Bulan Cipi, Bulan Sial?

“Janganki kasi nikah anakta di bulan ini,” karena ini bulan cipi, bulan tidak baik. Ungkapan ini kadang didengar, apabila bulan Syawal sudah berakhir dan masuk ke bulan Zulkaidah.

Istilah bulan cipi yang dilekatkan masyarakat Bugis-Makassar pada bulan Zulkaidah dikarenakan Zulkaidah diapit dua lebaran, yaitu Idul Fitri pada bulan Syawal dan Idul Adha di bulan Zulhijjah, maka disebutlah bulan cipi (diapit).
Istilah bulan cipi ini, bukan saja bermakna diapit dua hari raya, tetapi diyakini nicipi (diapit) pula nasib buruk, kesialan sehingga di Zulkaidah ini, tidak boleh menikahkan anak, memulai membangun rumah, memulai usaha, akan gagal perkawinannya, atau akan terkena kesialan.

Keyakinan itu sejak zaman dahulu terus diwariskan dan diviralkan melalui cerita-cerita orang gagal yang berani melanggar mitos bulan cipi itu, sampai di zaman modern sekarang, masih diyakini oleh sebagian besar umat Islam, termasuk kaum milenial.

Ironisnya orang yang sukses dalam perkawinan dan usahanya yang dimulai di bulan Zulkaidah tidak pernah diapresiasi atau diviralkan. Akhirnya, bulan Zulkaidah ini di suku Bugis-Makassar, jarang sekali ada peristiwa perkawinan, kalaupun ada baru di tahap lamaran. Pengalaman penulis sebagai Penyuluh Agama di KUA, biasanya di bulan ini akan sepi orang yang melapor ke KUA untuk menikah.

Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan bulan Zulkaidah itu dalam Islam?
Dalam penanggalan Tahun Hijriah atau biasa disebut juga Tahun Islam, nama-nama bulannya dimulai dari Muharram, Safar , Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Tsani, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, Zulhijjah.

Dari dua belas bulan itu. Allah Swt., memberikan keistimewaan kepada beberapa bulan seperti bulan kedelapan atau bulan Ramadhan, dan ada pula yang di sebut bulan haram. Firman Allah swt., dalam Al-Qur’an. Surah At Taubah ayat 36:


اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

Kemudian Nabi Muhammad saw. merinci bulan Haram itu,dalam hadisnya. “Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun ada dua belas bulan, darinya ada empat bulan haram, tiga di antaranya adalah Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab adalah bulan Mudhar yang terdapat di antara Jumadits Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengutip nu.or.id, ada beberapa keutamaannya bulan Zulkaidah. Pertama, bulan yang dimuliakan. Keutamaan pertama dari bulan Zulkaidah adalah permulaan dari empat bulan yang dimuliakan. Empat bulan yang dimuliakan tersebut, yaitu Zulkaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Bulan ini disebut dengan Zulkaidah karena orang-orang Arab pada masa lalu tak melakukan perang selama bulan Zulkaidah. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 36, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang diagungkan (Zulqa’dah, Zzulhijjah, Muharram, dan Rajab).” (QS At-Taubah: 36)

Kedua, salah satu dari bulan haji. Zulkaidah termasuk dalam salah satu dari tiga bulan haji, yaitu Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari pertama Zulhijjah. Disebut bulan haji karena selain tiga bulan tersebut, ibadah haji seseorang dianggap tak sah. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 197.
Artinya, “Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi (ditentukan).” (QS Al Baqarah: 197)

Ketiga, Rasulullah umrah di bulan Zulkaidah. Disebutkan bahwa Rasulullah SAW tak pernah melaksanakan umrah selain di bulan Zulkaidah. Hal ini dijelaskan dalam riwayat Anas bin Malik ra. “Rasulullah saw. berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Zulkaidah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji. (HR. Al-Bukhari)

Keempat, Allah swt., berjanji kepada nabi Musa a.s. pada Bulan Zulkaidah
Keistimewaan terakhir dijelaskan dalam Al-Quran, di mana Allah swt., berjanji kepada Musa untuk memberikan kitab Taurat setelah berlalu tiga puluh malam bulan Zulkaidah dan menyempurnakan pada sepuluh malam pertama Zulhijjah. Firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf, ayat142.

“Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan kepadanya kitab Taurat setelah berlalu tiga puluh malam (bulan Zulkaidah), dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi (sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya menjadi empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, yaitu Harun, ‘Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, dan perbaikilah dirimu dan kaummu, dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.’”

Dikutip dari sumber yang sama, selain empat keutamaan itu, di Bulan Zulkaidah juga terjadi beberapa peristiwa Penting. Pertama, perang Bani Quraizhah. Peristiwa pertama yang terjadi pada bulan Zulkaidah adalah perang Bani Quraizhah. Perang tersebut terjadi antara pasukan Nabi Muhammad Saw., dan Yahudi Bani Quraizhah selama 25 malam. Perang ini terjadi pada bulan Zulkaidah tahun kelima Hijriah.

Kedua, Perjanjian Hudaibiyah. Pada hari Senin bulan Zulkaidah, tahun ketujuh Hijriah, Nabi Muhammad SAW bersama 1.400 orang sahabatnya berangkat ke Zulhulaifah tanpa membawa senjata perang. Nabi Muhammad saw., dan pengikutnya mulai melakukan ihram untuk umrah.

Sementara, kaum kafir Quraisy mengira kedatangannya untuk menyerang mereka, sehingga dikirim salah satu perwakilan kafir Quraisy untuk bertanya tujuan sebenarnya. Rasulullah saw., pun menegaskan bahwa ia dan pasukannya sedang melaksanakan umrah, bukan berperang. Karena hal tersebut, Rasulullah saw., dan kafir Quraisy membuat kesepakatan damai yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah.

Ketiga, Nabi Muhammad saw., melaksanakan umrah. Bulan Zulkaidah adalah salah satu bulan yang sangat dekat dengan bulan Haji, sehingga Rasulullah Saw. sangat sering melaksanakan umrah pada bulan ini. Sebuah hadis menyebutkan Rasulullah saw., melaksanakan umrah pada bulan ini sebanyak empat kali. Berikut isi hadisnya.

“Rasulullah melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Zulkaidah, yaitu umrah dari Hudaibiyah di bulan Zulkaidah; satu umrah pada tahun berikutnya pada bulan Zulkaidah; satu umrah dari Ji’ranah; dan umrah bersama hajinya.” (HR. Bukhari).

Dari uraian diatas jelaslah bahwa bulan Zulkaidah itu bukan bulan sial, bukan bulan tidak baik, justru adalah bulan mulia.

Kepercayaan akan mitos bahwa bulan Zulkaidah adalah bulan sial, harus perlahan-lahan di-delete dalam otak kita, apalagi kaum melenial Islam, karena ini juga adalah ujian keimanan seorang muslim.

Dalam Islam tidak ada waktu sial. Tetapi wajib di yakini adalah Allah telah menetapkan takdir baik dan buruk manusia. Tentunya dalam satu waktu tidak semua manusia sama takdirnya, ada yang beruntung, ada yang rugi, ada yang biasa saja. Boleh saja tidak melakukan kegiatan perkawinan, memulai pekerjaan, membangun rumah di bulan Zulkaidah, akan tetapi bukan karena alasan menganggap bulan Zulkaidah ini bulan sial.

Buya Yahya, salah satu ulama Indonesia, mengungkapkan bahwa kepercayaan bulan Zulkaidah adalah bulan sial adalah ungkapan paling kurang ajar kepada Allah, sebab Allah menyebut bulan Zulkaidah adalah bulan hurum, empat bulan haram di antaranya Zulkaidah itu.

“Saya ingin meluruskan sebagian keyakinan. Jika masuk bulan Zulqa’dah, mereka anggap ini bulan sial, bulan sengsara bulan nahas.”
Menurut Buya Yahya, ungkapan ini sungguh tidak pantas, karena tidak mungkin Allah menciptakan sebuah bulan yang sengsara.

“Bulan yang dimuliakan Allah masa disebut bulan sengsara, jika anda menduga sengsara anda akan sengsara,” Buya Yahya mengingatkan kepada semua untuk tidak boleh memiliki keyakinan seperti itu.

“Bulan Zulqa’dah bukan bulan sengsara, ini bulan mulia. Tidak ada bulan sengsara, bulan sengsara adalah bulan kita bermaksiat kepada Allah, bulan kehinaan adalah saat kita melanggar Allah. Adapun bulan saat kita beribadah itu bulan mulia,” Tegas Buya Yahya. Beliau mengingatkan bahwa Nabi Muhammad Saw., selalu berpikir baik akan segala hal. Oleh karenanya, kita sebagai umat-Nya maka seyogianya mengikutinya.

Sumber gambar: Tribunnews.com


Comments

One response to “Bulan Cipi, Bulan Sial?”

  1. Adam Kurniawan Avatar
    Adam Kurniawan

    wah rupanya bulan cipi itu artinya terjepit di antara dua lebaran. terimakasih atas tulisan yang mencerahkan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *