Abbulo Sibatang, Accera Sitongka-tongka: Jalan Kearifan Menuju Keadilan

Setiap peradaban memiliki cara sendiri untuk merawat nilai keadilan. Di tanah Bugis-Makassar, ada dua ungkapan luhur yang menjadi penopang nilai hidup bermasyarakat, Abbulo Sibatang dan Accera Sitongka-tongka. Keduanya bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan perwujudan pandangan hidup yang menautkan persaudaraan, kebersamaan, dan tegaknya keadilan.

Keadilan dalam falsafah ini tidak dilihat semata sebagai produk hukum positif atau aturan tertulis, melainkan sebagai kesadaran kolektif yang tumbuh dari hati, dari rasa malu (siri’), dari rasa empati (pacce), dan dari ikatan batin yang tidak bisa diputus oleh kepentingan sesaat. Ia hadir bukan hanya di ruang pengadilan, tetapi juga di ruang keluarga, di sawah yang digarap bersama, di laut yang dibagi hasilnya, dan di meja musyawarah tempat keputusan ditentukan.

Maka, berbicara tentang Abbulo Sibatang dan Accera Sitongka-tongka berarti berbicara tentang jantung kearifan lokal yang masih berdenyut, tentang bagaimana manusia seharusnya hidup bersama, dan tentang bagaimana keadilan tidak hanya diucapkan tetapi dihidupi. Ia adalah napas yang memberi kehidupan pada masyarakat, denyut yang menjaga harmoni dalam komunitas, dan cahaya yang menuntun manusia untuk tidak tersesat dalam gelapnya ego dan kepentingan pribadi.

Lebih jauh, nilai ini mengingatkan kita bahwa keadilan sejati tidak mungkin lahir dari keterpaksaan atau ketakutan pada hukuman, melainkan dari kesadaran untuk menjaga martabat bersama. Inilah keadilan yang lahir dari jiwa, tumbuh dari akar budaya, dan berdiri tegak karena disangga oleh persaudaraan.

Secara harfiah, Abbulo Sibatang berarti “berumpun satu batang.” Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia, apalagi dalam satu komunitas, ibarat batang bambu yang berdiri tegak bersama. Bambu tidak pernah tumbuh sendirian; ia selalu berumpun. Jika satu batang roboh, rumpunnya ikut merasakan guncangan.

Di sini kita menemukan kearifan yang dalam, manusia tidak bisa hidup terpisah dari sesamanya. Persaudaraan bukanlah pilihan, melainkan kodrat. Abbulo Sibatang mengajarkan bahwa ikatan sosial adalah benteng utama keadilan. Tanpa ikatan itu, hukum bisa berubah menjadi dingin dan kering, sekadar teks tanpa jiwa.

Lebih jauh, Abbulo Sibatang juga menegaskan prinsip solidaritas. Dalam rumpun, yang kuat melindungi yang lemah, yang tinggi memberi teduh bagi yang rendah. Inilah keadilan dalam wajah yang paling alami, bukan soal memberi sama rata, melainkan memberi sesuai kebutuhan, menjaga keseimbangan agar semua bisa tumbuh bersama.

Jika Abbulo Sibatang menekankan ikatan, maka Accera Sitongka-tongka berbicara tentang pengorbanan dan keberanian moral. Dalam tradisi Bugis-Makassar, Accera Sitongka-tongka merujuk pada sebuah ritual sumpah darah, di mana tetesan darah menjadi saksi kejujuran, tekad, dan komitmen pada kebenaran.

Maknanya sangat filosofis, keadilan tidak bisa lahir tanpa keberanian, tanpa kesediaan untuk menanggung resiko, bahkan bila harus mengorbankan diri. Kebenaran menuntut kesaksian, dan dalam budaya Bugis-Makassar, darah simbol kehidupan, dijadikan penegas bahwa kejujuran adalah harga mati.

Dari sini kita bisa merenung, apakah keadilan di dunia modern masih memiliki “darah” yang mengalir? Ataukah ia hanya menjadi teks dingin di ruang sidang, yang bisa dibeli oleh kepentingan? Accera Sitongka-tongka mengingatkan kita bahwa tanpa komitmen batin, tanpa pengorbanan moral, keadilan hanyalah bayang-bayang kosong.

Mengikat kedua konsep ini, kita menemukan jalan kearifan menuju keadilan. Abbulo Sibatang memberi fondasi persaudaraan, bahwa keadilan tidak boleh merugikan rumpun, komunitas, dan kehidupan bersama. Sementara Accera Sitongka-tongka memberi roh keberanian: bahwa keadilan harus ditegakkan walau harus dibayar mahal.

Keadilan sejati, dengan demikian, tidak berdiri di ruang hampa. Ia lahir dari ikatan sosial yang kuat, dari rasa malu melukai sesama, dari kesediaan menanggung perih demi kebenaran, dan dari keyakinan bahwa hidup hanya bermakna bila dijalani bersama.

Dalam filsafat Bugis-Makassar, ada dua nilai utama: siri’ (harga diri, rasa malu) dan pacce (empati, solidaritas). Abbulo Sibatang adalah wujud nyata pacce yang mempersatukan, sementara Accera Sitongka-tongka adalah perwujudan siri’ yang menegakkan kebenaran meski harus dengan darah.

Jika kedua nilai ini hidup, maka masyarakat akan menegakkan keadilan bukan karena takut pada sanksi, melainkan karena takut kehilangan martabat. Inilah keadilan yang lahir dari hati, bukan dipaksakan dari luar.

Dalam dunia modern, kita menyaksikan betapa keadilan sering kali diperdagangkan. Hukum bisa dibeli, suara rakyat bisa dibungkam, dan kebenaran bisa dipelintir. Di titik inilah kearifan lokal seperti Abbulo Sibatang dan Accera Sitongka-tongka menemukan relevansinya.

Kita diajak kembali kepada akar, bahwa keadilan tidak hanya urusan hakim dan undang-undang, tetapi urusan nurani, urusan persaudaraan, urusan keberanian untuk berkata benar. Keadilan modern sering kehilangan “ruh”, dan falsafah lokal ini bisa menjadi nafas baru.

Pada akhirnya, Abbulo Sibatang dan Accera Sitongka-tongka bukan hanya warisan budaya, melainkan lentera yang masih bisa menerangi jalan kita hari ini. Ia mengingatkan bahwa keadilan hanya bisa ditegakkan bila persaudaraan dijaga dan keberanian moral dijalankan.

Keadilan sejati adalah keadilan yang hidup dalam keseharian, ketika yang kuat melindungi yang lemah, ketika kejujuran dijunjung lebih tinggi daripada keuntungan, ketika harga diri lebih berharga daripada kekuasaan.

Maka, di tengah dunia yang sering diguncang oleh ketidakadilan, mari belajar kembali dari kearifan leluhur, menjadi Abbulo Sibatang, rumpun bambu yang kokoh karena bersatu, dan berani menempuh Accera Sitongka-tongka, jalan pengorbanan demi kebenaran. Karena tanpa itu, keadilan hanya akan menjadi kata, bukan kehidupan.

Kredit gambar: CNN Indonesia



Comments

One response to “Abbulo Sibatang, Accera Sitongka-tongka: Jalan Kearifan Menuju Keadilan”

  1. AKBAR AMRI Avatar
    AKBAR AMRI

    halo, ini budaya Etnik/Suku Makassar, bahasanya bahasa Makassar, penulisan Bugis-Makassar sangat merugikan etnik Makassar, sebagai media pembelajaran dan ternama, lebih mengedepankan data.

    kerugian yang dialami etnik Makassar adalah seakan Etnik Makassar dan Bugis sama, padahal orang Bugis tidak pernah dalam penulisan budayanya menyematkan Etnik Makassar, justru sebaliknya, jika berkaitan dengan budaya dan apapun itu tentang etnik Makassar selalu diikutsertakan Bugis.

    saya yakin saudara juga terbawa arus atau jika tidak berarti saudara perlu lagi menambah wawasan tentang etnik Makassar.

    Apalagi saudara berasal dari Jeknek Ponto, Mangkasarak Tattarak.

    wilayah etnik Makassar mulai dari kabupaten Pangka Jeknek, kabupaten Maros, kota Makassar, kabupaten Gowa, kabupaten Takalar, kabupaten Jeknek Ponto, kabupaten Bantaeng, kabupaten Bulukkumba, dan kabupaten Kepulauan Selayar.

    Salamak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *