Masjid Agung Syekh Abdul Gani Bantaeng diserbu masyarakat, ratusan atau mungkin ribuan orang. Ratusan mobil berjejer di pinggir jalan sekitar masjid yang menimbulkan kemacetan, puluhan polisi, satpol, ASN Kemenag, ASN Pemda yang berpakaian seragam berjaga-jaga. Ada apa di dini hari pada Senin, 5 Mei 2025 ini? Apakah ada tablig akbar? Bukan! Ternyata, mereka adalah pengantar jemaah haji Bantaeng.
Setiap tahun saat jadwal pemberangkatan jemaah haji dari Bantaeng, dipusatkan di Mesjid Agung Syekh Abdul Gani Bantaeng, selalu ramai dengan pengantar jemaah haji yang berasal dari keluarga, kerabat, tetangga, rekan kerja si jemaah haji. Sebagian besar pengantar tersebut, akan lanjut mengantar sampai di Asrama Haji Sudiang Makassar dan menunggu hingga terbang menuju Makkah.
Tradisi ini bukan saja dilakukan oleh orang Bantaeng, tetapi pada umumnya masyarakat Sulawesi Selatan, bahkan menjadi salah satu tradisi keagamaan yang begitu istimewa. Tradisi ini bukan hanya simbol penghormatan kepada calon tamu Allah, juga menjadi momen kebersamaan yang sarat makna spiritual dan sosial bagi masyarakat setempat. Prosesi ini melibatkan keluarga, kerabat, tetangga, rekan kerja hingga komunitas yang lebih luas, mencerminkan solidaritas dan kekuatan ukhuwah islamiah.
Sejak Kapan Tradisi Ini?
Pengantaran jemaah haji, sejak dari rumahnya sampai di Asrama Haji Sudiang Makassar, bahkan sampai di Bandara, sudah menjadi tradisi sejak lama di masyarakat Bantaeng. Sepanjang ingatan penulis, sejak anak-anak di tahun 1980-an sering kali dibawa oleh ibunda penulis, untuk pergi mengantar jemaah haji ke Mandai saat itu, sampai bermalam 2 atau 3 malam, dan tradisi ini penulis jalani sampai saat sekarang ini, seperti kemarin sewaktu mengantar keluarga berangkat haji sampai di Asrama Haji Sudiang dengan membawa semua anggota keluarga, sebagai sarana memperkenalkan tradisi ini kepada anak.
Sementara itu tradisi mengantar jemaah haji ini secara umum di Indonesia sebagaimana ditulis Prof M. Dien Madjid dalam buku, Berhaji di Masa Kolonial, mengemukakan bahwa tradisi selamatan sebelum berangkat haji bagi jemaah haji di Indonesia, sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Biasanya menggelar walimatus safar atau selamatan sebelum berangkat haji.
Di masa itu, jemaah haji harus menempuh perjalanan selama berbulan-bulan, melewati jalur darat dan laut, bisa tiga sampai enam bulan. Biasanya sebelum berangkat haji, ada tradisi perpisahan untuk saling memaafkan antara calon jemaah haji dengan masyarakat, mulai dari keluarga, kerabat dan juga tetangga, selanjutnya mereka mengantarkan kepergian calon jemaah sampai ke pelabuhan.
Tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada calon jamaah haji yang akan melakukan perjalanan sangat jauh dan cukup lama. Bisa jadi ini menjadi pertemuan terakhir, sehingga tidak menjadi beban di kemudian hari, karena sudah saling memaafkan.
Tradisi ini kemudian diwariskan secara turun termurun dari generasi ke generasi sampai saat sekarang ini, saat sudah menggunakan pesawat terbang yang canggih, dengan waktu jemaah haji di Tanah Suci Makkah sudah cukup singkat, tetapi tradisi ini belum lekang kemajuan zaman.
Prosesi Mengantar Jamaah Haji
Jauh hari sebelum jadwal pemberangkatan jemaah haji, keluarga, tetangga dan rekan-rekan yang berencana mengantar sudah mempersiapkan diri, seperti bekalnya, kendaraannya, tempat tinggal di sekitar Sudiang Makassar.
Salah satu pengantar H. Abd. Gaffar (60 tahun), menyampaikan sudah memanen dan menjual porangnya sebagai persiapan mengantar keluarga yang akan berangkat haji. Ada juga yang menjual kopi, cengkeh, gabahnya, bahkan ada yang sampai meminjam uang ke orang lain, sebagai modal untuk berangkat ke Makassar.
Sementara itu satu mingguan sebelum hari pemberangkatan, rumah calon jemaah haji biasanya sudah ramai dikunjungi oleh sanak saudara dan tetangga. Mereka datang untuk memberikan doa restu dan salam perpisahan. Suasana penuh haru sering kali terlihat saat jemaah memohon maaf kepada keluarga dan kerabat, meminta doa agar perjalanan ibadahnya lancar dan diberkahi.
Beberapa keluarga bahkan menyediakan makanan atau minuman ringan bagi mereka yang datang mengantar. Hal ini memperlihatkan bagaimana tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi dan mempererat hubungan antar anggota masyarakat.
Prosesi pengantaran jemaah haji ini dimulai sejak si jemaah haji berangkat dari rumah, lazimnya dipimpin oleh seorang tokoh, biasa disebut Anrong Guru atau tau amparurui (tuan guru atau orang yang mendampingi), menuju tempat pemberangkatan di ibu kota kabupaten, hingga di Asrama Haji Sudiang Makassar, bahkan di bandara.
Kendaraan sudah disiapkan untuk melakukan iring-iringan, mengantar jemaah menuju lokasi pemberangkatan. Konvoi ini menjadi semacam prosesi arak-arakan kecil yang penuh makna. Bendera kecil dengan tulisan “Rombongan Pengantar Jemaah” dan nama keluarga sering menghiasi kendaraan, menambah semarak suasana.
Keluarga dan tetangga yang tidak sempat mengantar akan berkumpul di sekitar rumah si jemaah haji tersebut, bahkan di sepanjang jalan yang dilewati iringan kendaraan rombongan jemaah haji terebut. M. Nawir (57 tahun) tokoh masyarakat Desa Labbo, menuturkan bahwa walau tidak sempat mengantar ke kota, tetapi sekedar berjabat tangan dan melambaikan tangan mengantar keberangkatan keluarga menunaikan ibadah haji, sudah menimbulkan satu kebahagian tersendiri.
Motif Pengantar Jemaah Haji
Salah satu keluarga pengantar jemaah haji dari Desa Labbo, Kasmirawati (40 tahun), menyampaikan bahwa tujuannya mengantar keluarganya adalah agar ada sugesti dan motivasi untuk mendaftar haji dan juga merasakan suasana sakral yang penuh haru dan bahagia, saat detik-detik melihat keluarganya naik bus dan meninggalkan Kota Bantaeng, dan saat masih sempat ketemu di Asrama Haji Sudiang Makassar. Ada rasa bahagia tersendiri, walau baru beberapa jam berpisah dari rumah. Dan berharap suatu saat juga akan berada di posisi diantar sebagai jemaah haji, dan tentu menitip di doakan di Tanah Suci Makkah.
Sementara itu Hj. Saenab (65 tahun) pengantar dari Bungeng, Desa Pattaneteang, berujar bahwa walau dia sudah melaksanakan haji, tetapi hampir tiap tahun pergi mengantar jemaah haji, paling tidak sampai di Kota Bantaeng. “Ada suasana batin tersendiri, rasa bahagia dan rasa haru, teringat suasana saat dia berangkat haji dulu,” ujarnya.
Pandangan Ulama
Euforia pengantar jemaah haji itu sangat terlihat, sejak di Kota Bantaeng sampai di sekitar Asrama Haji Sudiang Makassar, tentu dengan berbagai motif dan motivasinya masing-masing. KH. Sanusi Baco, Lc, seorang ulama besar dari Sulawesi Selatan, mantan Ketua PWNU dan MUI Sulawesi Selatan, pernah memberikan pandangannya. Beliau menyatakan bahwa tradisi ini adalah salah satu bentuk penghormatan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap syariat Islam dan nilai-nilai sosial.
“Mengantar jemaah haji merupakan simbol penghormatan dan dukungan moral yang luar biasa. Ini mencerminkan nilai persaudaraan dan solidaritas yang menjadi inti dari ajaran Islam. Kita berharap tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat kita,” tutur beliau.
KH. Sanusi Baco juga menekankan pentingnya niat yang ikhlas dalam menjalankan tradisi ini, agar tetap berada dalam bingkai ibadah dan tidak tercampur dengan unsur-unsur riya.
Sementara itu, Buya Yahya, seorang ulama besar Indonesia, menjelaskan bahwa tradisi ini selaras dengan ajaran Islam tentang saling mendoakan dan mendukung dalam kebaikan.
“Dalam Islam, saling mendoakan adalah bentuk kasih sayang yang dianjurkan. Tradisi mengantar jamaah haji mengandung doa, dukungan, dan semangat kebersamaan yang sangat sesuai dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa esensi tradisi ini harus tetap terjaga, agar tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat materialistis atau sekadar formalitas.
Mengenai tradisi mengantar jemaah haji ini. Beberapa ulama pernah menyinggung hal ini, sebagai di kutip dari laman https://jatim.nu.or.id/, di antaranya adalah Syekh Abu Bakr al-Ajurriy, dari kalangan Madzhab Hanbali yang mengatakan, bahwa tradisi mengantar jemaah haji dan menitipkan doa termasuk sesuatu yang dianjurkan. Seperti yang pernah dijelaskan oleh Syaikh Ar-Ruhaibani dalam kitabnya, Mathalib Ulin Nuha yang menjadi penjelasan kitab Ghayatil Muntaha jilid 6 halaman 472. “Syaikh Abu Bakr al-Ajurry menuturkan tentang kesunnalhan mengantar orang haji dan menitipkan permintaan untuk mendoakannya. Imam Ahmad pernah mengantar ibunya untuk haji”.
Tradisi mengantar jemaah haji ini sebenarnya sudah berlaku di masa Rasulullah saw. di tempat yang bernama Tsaniyyatul Wada’ yang mana di tempat ini juga dulu beliau pernah ditunggu oleh para sahabat ketika datang dari berperang.
Seperti yang tertera dalam kitab Syarh An-Nawawi alal Muslim, juz 13 halaman 14: “Adapun Tsaniatul Wada’ adalah tempat samping Madinah, dinamakan begitu karena orang yang keluar dari Madinah itu berjalan bersama orang-orang yang ditinggalkannya (untuk mengantar)”. Bahkan secara khusus dijelaskan dalam kitab Syarh Shahih Al-Bukhari karya Imam Ibnu Bathal, juz 5 halaman 241, bahwa tempat tersebut menjadi tempat para sahabat mengantarkan jemaah haji. “Dinamakan Tsaniatul Wada’ karena para sahabat mengantarkan orang yang berhaji dan berperang dan menitipkan kepada mereka (doa)”.
Tradisi mengantar jemaah haji adalah cerminan harmoni antara budaya dan agama. Di tengah modernisasi yang terus berkembang, tradisi ini tetap menjadi salah satu momen yang dinantikan oleh masyarakat. Dengan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, tradisi ini dapat terus menjadi salah satu identitas budaya yang membanggakan.
Tradisi ini perlu dijaga dan dan diwariskan ke anak cucu. Terpenting adalah meluruskan niat, yaitu menitipkan doa agar kita didoakan di tanah suci. Karena seperti yang kita ketahui Makkah dan Madinah merupakan tempat yang diberkahi, tempat mustajab berdoa dan tidak berlebih-lebihan serta memaksakan diri.

Putra daerah Bungeng Desa Pattaneteang yang menetap di Desa Labbo. Kini, selaku penyuluh agama di KUA Kec. Tompobulu.


Leave a Reply