22
Aku mengira kau telah pergi jauh, meninggalkan bekas kecupan di kening, tanpa dugaanku terdetak dan mengepakkan sayapmu, bersama penekuk dan teluk cinta yang telah tersemai.
Dan pada akhirnya, setelah aku belajar merelakanmu. Tiba-tiba angin sepoi menyambar jendelaku, kabar siuman darimu telah terbawa pecahan-pecahan angan dan belangah. Aku hanya menyaksikan beberapa ekor burung terbang rendah dan mencari kebebasannya. Tetapi dia masih saja dalam keputusan memilih dan konfliknya keadaan dalam syaratnya.
Aku telah merelakan atau kau pulang masih bersama ilalang. Justru selalu menunggumu di bibir pantai dengan ombak landau, memberiku isyarat, bahwa hidup dan penantian menyiksa sesaat, tetapi kau pun pulang dengan kemuliaan atau melepas sengketa syarat itu.
Dulu kau datang dengan memberi tanda, lalu pergi menyisir tanpa berpikir dan selalu merasakan kekuatan rasa itu memburumu.
Sesaat kemudian, seperti biasa, sebab kerelaan itu adalah cinta sejati sesungguhnya.
DSS 210618
***
23
Pada hujan belajar tabah. Dalam ranah tetap ramah. Dengan rias pertanda diri pada wasiat. Betapa rindu itu merelakan. Meski remang zaman gaduh. Kau tada tak tersuluh.
Jiwa-jiwa sesungguhnya. Merawat dalam kesemestaan. Pantang mundur dengan hati teguh. Di antara kehidupan yang tersuguh. Kau masih menyeduh dengan teduh. Setabah hujan.
Membentuk kuncup menajadi buah. Meretas yang teranggas, tanpa kau menitipkan bekas. Kau raih dengan prinsip yang tegas.
Percakapan ini, aku luruh seketika, dalam suguh tak berjumawah, terang tak menambahkan yang lain. Sejujur matahari, pandumu saat fajar membingkai sabanamu.
DSS 250618
***
24
Dunia dan bumi yang mana, manusia meminta sajadah? Sejalang penyair yang dituding mangkir dalam berpikir.
Suasana di mana orang-orang inovatif dan kreatif, yang di tuduh apatis dan antagonis, dimatikan di mukimnya sendiri.
Atau telah telah melihat sekelas bajingan apa pun menemukan jalannya sendiri dengan beruntung.
Apakah kebencian selamanya tak berwatak? Atau kecintaan yang disemaikan dengan mengada-ada saja. Dengan sigap, aku menemukan ingatan itu kembali, tentang sebuah ide dan gagasan mentah dan dilipat ditaruh di dekat sampah plastik.
Aku butuh Rahwana, untuk merebut kembali. Sebab aku lebih memahami cinta dan kejujurannya kepada Sinta, dibanding Rama, yang pura-pura ramah.
DSS 250618
Kredit gambar: Facebook Lisa Mulkin

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply