Dari Pertarungan ke Perenungan: Harga Diri dalam Cermin Passaungang Taua

Angin memapah debu tipis di sepanjang jalan menuju pesta adat Gantarangkeke. Di atas motor yang disulap jadi ojek musiman, pemuda-pemuda lokal berkendara pelan dan hati-hati. Di belakangnya duduk penumpang-penumpang yang hening, lebih banyak menengadah ke arah pohon-pohon tua.

Mereka melintasi jalan sepi, yang jarang dilalui di hari biasa. Tetapi di hari itu beda, jalan itu dipenuhi tanda-tanda kehidupan: tenda-tenda mulai berdiri, riuh dari kejauhan terbetik sayup, dan anak-anak riang bercempera.

Begitu menginjak pumpunan pesta, para hadirin disambut dentuman gendang dan gemuruh langkah penari. Di pelataran terbuka, para pendekar muda mengali aksi bela diri dengan tangkas, dan para penari muda, tampak luwes dengan gerakan nan ritmis. Iringan musik tradisional, melebur bersama tepuk tangan dan sorak-sorai dari para pengunjung, yang bertandang dari berbagai penjuru.

Pengunjung melanglang perlahan di antara kerumunan, menjejaki deretan peninggalan. Melongok lebih dekat Balla’ Lompoa, rumah adat tempat para pemimpin merenungi mandat. Di sudut pekarangan, hingga di siring balla’ atau kolong rumah, berderet penganan membangkitkan selera, mulai dari kaloli’, pallu ce’la, sampai aneka kue dan minuman.

Di balik gegap gempita perhelatan, di sudut lain terbentang lanskap yang sunyi, namum, memanggil: jejak arkeologi yang pelan-pelan diabaikan zaman, tertanam di antara ilalang dan batu-batu yang telah dililit lumut. Sebagian tegak dalam diam, sebagian mulai miring, membungkuk pada waktu.    

Di sana, tampak hamparan batu duduk yang melingkar. Batu-batu itu tampak tak acuh dengan keramaian, yang hanya sesekali menoleh ke arahnya. Tak ada dekorasi, langkah kaki mulai jarang, dan tenda-tenda berhenti berdiri. Passaungang Taua, bisik seseorang, seraya menunjuk ke arah bebatuan yang sunyi itu.

Tak banyak yang sungguh-sungguh mengenali apa yang mereka lihat, ketika berdiri di muka batu-batu itu. Tapi warga lokal, terutama para tetua paham betul, bahwa tempat itu bukan sekadar tumpukan batu. Ia serupa saksi bisu.

Passauangang Taua adalah satu di antara tiga tinggalan situs batu temu gelang, dalam kawasan adat Gantarangkeke, dikutip dalam buku Butta Toa Jejak Arkeologi Budaya Toala, Logam, & Tradisi Berlanjut di Bantaeng, oleh M. Irfan Mahmud, Budianto Hakim, dkk.

Letaknya tepat di perjumpaan dua anak sungai: Sungai Biangkeke dan Sungai Patte. Oleh masyarakat setempat menyebutnya Butta Silanta, berjarak sekitar setengah kilo meter dari Balla Ada’ atau Balla’ Lompoa.

Bentuknya menyerupai lingkaran tak sempurna. Bebatuan yang menyusunnya beraneka ukuran, ada yang kecil hingga yang sangat besar. Hal itu turut membikin tingginya bervariasi di berbagai sisi. Di bagian tengahnya terbelangah. Tak ada pagar, yang ada hanya cekungan tanah yang tenang.

Dalam dialek lokal, Passaungang Taua berarti tempat pertarungan manusia. Kata passaungang bertolak dari kata saung, yang berarti duel atau pertarungan. Sementara, kata taua menyandang makna manusia. Terdengar rada aneh di telinga kita, ekstrem, bahkan menjurus bengis.

Tapi, persabungan sepasang manusia di dalam gelung itu, bukan serupa pertunjukan bagi keluarga kerajaan, bukan pula pelipur lara putra mahkota, sebagaimana kerap kita pirsa di layar kaca. Bukan. Konon, di masa silam, tempat itu tak diperuntukkan bagi sembarang orang. Hanya mereka yang membawa nama, tanggung jawab, dan kehormatan.

Dari arena menguji kepatutan calon pemimpin sampai panglima perang, hingga fungsi sebagai tempat menyelesaikan perkara, yang tak dapat sudah lewat musyawarah. Susunan batu temu gelang itu, jadi bukti tanpa suara. Desas-desus menyebut, kesatria perkasa hingga bangsawan berdarah biru dari wilayah lain, pun turut mengukir jejak di tempat ini.

Sebenarnya, di Bantaeng sendiri, situs Passaungang Taua tak hanya terkandung di kawasan adat Gantarangkeke, melainkan juga diketemukan di situs atau kawasan adat Onto. Tetapi keduanya berbeda secara fisik, di situs Onto, tidak berbentuk batu temu gelang layaknya di Gantarang Keke, namun, keduanya punya fungsi senada.

Dalam prosesi assaung tau, riwayat menyebut adanya penggunaan badik atau senjata tajam. Hal ini menjadi pelebaya: pertarungan memang bertujuan menyelesaikan sengketa hingga titik akhir. Di sini, manusia benar-benar bertarung. Bukan dengan amarah liar, melainkan dengan nyali dan harga diri sebagai taruhannya.

Harga diri yang dipandang sakral, bukanlah semata perkara gengsi. Dalam konteks budaya Bantaeng, konsep siri’ atau harga diri, menyandang skop amat luas lagi mendalam. Seiras kode etik, yang tak hanya mengasuh perasaan, namun, juga laku sosial, kehormatan, dan keberanian.

Siri’ laiknya prinsip hidup, menuntun perangai, dari hal kecil hingga keputusan besar. Ia jua laksana pelindung martabat, tidak hanya personal, melainkan juga komunal. Ketika harga diri seseorang terkoyak, setetes darah boleh jadi harga setimpal. Maka itu, Passaungang Taua, seboleh-bolehnya tak dipandang dalam kacamata kekerasan belaka, ia adalah sebentuk tanggung jawab sosial.

Kini, masa telah bertukar rupa, demikian pun cara kita mengekspresikan perasaan hingga keberanian. Selepas masuk dan meluasnya impak Islam di Bantaeng, tempat itu beringsut dari gelanggang Passaungang Taua menjadi Passaungang Jangang atau menyabung ayam. Lalu, beralih lagi setelahnya, berujung sebagai simbol: tempat orang menjenguk masa lalu, tempat mukimnya doa-doa pelawat.

Dulu, harga diri dipertaruhkan lewat badik, kini, ia dijaga lewat adab dan tindakan bermakna. Passaungang Taua kini tidak lagi menjadi gelanggang darah, tetapi gelanggang makna. Dari tempat benturan tubuh, ia berubah manjadi ruang benturan batin, mengajak siapa pun yang datang untuk menunduk dan merenung.

Kini tak ada lagi darah di atas batu itu, tapi di sanalah barangkali, tumpah perenungan paling dalam tentang siapa kita, dan apa yang masih layak kita perjuangkan. Passaungang Taua menjelma penanda: harga diri ada di tempat tertinggi.

Hari ini dan sampai nanti, batu-batu itu mungkin akan tetap bungkam, tapi maknanya terus berbisik: bahwa setiap zaman ada nilai yang harus dijaga. Dan mungkin, tantangan kita hari ini bukan lagi bertarung dengan badik, tapi bertarung melawan lupa.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *