Sebagai terapi, seketika kutemui di antara perjamuan sore. Menutur penuh khidmat pada satu hal yang mendasar pada setiap hakikat manusia.
Lembaran satu persatu diamati. Kusaksikan di antara mereka menyimak dengan tanak. Awa dari tadi penuh deg-degan, si Eka meski telat juga merasakan hal sama seperti pula Irma, detak nadi dan jantung berdetak kencang, Jojo dengan ciri khas diamnya menunggu kepastian. Dan Ati, menata geraknya seribu diam pula, serta Ikbal menyertakan doa. Dua pekan ketegangan, rasa serta pikiran yang teraduk-aduk, dan saat dinantikan tiba dan telah sah dituntaskan dengan penuh keharuan.
Lamat-lamat kemudian perbincangan mengalir dengan satu hal, tentang bagaimana memosisikan diri pada setiap dinamika, segala konsekuensi dengan berpikir positif. Dia melanjutkan dalam sebuah pilihan harus berpikir positif, dapat menghasilkan hasil yang positif. Lalu mengajakku, mendaras sebuah nilai bernama “integritas”. Kami menyimak dengan tanak.
Agar tidak tersesat defenisi. Saya memasuki kamus besar bahasa Indonesia, tentang pengertian integritas itu. Di sana tersuguh sebagai mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan atau kejujuran.
Seorang karibku, Fitra, menegaskan dengan rangkaian asimilasi dari loyalitas dan integritas. Di sanalah nilai identitifikasi manusia berkualitas. Saya tertegun sembari merunut kembali ke setiap pergulatan dan pola saya berinteraksi sekian puluh tahun. Sekelumit kehidupan janganlah membuatnya rumit tuturnya! Dia mengurai kembali bahwa secara hirarki antara teori dan implementasi di setiap proses mengawali sesuatu tidak harus lama berpikir. Eksekusi! Tegasnya.
Kusimak kemudian, Fitra melanjutkan beberapa contoh dan sama beberapa laman yang kutemukan bagaimana ciri integritas itu. Orang berintegritas memiliki sikap jujur, tulus, dan dapat dipercaya. Pula bertindak transparan dan konsisten, sembari menjaga martabat dan tidak melakukan hal-hal tercela, bertanggung jawab atas apa saja yang telah dilakukan serta memiliki sikap objektif.
Sepekan awan menambat hujan, lalu menjadi bebasuhan tanah, bunga dan pucuk ranting serta dedaunan. Fitra bagai menyulam pengetahuan tentang riwayat dan hikayat manusia.
Resah rindu itu kutanggung, sekian hari bahkan esok hari, kemarin, lusa terhitung bagai tasbih ternisbikan pada Jumat sore yang ditawarkan untuk bertemu. Setelah bergumul pada lembaran kesepahaman.
Kusambar saja sebatang, saat kecamuk rasa menderaku, dengan canggung dan tercenung pada satu hamparan pengetahuan darinya. Runut saya kembali ke laman-laman peringaiku. Sepucuk namun membasuh menjadi kuncup buah kedirian, dedikasi yang kadang kita lupa selama proses kita berinteraksi kepada sesiapa saja.
Sementara beberapa lembaran telah lengkap terjilid rapi. Seperti penantian panjang yang menghuni pikiran-pikiran. Dengan cermat mengamati dengan penuh rasa was-was dan degup jantung segera tertanggung. Di sanalah Fitra menyuguhkan kami tentang uraian-urain tentang kesepahaman, kesepakatan dengan nilai bernama “integritas” dan “loyalitas”.
Benar adanya. Sejauh mana orang mengatasnamakan integritas namun minim kualitas. Justru menjadi percakapan saja selama ini. Menarik dan memantik, menyundul-nyundul gairah untuk mengasuh kembali tentang bagaimana sikap, sifat yang kemudian bukan menjadikan integritas hanya alat untuk pengakuan saja.
Secara mental, dan bertahan pada gugatan hasrat pribadi, eksternal, untuk menjaga sistem yang fundamental agar tidak mudah goyah dan terpental. Walau ladang kebanyakan kebablasan hanya karena kesenjangan antara harapan dan keinginan, terjun bebas ke tubir moralitas yang kehilangan kadar.
Secara kuantitatif, kualitatif itu relatif, dan cukup subjektif kadang manusia menjalaninya sekadar identik agar merasa unik dan menarik. Padahal ada somasi dari nilai, kepercayaan, kedirian yang kemudian tergusur oleh ornamen kepentingan, sosial, gengsi dan di ujung perapian mereka merayakan kenduri, membakar dengan api unggun dari kayu integritas, loyalitas serta kualitas hanya karena secuping ingin, ekspestasi yang disuguhi iming-iming tersisa dan menjadikannya abu.
Kopi senja sisa setengah, Fitra mengingatkan kami, dalam bentuk sederhana dia menarik benang merah pada sisi sifat alamiah manusia pada umumnya sering kumat. Dengan mendedahkan satu keteduhan sebagai alarm untuk bersiap atas gejala dan gejolak dan gejala setiap diri sendiri, yang mumpuni menggusur nilai-nilai integritas. Teranggas tanpa pamit lalu menjadi dinamit pada setiap proses kehidupan, manusia, persahabatan, pertemanan, kelompok, kian pelik suka mendelik.
Matahari pelan merambat. Sekisah sehari tertempuh dengan segala situasi dan dinamika kehidupan dan sifat manusia. Ada yang mendekat lalu mau mendekap seperti biasa, tetapi menyimpan belati mereka tancap, ada pula hendak klarifikasi pada saat situasi sudah mulai basi. Saya kemudian hendak mencari suaka.
Namun, ada hak tak kuasa. Karena saya telah kebablasan dan kecolongan. Ya. Seakan kehidupan dunia/manusia kian rusuh. Padahal pikiran, hati, jiwa yang butuh di-update, tambah nutrisi dan suplemen lentera litera, agar tak terdera oleh perilaku merambat menjadi benalu lalu berbuah perkara tanpa muara.
Berpikir positiflah, maka kau akan menjalani hidup lebih tentram. Siapkan diri tanpa harus merasa tidak mampu. Kerjakan lalu jalani dengan hati. Maka kau akan menemui hidup lebih berarti. Fitra menutup pertemuan di teras filosofi sore itu.
Saya masih kalabangngang (diam terbawa suasana) menyembunyikan rasa. Hendak menumpahkan semuanya kepada mereka. Sebagaimana pesan Fitra, bahwa nilai manusia adalah sebelanga trust (kepercayaan). Positif thinking. Maka kau akan berguna dan bermanfaat di mana saja kau melangkah.
Selaku diri yang tergugah, kemudian saya mendaras dan seribu tanya! Sejauh mana integritas itu saya bangun? Atau sekadar percakapan saja selama ini? Atau tertukar dan mulai main takar-takar?
Seperti loyalitas (kesetiaan) yang mulai tercerabut oleh situasi dan kondisi (materialis) seperti yang pernah tertangkap kasat di mataku, terungkap membuat perangkap di antara sekian babad dan lingkup integritas yang menbuat saya menjadi manusia tolol bin konyol. Buah dedikasi tersemat kesumat dari belukar perangai manusia.
Setia (loyalitas) hanya kacung di ujung lidah, bersemi di antara sekadar merasa berintegritas. Atau saya kembali mengumpat, memicing di tengah perilaku komunal manusia yang kian kumal?
Karibku Fitra menepuk-nepuk pundakku yang kaku, menetralkan kembali aliran darahku yang seakan beku, serta mengambil sikap tegas, satu keputusan untuk memilih, bersiap diri, mental segala konsekuensi, lalu sesegera mungkin bergegas meraih peluang. Dari sekian purnama hingga sampai hari ini. Rasa pengecutku di antara kopi senja membawaku bertarung melawan diri sendiri.
Kredit gambar: Kompassiana.com

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply