19
Tiap naluri, adalah duri! Jika tak pandai menari dan melerai eforia dan confidence. Tetapi manusia kekinian, semakin diuji semakin ingin dipuji.
Setepi ombak memberi ruang dari rongga-rongga bebatuan berkarang, dia penuh teguh, dan juga mampu meredam gairah angin dan arus yang membawanya. Dia gelambang yang mengembang tenang.
Ajaklah dirimu membiasakan memahami letak-letak bahasa aktualisasi yang pura-pura gengsi, namun mencari sensasi. Perankan apa adanya seperti pecahan cahaya menebar tanpa harus memuncah, memecah di setiap celah.
Di antara teluk manusia, mereka merasa nyaman dengan kesenangannya sendiri, tanpa harus menyerah sejenak, untuk menjadi bagian dari manusia yang juga jauh lebih memukau tetapi memiliki pandu. Berapa banyak nilai menyeret dan dideret, dengan aksara yang sudah tampak kacau di gerai tubuhnya, menuang anggur dan mabuk di tengah eforia yang ria.
Aku ingin pulang, pada cermin pecah mengubah wajahku, menjadi wajah-wajah berbeda walau serupa. Tanpa harus membintangi arena di kesemestaan dramatikal, bertipikal bakal, bebal di tengah binal yang makin nakal.
Aku pulang, atau berdiri beberapa saat, mengampuni aksara-aksaraku sendiri yang telah mabuk di tengah lubuk manusia palsu.
DSS 190618
***
20
Tiada kau harus pungkiri, pada tirai-tirai yang menyirat dan menyulam dendam.
Nia’ rampe kana ri loko’ nyawa parannu rupa tau. Ada sebuah tutur menyiksa bathin sesama, tingkah dan cara manusia beradaptasi dan mengadopsi sebuah diksi.
Ada manusia humoris, agamais, dan seakan merilis surga dalam
catatan kecil khutbah dan ceramahnya, seperti para pendengar adalah ketulian
dan kealfaan dalam tasbih kepada-Nya. Atau Budayawan, yang mulai tak
memperlakukan adab. Senimannya yang orgasme seolah idealis dengan egonya
sendiri.
Mungkin sepertiku menikmati klimaks sendiri, dan menawar
duga dalam dangkalku yang sepi. Seperti pula cendekia, yang melawan gelombang zaman, bertahan pada kecerdasan pada akhirnya kebablasan.
Politisi dan polisi sama-sama gaduh, seolah menyeduh teguh,
namun butuh asupan sagu! Ehem. Ada petisi, ada ilusi, politisi seolah padu
sewindu, lalu setahun menghilang di tandu rakyat yang butuh pula sagu.
Ah, betapa suasana dan ranah cukup pelik. Dalam teluk aksara, biarlah aku bagai kerbau, dan bau tembakau meracuni segala firasat dan
sangka.
Aku kembali pulang ke huma, tanpa gumam sekalipun, agar
manusia tak kecewa dengan peramal di bibir kanal yang dangkal. Lalu kubuat
peraduan di tengah musim semi.
Menunggu bunga mencari sepercik embun di antara rawa-rawa
arwah manusia yang dulu pergi dengan bijaknya. Aku rindu akan semua itu.
Sungguh!
DSS 190618
***
21
Maka tinta dan pena akan menjadi cakar melebihi elang, jika ketiadan mawas diri di ranting dan di pagar pagi manusia latah meresah keluh kesah.
Atau aku pura-pura melengkapi pagi dengan senyuman meniru-niru yang lain. Sekelabat seseorang kadang lupa, kemana fajar menyirat dengan syarat di luar kendali, merasa telah jaih menjadi musafir, padahal belum hijrah sejengkal pun dari perihal kedirian dan sifat seadanya.
Menjulur lalu kabur di tengah kerumunan, merajuk ingin dibujuk, lalu menunjuk sebuah alasan, namun masih saja terjebak di antaranya.
Letaknya tak jauh kata Dodit, seorang yang mampu membaca sesuatu di antara manusia lainnya. Bahwa semua itu ada di antara kalian, dekat dengan sedekat hujan dan awan, dekat sedekat ombak mengenali bibir pantai. Maka jangan lengah, jangan biarkan peluang itu mengepungmu.
Akhirnya saya menoleh, namun aku menemukan diriku bertepi di ujung senja menunggu sebuah wasiat dari kencan pertama dan pengalaman mencium bibir kekasihku.
DSS 210618
Kredit gambar: Mauliah Mulkin

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply