Category: Lokalitas
-

Karaeng Parappa Daeng Marewa Masih Berdiri di Pattaneteang
“Bagaimana jika seseorang dikubur bukan untuk beristirahat, tapi untuk terus berdiri menjaga tanah kelahirannya?” Di Batu Massoong, Desa Pattaneteang, terdapat makam tak biasa. Makam itu melingkar, dengan nisan batu hitam di tengahnya. Konon, Karaeng Parappa Daeng Marewa dikubur berdiri, membawa badik, menghadap Kindang. Ini jadi simbol bahwa kepemimpinan dan keberanian tetap hidup, bahkan setelah wafat.…
-

Bonto Jai: Tanah Luas, Sejarah Dalam
Bonto Jai, sebuah desa yang terletak di antara lautan biru yang membentang luas, dan hamparan sawah yang hijau, ternyata menyimpan kisah panjang yang belum banyak diketahui masyarakat luas. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, jejak sejarah desa ini perlahan mulai terlupakan—terselip di antara cerita lisan, peninggalan fisik yang usang, dan memori kolektif masyarakat yang…
-

Legenda Buang Alua di Cedo
Menyebut Kampung Cedo, akan teringat cerita legenda Buang Alua. Nama kampung ini, hanya memiliki satu kemiripan nama di Kabupaten Bantaeng, yaitu Cedo Ca’di (ca’di artinya kecil), tempat ini berjarak kurang lebih 3 km dari Cedo. Tempat tersebut bukanlah pemukiman penduduk, melainkan hanya hamparan sawah dan kebun. Cedo terletak pada arah timur laut Kelurahan Lamalaka, Kecamatan…
-

Batu “Keramat” Selamatkan Hutan di Bantaeng
Ada cerita bersemayam di rerimbun pohon Hutan Campaga, tentang batu yang menjadi simbol kepatuhan orang-orang Campaga dalam menjaga hutan. Cerita yang terus mengalir dari generasi ke generasi membentuk budaya penghargaan terhadap alam, pelarangan menebang pohon, meludah apalagi kencing di sumber mata air dalam hutan. Pada masa lalu, hutan di Campaga dikuasi oleh dua orang: Karaeng…
-

Dari Pertarungan ke Perenungan: Harga Diri dalam Cermin Passaungang Taua
Angin memapah debu tipis di sepanjang jalan menuju pesta adat Gantarangkeke. Di atas motor yang disulap jadi ojek musiman, pemuda-pemuda lokal berkendara pelan dan hati-hati. Di belakangnya duduk penumpang-penumpang yang hening, lebih banyak menengadah ke arah pohon-pohon tua. Mereka melintasi jalan sepi, yang jarang dilalui di hari biasa. Tetapi di hari itu beda, jalan itu…
-

Abbulo Sibatang, Accera Sitongka-tongka: Jalan Kearifan Menuju Keadilan
Setiap peradaban memiliki cara sendiri untuk merawat nilai keadilan. Di tanah Bugis-Makassar, ada dua ungkapan luhur yang menjadi penopang nilai hidup bermasyarakat, Abbulo Sibatang dan Accera Sitongka-tongka. Keduanya bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan perwujudan pandangan hidup yang menautkan persaudaraan, kebersamaan, dan tegaknya keadilan. Keadilan dalam falsafah ini tidak dilihat semata sebagai produk hukum positif atau…
-

Pesan Leluhur Bantaeng; Teako Ngondangi Butta
Suatu siang yang hangat di Kota Bantaeng, sambil menyeruput kopi di sebuah warung sederhana, saya terlibat obrolan mendalam bersama Muhammad Yunus; seorang pemuda energik yang dalam beberapa tahun terakhir banyak menghabiskan waktunya berinteraksi dengan masyarakat pedesaan. Pria kelahiran Lamalaka, Bantaeng ini termasuk kategori pemuda yang gelisah terhadap nilai-nilai leluhur yang perlahan mulai tergerus zaman. Karena…
-

Butta Toa, Butta Sipakatau
Butta Toa, Butta SipakatauDi balik hamparan pegunungan yang hijau dan pesisir Sulawesi Selatan yang tenang, terbentang sebuah wilayah bernama Bantaeng. Tanah ini bukan sekadar titik di peta, melainkan ruang hidup yang telah lama berdenyut dalam sejarah Nusantara. Beberapa abad silam, nama Bantaeng telah bergema di berbagai penjuru negeri, dikenal sebagai pusat interaksi budaya dan perdagangan.…
-

Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Bantaeng Tetap Unik
Masjid Agung Syekh Abdul Gani Bantaeng diserbu masyarakat, ratusan atau mungkin ribuan orang. Ratusan mobil berjejer di pinggir jalan sekitar masjid yang menimbulkan kemacetan, puluhan polisi, satpol, ASN Kemenag, ASN Pemda yang berpakaian seragam berjaga-jaga. Ada apa di dini hari pada Senin, 5 Mei 2025 ini? Apakah ada tablig akbar? Bukan! Ternyata, mereka adalah pengantar…
-

Accini Allo Baji’
Pak Haji menutup matanya yang sendu karena usia, ibu jarinya ia lipat ke dalam, sedang empat jari lainnya ia jentikkan satu per satu. Telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking. Bergantian. Berulang. Wajahnya yang teduh, ia tengadahkan ke langit-langit rumah, sembari mulutnya khyusuk mengulang-ulang kata yang teramat pelan untuk saya dengar. Pak Haji mencoba accini…
