Category: Lokalitas
-

Balla Toddoka: Pusat Bumi di Kawasan Balla Tujua Onto
Kawasan adat yang sakral terletak di Tanah Tua Onto, memiliki cerita yang tiada habisnya. Menariknya, bagi yang memiliki garis keturunan Raja Bantaeng, tidak diperbolehkan mengunjungi lokasi tersebut. Di sisi lain, pada lokasi ini terdapat objek yang diberi nama Balla Toddoka. Konon katanya dijuluki sebagai pusat bumi di Onto. Balla Toddokaberasal dari bahasa Makassar. Jika diterjemahkan…
-

Ritual dan Kesakralan Pulau Batunu
Ditulis dalam buku Menulis Desa membangun Indonesia, kumpulankarya masyarakat Desa Bonto Jai yang di dalamnya terdapat judul “Bonto Jai Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan”, oleh Amiluddin Azis, bahwa dalam tradisi melakukan panen maupun setelah panen di Desa Bonto Jai, melakukan suatu kegiatan semacam ada’ 12 kayu lompoa (ganrang tallu) dan pamanca. Demikian juga…
-

Tujuh Kare’ ri Bantaeng
Onto yang saat ini adalah salah satu kelurahan di Kabupaten Bantaeng, di zaman dahulu memiliki peran sejarah tersendiri yang menjadi cikal bakal Bantaeng. Menurut Karaeng Imran Massualle, salah satu generasi penerus dari keturunan Kerajaan Bantaeng, mengatakan bahwa dulu Bantaeng ini masih berupa lautan, hanya wilayah tertentu saja yang berupa daratan, yaitu Onto dan beberapa daerah…
-

Fenomena Pembacaan Kitab Barazanji di Bantaeng dalam Pandangan Ilmu Linguistik
“Aneh”, mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan budaya aksen Barazanji yang sering didendangkan oleh orang-orang di perkampungan Kabupaten Bantaeng. Ketika mendengarkan orang-orang di kampung-kampung Bantaeng, sambil membaca teks, kita mungkin akan keheranan, tidak bisa mengikuti alur nada, seolah-olah menjadi buta aksara. Suara dan teks yang terdengar tidak sesuai, akan tetapi begitulah adanya. Bait syair pada…
-

Barakong: Syair Sufisme Akulturasi Budaya Arab dan Bantaeng
Akulturasi budaya Arab sangat sering kita jumpai, bahkan hampir di setiap daerah di Indonesia. Salah satunya adalah syair Barakong yang berasal dari Kabupaten Bantaeng. Syair sufisme merupakan ungkapan cinta antara hamba dan Tuhannya. Melalui kata-kata, ia menjelma menjadi kalimat-kalimat indah yang memiliki makna mendalam tentang kedekatan spiritual. Namun, di Bantaeng, syair sufistik Barakong digunakan sebagai…
-

Karaeng Parappa Daeng Marewa Masih Berdiri di Pattaneteang
“Bagaimana jika seseorang dikubur bukan untuk beristirahat, tapi untuk terus berdiri menjaga tanah kelahirannya?” Di Batu Massoong, Desa Pattaneteang, terdapat makam tak biasa. Makam itu melingkar, dengan nisan batu hitam di tengahnya. Konon, Karaeng Parappa Daeng Marewa dikubur berdiri, membawa badik, menghadap Kindang. Ini jadi simbol bahwa kepemimpinan dan keberanian tetap hidup, bahkan setelah wafat.…
-

Bonto Jai: Tanah Luas, Sejarah Dalam
Bonto Jai, sebuah desa yang terletak di antara lautan biru yang membentang luas, dan hamparan sawah yang hijau, ternyata menyimpan kisah panjang yang belum banyak diketahui masyarakat luas. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, jejak sejarah desa ini perlahan mulai terlupakan—terselip di antara cerita lisan, peninggalan fisik yang usang, dan memori kolektif masyarakat yang…
-

Legenda Buang Alua di Cedo
Menyebut Kampung Cedo, akan teringat cerita legenda Buang Alua. Nama kampung ini, hanya memiliki satu kemiripan nama di Kabupaten Bantaeng, yaitu Cedo Ca’di (ca’di artinya kecil), tempat ini berjarak kurang lebih 3 km dari Cedo. Tempat tersebut bukanlah pemukiman penduduk, melainkan hanya hamparan sawah dan kebun. Cedo terletak pada arah timur laut Kelurahan Lamalaka, Kecamatan…
-

Batu “Keramat” Selamatkan Hutan di Bantaeng
Ada cerita bersemayam di rerimbun pohon Hutan Campaga, tentang batu yang menjadi simbol kepatuhan orang-orang Campaga dalam menjaga hutan. Cerita yang terus mengalir dari generasi ke generasi membentuk budaya penghargaan terhadap alam, pelarangan menebang pohon, meludah apalagi kencing di sumber mata air dalam hutan. Pada masa lalu, hutan di Campaga dikuasi oleh dua orang: Karaeng…
-

Dari Pertarungan ke Perenungan: Harga Diri dalam Cermin Passaungang Taua
Angin memapah debu tipis di sepanjang jalan menuju pesta adat Gantarangkeke. Di atas motor yang disulap jadi ojek musiman, pemuda-pemuda lokal berkendara pelan dan hati-hati. Di belakangnya duduk penumpang-penumpang yang hening, lebih banyak menengadah ke arah pohon-pohon tua. Mereka melintasi jalan sepi, yang jarang dilalui di hari biasa. Tetapi di hari itu beda, jalan itu…
