah perpisahan.
Meninggalkan bukan melupakan, kepergian bukan menyertakan segalanya. Ada tunas dalam tugas engkau tunai, dari sini dengan wangi bunga biraeng, kau sapa peradabannya dengan penuh luhur, bagai “assiama dengan presisi” bersama leluhur.
Lantas apa yang menjadi algoritma? Jikalau sejarah kelak akan mengajak dan membawa kita kembali ke masa-masa yang kita pernah ada. Lalu, kita sama-sama takut menjadi sejarah itu sendiri? Dengan apik, Umbu membaca ornamen-ornamen dari segala dialektika kemanusiaan.
Sumba tanah kelahiran, sejuta kenangan memanggil-manggil, ranah tugas yang segera akan tuntas. Sesaat meretas, dengan penuh integritas selayaknya jualah merelakan. Peran manusia sekadar numpang di bumi Tuhan. Begitu jua segala melekat identitas di antara manusia telah dititipkan.
Sebagaimana Alkemis dan seorang gembala yang menenun dirinya sebagai manusia yang punya mimpi, harapan kebahagiaan. Dengan cara merelakan bahkan meninggalkan segala yang ada padanya. Kemudian di sana dia raih, genggam erat sebuah mimpi yang kini relah terjewantah.
Ri kabattuanta kurampeki pa’mai (di awal hadirmu menemuimu penuh rasa, dan hati). Begitu juga engkau di antara gempita kenduri (pesta), tapi kita justru merenung, mengarungi. Selera kita sama dengan membaca mantra-mantra kemanusiaan yang kian mulai punah.
Demi kemanusiaan, dengan panji-panji kerukunan, menciptakan ketertiban masyarakat, kebhinnekaan itu hadir, menyeduhkan sebuah oase dalam etalase kinerja bukan hanya engkau eja. Namun, tertera di dada lontara serta semesta.
Wangi cendana Sumba dan jejak presisi membawamu dengan sejuta wangi prestasi, sedangkan bunga biraeng, menjadikanmu darah bertuah menyuguhkan kebudayaan, ketika itu lesuh dari segala identitas dan entitas.
Lanri niatta “assigappa nakisikamaseang”. Betapa bagian dari filosofimu meretas, membelah tantangan menepis badai dan menuai prestasi dalam “assiama presisi”. Menghadirkan dan menyajikan, merangkainya pada ahimsa, dan penuh kepatutan, etika dan dialektika tanpa direka-reka.
Kembalilah ke tanah Sumba, melewati rintangan, menyeka peluh tanpa keluh, di tanah kelahiran penuh keistimewaan budaya. Tempat mimpi terhubung membubung ke langit. Hingga saat tongkat komando kau raih dengan segala konsekeuensi, mengarung hingga sampai detik saat kusaksikan seragam kebesaran itu di Hari Bhayangkara.
Di sanalah sejatinya kemampuan, potensi secara presisi dan dari segala dimensi, telah engkau susuri dan lewati. Lencana itu tertulis dalam kencanamu. Merawat budi, merawat luhur, dalam pekerti dan budi yang engkau tuai dan tunai.
Secara presisi dalam ketepatan, keakuratan dalam sebuah rancangan atau perencanaan. Sebuah wasiat engkau rakaatkan dalam fungsi, sebagai pengabdi (polisi) mengukir dan merintis. Tanpa sengaja kususuri ritus dan status dimensi budaya tempat alam dan kemanusiaan menempahmu.
Ya. Di sana ada tradisi dengan sakral bernama Mana’o. Serangkaian ritual adat yang diwariskan oleh masyarakat asli Sumba Barat, yang memiliki kaitan erat dengan kepercayaan Marapu. Ritual ini dipercaya sebagai cara untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan leluhur, alam, dan hewan.
Selain itu, tradisi ini juga merupakan fase pembersihan diri, permohonan keberkahan hidup, dan bentuk rasa syukur. Para pelaku ritual adalah perwakilan pemangku adat masing-masing suku, pemimpin daerah setempat, dan masyarakat secara umum.
Nah, alam semesta merestui di tanah bertuah, Umbu lebur menunaikannya dengan segala adab, estetika, keilmuan hingga pada sisi kecakapan hidup yang mengalir, melengkapi untuk rangkaian perjalanan (karir) selanjutnya.
Seperti sering saat kita bersua kala senggang waktu. Di sana saya menikmati alur pemikiran, Mana’o sarat akan norma-norma yang mengatur hubungan antar sesama manusia dengan lingkungannya, serta hubungan dengan leluhur, sehingga bisa dikatakan tradisi ini memiliki dimensi vertikal, horizontal, sekaligus sosial.
Marapu dan bertuah menyatu sebagai petuah untuk kita semua. Melingkupi keterhubungan bagaimana kedua budaya ini bertaut, meraut setiap potensi, bagai pinangan telah sah, lalu menuju bahtera selanjutnya. Sedetik kuketik menjadi pemantik, pada satu hal sering Umbu pahatkan: nilai.
Sedepah kemudian kutemukan arti assiama presisi sesungguhnya. Lantas kepergian itu hadir menyeruak haru, menyelimuti alam Butta Toa. Merambat ke tepian rindu tak terbantahkan. Namun, berharap Umbu tak meninggalkan kita, kami, aku, dan mereka untuk menyemai bersama, meneruskan, menerjemahkan dengan mengambil peran walau hal sederhana, tapi mampu meretas kesenjangan sosial, kehidupan, masyarakat dan kedamaian.
Siap Komandan! Kebiasaan itu melerai rindu dan harapan itu berlanjut menuju titah untukmu, berkhazanah menampukmu dalam amanah. Walau tidak membiarkan damai itu pergi, dari semua kenangan yang pernah menjadi hamparan sabana hati, jiwa, dan pikiran di tanah bertuah bumi Butta Toa Bantaeng.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply