16
Orang-orang pandai, mengepung di antara manusia bijak, di telaga manusia sederhana, baik tutur maupun cara bekerjanya, mampu menafsirkan sesuai perkataannya. Suatu ketika, sebuah purnama muncul tiba-tiba. Dekat kerumunan sekelompok manusia sekonyong-konyong.
Kepandaian itu kemudian merencanakan sesuatu pada sebuah percobaan diri, penuh kecendrungan mau tampil, tetapi tidak berproses. Saat itulah, kecendrungan mulai tampak manusia latah dan seakan membawa sesuatu, tetapi hanya kicau yang berbulu dekat leher dan paru.
Tentang peran dan sekuncir lihainya, bagai tupai mewarnai pohon kelapa. Dalam kenari dan kondisi mampu memfaatkan.
Teramat seksi dan selalu curi perhatian, seolah terlihat dungu, tetapi selubung membubung di ubun-ubun. Setelah purnama bertema kencan dengan memantulkan cahaya di atas ombak.
Kumulai menebak, dalam benak secara berpinak, telah menjadi sesuatu yang tidak bisa manusia sembunyi, dengan ekspresi apa pun. Manusia seolah-olah pandai, selalu merasa tahu, adalah ciri manusia yang kekinian di zaman cari prestise, aktualisasi, dan jati diri.
Aku mulai menaruh curiga, lalu lekas membuang prasangka itu, walau sejauh pertautan dan mengenali manusia berkuncir hingga berpikir, penuh dialog terhadap sesiapa kita berjaga.
DSS 070618
***
17
Dalam diam merawat sekelumit, dari beribu tanya, berpendar dalam titik nilai tak berkadar. Apakah itu memunculkan kriteria atau nilai yang sama pada sebuah sketsa yang juga berbagai macam tafsir.
Hidup adalah pemecah sunyi yang disembunyi, tanpa melibatkan sangka yang tercenung di pemahaman logis atau serayu-rayu bunga malu. Bukan…Bukan itu! Ada relung yang tanggung membendung alur yang memercikkan sedayu bayu membaharu dalam benak tanpa kalian tanak.
Kami hanya anak pinak, yang direkayasa pada benak manusia pemburu fantasi dan prestise. Dan meyakini bahwa kehidupan dan perjumpaan itu bukan kebetulan atau klise. Tetapi telah diada-adakan semesta dari teluk aksara kami yang masih bersembunyi dalam senandung yang tak semudah dimungkiri.
Sebetah apakah camar menunggu kabar? Sesegera melesat kepakan sayapnya yang tegas merekahkan senyumannya pada setiap senja dan wasiat hari dari yang telah di lewati. Bukan pula secara sehati mendekati menitiip peran sang bunga tulip. Mengintip dekat jendela sore yang mulai redup dalam pagut matanya yang merawat teluk di hatinya.
Daun terusik dekat kita, mampir berteduh saat matahari menguatkan, meraih lengan dan tudung perempuan dekat tiang penantian hendak pulang. Seekor merak terbang mendekatinya, mengipaskan sayapnya, dan kerelaannya menunggu warna di matanya yang telah terawat.
Dalam aksara, kita bukan sebuah penyuguh riak risau yang berdesau, biarlah mereka menganggap tabu episode teluk itu. Di balik aksara masing-masing subyektif atau obyektif yang tidak berlebihan berprespektif negatif. Sebab kita adalah kiat kesemestaan yang telah ada jauh sebelum perjumpaan di sore yang menjengkal menuju teluk magrib.
Kita pulang, di bukit huma yang sewajar tebar cerianya hari, tanpa membenci matahari.
DSS 150618
***
18
Saat tuan menabur benih, di antara tanah tanpa hujan, hanya hati berserah. Apakah juga itu pasrah dan menyerah.
Atau saat pertama jendela terbuka, ada pandu di antara desau angin yang menyerahkan risau yang teringat pada buah benalu.
Atau menyimak pesta peran, dalam sebuah hajatan untuk selebihnya kita terjebak. Atau menebak, membenak, tanpa kita menemukan sajak yang cukup telah sesuai.
Seperti aksara, hanya mampu menundukkan yang diam, yang bisu merasa, yang tuli meraba lewat desak hatinya. Dan yang buta merasakan batinnya.
DSS 170618

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply