Author: Dion Syaif Saen
-

Cinta dan Kebajikan, sebuah “Kutukan”
Kitab kuno Cina termaktub di dalamnya, bahwa “cantik itu kutukan”, karena para selir digilir atas hasil seleksi tercantik, akan menjadi bagian dari rias syahwat sang raja dinasti di zamannya. Lalu, Eka Kurniawan menggugahku kemudian, dengan judul bukunya, Cantik itu Luka. Dan cinta itu bisa menjadi menderamu dari luka di atas luka. Begitu pula kebaikan yang…
-

Kopi Senja “Loyalitas dan Integritas”
Sebagai terapi, seketika kutemui di antara perjamuan sore. Menutur penuh khidmat pada satu hal yang mendasar pada setiap hakikat manusia. Lembaran satu persatu diamati. Kusaksikan di antara mereka menyimak dengan tanak. Awa dari tadi penuh deg-degan, si Eka meski telat juga merasakan hal sama seperti pula Irma, detak nadi dan jantung berdetak kencang, Jojo dengan…
-

Mengeja Perempuan Bernama Mutiara
Kodratinya semata hanya mencuci popok bayi, melahirkan, melayani,merawat anak sejak pagi menjelang, menanak nasi, merangkai bunga, mencuci piring, menghidangkan sarapan pagi, siang dan malam. Dan sampai pagi kembali ritus yang dia harus parutus (urus). Bagai sukma mengajak bertamasya menuju mahkota perempuan, melengkapi dan membalut sepinya adam di Surga dengan rusuknya yang menetralkan, serta melengkapi kehidupan…
-

Dari Tanah Sumba “Assiama” di Tanah Bertuah
Dari tanah Sumba dengan simbol kuda dan kayu cendana. Mengarung di pematang zaman menuju tanah penuh petuah Butta Toa Bantaeng. Teringat seorang penyair, yang kemudian meninggalkan tahtanya, kekayaan dengan ratusan kuda. Lalu menyusuri balada sunyi menemukan kesejatian dirimya. Ya, dia adalah Umbu Landu Paranggi, lahir di tanah tercintanya, Sumba, hingga menjadi guru para penyair di…
-

Politik Parayu nan Memesona
Adalah Burhanuddin Muhtadi mengungkapkan, “Berkaca pada pemilu yang telah dilakukan sebanyak lima kali sejak awal era reformasi, mayoritas masyarakat Indonesia, mampu dan dapat menjaga stabilitas keamanan nasional.” Lebih dalam Burhanuddin melanjutkan, “Selain itu, para elit di dalam negeri sangat percaya bahwa politik Indonesia itu sangat cair, sehingga demokrasi dianggap sebagai satu-satunya jalan yang paling diyakini di…
-

Pesona Si Katan
Seketika sahaya kembali pada masa kanak-kanak dahulu. Bermain ketapel, lalu menyusuri beberapa pohon di antaranya pohon kersen tetangga, pohon jambu air, di pucuk ilalang. Sambil mengendap hendak menangkap, atau beberapa di antara kami membidiknya. Itu salah satu jenis burung sikatan (cui-cui). Sahaya kemudian terjenak membenak, dengan secara seksama, tetapi bukan pada tempo sesingkat mungkin, saat…
-

19-20-21
19 Tiap naluri, adalah duri! Jika tak pandai menari dan melerai eforia dan confidence. Tetapi manusia kekinian, semakin diuji semakin ingin dipuji. Setepi ombak memberi ruang dari rongga-rongga bebatuan berkarang, dia penuh teguh, dan juga mampu meredam gairah angin dan arus yang membawanya. Dia gelambang yang mengembang tenang. Ajaklah dirimu membiasakan memahami letak-letak bahasa aktualisasi…
-

16-17-18
16 Orang-orang pandai, mengepung di antara manusia bijak, di telaga manusia sederhana, baik tutur maupun cara bekerjanya, mampu menafsirkan sesuai perkataannya. Suatu ketika, sebuah purnama muncul tiba-tiba. Dekat kerumunan sekelompok manusia sekonyong-konyong. Kepandaian itu kemudian merencanakan sesuatu pada sebuah percobaan diri, penuh kecendrungan mau tampil, tetapi tidak berproses. Saat itulah, kecendrungan mulai tampak manusia latah…
-

Kedok Budaya
Apakah budaya itu? Bagaimana bisa mengatur kehidupan, menaruh doktrin yang harus kita yakini dan kita jalankan. Walau kadang bertentangan dengan nalar. Apakah budaya sebagai pengetahuan yang abadi? Atau saat dia hadir sebagai pelengkap, ketarutan manusia agar lebih tidak menjadi lebih liar bagai rimba dengan penghuninya yang brutal tanpa akal? Sementara manusia memiliki akal untuk berkembang. …
-

Penyair Celana Menemui Sang Maha Sastra
Dunia sastra kembali berduka hari ini. Sastrawan sekaligus penyair Joko Pinurbo meninggal dunia, Sabtu, 27 April 2024, pukul 06.03 WIB di RS Panti Rapih, Yogyakarta. Benteng Roterdham Makassar, perjumpaanku denganmu kala itu kau asyik menyeterika kata dan cara pandang mendamaikan puisi dan kata. Sesekali melirikku lirih. Dan kau tak mengenaliku dan itu pasti serta wajar. Karena saya…
