Apa kriteria pintar itu? bagaimana dengan kata cerdas? Atau beberapa kalimat lain untuk yang dimiliki kecapakan dan potensi setiap manusia?
Cania Citta mendefinisikan pintar itu smart, artinya cara mesin berpikirnya canggih dalam mengolah informasi, karena penalaran atau logikanya bagus.
Lebih tajam lagi Cania menggunakan tiga indikator atau cara menilai orang pintar atau tidak. Pertama, mampu mencerna informasi dengan bijak! Artinya mencerna informasi itu dengan baik dan benar, sesuai apa yang terdapat di dalam informasi tersebut, bisa membantah ataupun tidak dan sebagainya. Mereka juga harus paham konteks, alias nyambung. Maka, bisa dikatakan orang tersebut masuk golongan pintar.
Kedua, kemampuan membuat keputusan, di mana Kalo keputusan jalan yang diambil tidak mengarah ketujuan akan berarti semakin jauh dari tujuan. Maka orang yang seperti itu bisa dikategorikan tidak pintar dan kemampuan pengambilan keputusan ini juga beririsan dengan kemampuan problem solving yang dimiliki seseorang.
Ketiga, punya gagasan atau ide. Sebagai misal, ada suatu isu dan ia mempunyai suatu pandangan, maka orang yang pintar harus bisa memberikan pendapat yang sesuai serta didukung dengan bukti atau data. Tidak asal, tapi ketika ditanya alasannya kenapa malah ngambang. Atau paling tidak kadang memakai kata sakti yaitu “pokoknya!”
Cania juga membedakan antara orang yang berpengetahuan (knowledgeble) dengan orang pintar yang baru disebutkan di atas. Orang yang berpengetahuan hanya memiliki segudang informasi saja tanpa bisa mengolahnya.
Namun, bisakah atau mampukah orang berpengetahuan sekaligus pintar juga? Akan tetapi orang berpengetahuan tapi tidak pintar juga banyak. Contoh seperti orang yang berpengetahuan yang membawa banyak perkakas, tetapi tidak tahu perkakas ini digunakan bagaimana.
Cania menggugah sekaligus menggugat, mencecarku di sebuah percakapan, yang saya ikut sekadar nimbrung. Bukan numpang seolah pintar tapi mencoba agak sedikit pintar merasa. Saya mencoba merekayasa kecerdasan, kepiawaian, kecakapan, untuk tahu diri.
Cukup rumit menangkap dan menelaah. Sebagaimana pintar, cerdas, dan piawai. Ini membuat saya kebingungan menaruh pembeda. Bahkan saya merasa agak konyol sendiri selama ini, mana yang pintar, cerdik, dan cerdas.
Rasa-rasanya Cania cukup kritis menabalkan hal sederhana saja untuk memahami, yang manusia kebanyakan teori. Sampai merasa pintar. Kadang ada pula kebablasan. Ataukah saya sendiri terlalu sentimentil bahwa “pintar dan cerdas” tanpa dikelolah dengan baik. Maka berakibat lebih pada “culas”. Atau sebaliknya lebih terarah, baik prilaku dan tindakan yang lebih solutif. Bukan hanya sekadar aktraktif.
Kembali mencerna ketiga rangkaian kepintaran di atas. Kemudian sampai saya mengukirnya bukan seolah menulisnya. Bahkan kalau perlu saya lukis. Tetiba seorang karib, Mubarak, nyeletup. Itu juga pamer. Seolah multi talent. Padahal, masih butuh dikoyak-koyak lagi untuk ditempah, diasah, agar setiap kecerdasan, kepintaran bisa bertaut seiring. Ya. Percaya diri boleh bro! Tapi jangan berlebihan (over).
Tawa Cania seperti meledek. Akan tetapi sesungguhnya membuat saya tercerahkan. Betapa ilmu, pengetahuan begitu renyah nan seksi. Seperti kusimak keduanya di salah satu ruang percakapan YouTube bersama Cokie Pardede sahabatnya.
Kedua pemandu ini, bercakap tema sepadan dengan hal-hal yang selama ini saya sendiri mengalami, bertengkar hal sepele, seperti bertindak seakan berwawasan, bijak lalu eksekusinya menjadi bias. Serta beberapa hal, yang membuatku semakin terjerumus tanpa kamus dan terasing. Betapa reaksi tentang nilai kepintaran memenuhi ruang pikiranku. Apakah saya merasa pintar saja selama ini?
Cania mengingatkanku dengan mendaras hal mendasar. Maka kau akan menemukan jalan lebih terarah/objektif. Tidak kesusu. Ya. Cania bukan perempuan merasa pintar! Dia cerdas, ada sensor sensitiftas secara sains, pada tunas dan tuntas dengan segala pergolakan, pengalaman hidupnya, dan cara mengolah pikirannya.
Ada orang berwawasan, namun tak mampu menerapkannya secara real. Ada yang merasa bijak, tapi masih suka membajak belum tanak. Ada juga kepintarannya mumpuni, tapi ada sekat dan secara psikis menyikatnya. Kebanyakan seperti itu. Betapa banyak kata untuk sebuah penamaan sisi manusia punya kelebihan. Ada kata pandai, piawai, pintar, cerdas, dan genius menjadi bius yang spesifikasi khusus.
Cania meneruskan uraiannya. Penerapan dan cara ilmu itu memiliki empati (sebuah struktur kecerdasan). Ada beberapa sebab akibat yang menempatinya. Misalnya seorang istri katanya wajib untuk setiap pagi menyiapkan kopi, sarapan pada pasangannya (suaminya).
Padahal, belum tentu saat itu suaminya butuh kopi atau sarapan. Nah, kata Cania itu juga kecerdasan yang kebeblasan. Karena itu tidak menempati hubungan yang karena doktrin budaya pula, tidak logis (tanpa data). Jelas Cania saat ditanya di suatu wawancara.
Cania tidak harus melakukan itu kepada Sabda (suaminya). Hanya sebatas kebiasaan, romantika, atas nama budaya katanya, dogma agama, atas nama kodrat, apalagi sekadar menerawang, meraba, atau menerka saja.
Tanpa ada data valid dari Sabda, apakah betul dia butuh kopi atau sarapan? Hanya karena keterbiasaan kebanyakan orang. Maka saya harus menjadi bagian yang belum jelas bahwa setiap pagi suami saya butuh kopi. Sok tahu namanya.
Benar juga gumamku, sembari mengingat-ingat kebiasaan, atas nama kodrat, budaya, agama, politik, dan kebiasaan manusia umumnya, yang terkepung hanya karena terjebak dalam pikiran-pikiran yang belum jelas.
Hanya karena takut kualat, tak beradab, dan bahkan kita cendrung mengalah saja. Tanpa mengolah pikiran. Daya imajinasi dan kritis dikikis. Dalam berdialektika, bertindak dan berlagak itu kadang kutemui.
Saya terbawa kebiasaan itu. Terlalu berharap wangsit, sementara yang lain sudah terjun dengan parasut happy landing di hamparan pengetahuan. Sekian lama ini saya seolah berwawasan, berpengatahuan, tapi sering lupa diri bahwa masih butuh diasah, diaduk-aduk dan ditempah.
Menjadi culun rasanya! Tetiba cekikan Cania menampar kecendrungan saya seakan memaksakan diri (ikut-ikutan). Saya harus kembali ke dasar katanya. Belajar kembali merangkai, dan menganalisis, bukan asal merangkum simpul yang juga timpal dan tumpul. Seakan memaksaku untuk keluar pada zona yang membuatku semakin terjebak.
Lantas kemudian saya ke lembah, ke tepi waduk penhetahuan, namun masih ragu dan takut tenggelam tanpa ilmu dan kepandaian berenang. Hanya tahu cara, dengan sekadar melihat saja. Tanpa pernah melakukannya.
Merasa pintar itu wajar, tapi sebisa mungkin kau yakini punya kualitas. Pintar merasa itu juga hal sifat penuh kerendahan hati. Tetapi hati-hati kau akan dinafikan pada belantara manusia yang minim mengakui, hanya dengan taktik serobot dan mencaplok. Kau akan merasa paling goblok!
Karibku, Mubarak, kembali menepuki pundakku mengingatkan. Jangan terlalu merendah, nanti kau dikunyah-kunyah. Saya terdiam menyimak kalimat itu. Benar juga. Kebanyakan manusia sekarang kepintarannya cukup mumpuni menjadi tameng. Cirinya kadang tidak sesuai karakter.
Sepertinya persoalan interpretasi dan nalar yang butuh untuk menjejaki logika dasar. Agar bagian kecerdasan, atau kepintaran bisa membawa perubahan kepada manusia, yang sekian lama stagnan untuk menggunakan daya nalar dan imajinasinya.
Sementara Cania dan Cokie seperti asyik menunggangi pikiran-pikiran saya.
Betapa di atas pintar ada namanya piawai. Kau kudu berjaga-jaga saja. Dengan mengikuti ritme, atau kau menjadi pemain dalam mengolah pikiran, pengetahuan, seperti Cania dan Cokie!
Mubarak meletakkan gelas kopinya dan membakar tembakau, mengembuskan asapnya ke udara sore. Bagai etalase perjalanan manusia yang kerap mulai kehilangan selera dan kesedapan dalam ruang-ruang berpikir, untuk lebih sepadan apa yang menjadi kepintaran, kecerdasannya bisa bermanfaat. Bukan sekadar menjadi pemikat.
Saya kemudian terjebak dan hampir tersesat pada kepiawaian. Awalnya begitu menawan. Namun seperti di tengah gurun, saya menjadi tawanan.
Saya menikmati semua alur, menyaksikan sekian banyak peristiwa yang merasa sepuh, namun cupu. sambil cengengesan, karibku Mubarak, mengajakku merancang dan mengelolah siasat kepintaran selanjutnya.
Kredit gambar: https://tampang.com/

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply