Category: Esai

  • Tren Minimalisme: Seni Mengatur Hasrat dan Merayakan Kesederhanaan

    Tren Minimalisme: Seni Mengatur Hasrat dan Merayakan Kesederhanaan

    Sejak dulu, saya selalu tertarik mengamati bagaimana manusia menjalani hidupnya. Sebagian mereka memilih untuk terus mengejar lebih banyak, sebagian lagi memilih untuk melepaskan. Ada yang mengisi hari-harinya dengan tumpukan ambisi dan kesibukan, lalu ada juga yang perlahan memisahkan diri dari riuhnya dunia, sembari mencari makna dalam kesunyian. Pernah suatu hari, saya sedang duduk di kantin…

  • Fandi dan Profesinya sebagai Desainer Grafis

    Fandi dan Profesinya sebagai Desainer Grafis

    Merancang idea, menerapkannya di antara imaji, terkadang menyeka peluh menarik sebuah garis, atau sketsa, tanpa harus berani merekayasa sebuah karya. Fandi menekuni dengan belajar melayani dirinya sendiri, sebelum karyanya di-publish bukan juga untuk numpang populis. Menjadi seorang desainer grafis saat ini bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan seiring perkembangan teknologi. Dulunya saya seorang perupa, di mana…

  • Seekor Ayam untuk Argan dan Nurul Lamung

    Seekor Ayam untuk Argan dan Nurul Lamung

    Tetiba seorang ibu menenteng seekor ayam sambil senyum-senyum masuk ke rumah saya. Berpikir mungkin suruh potong seperti biasa di rumah. Kadang memang orang-orang suruh potong ayam sama Tata’ (ayah). Saya kecele. Karena ayam tersebut adalah sebuah pemberian dari H. Ramlan Lamung yang mendirikan musholla bernama Nurul Lamung di sebuah kampung bernama Lembang-Lembang. Konon penamaan musala…

  • Tata’ dan Uwa’: Sebuah Identitas?

    Tata’ dan Uwa’: Sebuah Identitas?

    Seketika saya menyusuri lorong waktu, seiring proses pencarian saya, sekian lama seribu tanya dan andai. Dengan dekil saya menyembunyikan identitas saya sesungguhnya. Ya, saat berinteraksi sekian lama. Ada hal terjaga agar tidak gegabah, lantas hampir menyerah saat kata Uwa’ itu disinyalir oleh beberapa orang sebagai strata sosial (terbawah). Saya mulai menyadari untuk merendah, walau hendak…

  • Benteng Terakhir Bernama Sekolah

    Benteng Terakhir Bernama Sekolah

    Rasanya tidak ada yang lebih mengecewakan perasaan seorang guru, kala menyaksikan satu per satu muridnya meninggalkan sekolah. Itulah yang saya rasakan ketika pada suatu pagi yang mendung, dekat meja guru di pojok kelas, saat nama-nama murid saya panggil satu per satu dan salah seorang menjawab, “Sudah tidak ke sekolah, Pak. Kemarin berangkat ke Malaysia.” Saya terpaku…

  • Perempuan dalam Bayang-Bayang Pujian Dangkal

    Perempuan dalam Bayang-Bayang Pujian Dangkal

    “Seorang perempuan selalu mudah dipengaruhi dengan diberi pujian-pujian mengenai penampilannya daripada mengenai jalan pikirannya.” (Simone de Beauvoir) Saya sering bertanya-tanya, mengapa pujian untuk perempuan lebih sering berkutat pada kecantikannya dibandingkan dengan cara berpikirnya? Sebenarnya, ini bukan sekadar fenomena sosial yang terjadi di media atau ruang publik. Tetapi, ini adalah refleksi dari cara kita membentuk makna…

  • Pembelajaran Mendalam: Saatnya Sekolah Berhenti Jadi Museum Pendidikan

    Pembelajaran Mendalam: Saatnya Sekolah Berhenti Jadi Museum Pendidikan

    Bayangkan ini: seorang siswa belajar bahasa asing selama enam tahun. SMP tiga tahun dan SMA juga tiga tahun. Tetapi ketika diminta berbicara dengan turis asing, ia hanya bisa tersenyum kecut. Atau, seorang anak yang sudah bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia, tetapi tak mampu menyampaikan ide dengan jelas. Siapakah anak itu? Saya salah satunya, teman kelasku, teman…

  • Ruang Alonica II

    Ruang Alonica II

    Jumat siang, awan tebal di langit sepertinya akan menumpahkan sejuta butir air. Saya bergegas melaju, ke tempat yang sudah lama saya rencanakan, rindu menyeruput kopi gula aren yang lezat di sebuah cafe bernama Alonica. Serta beberapa menu lain yang juga tak kalah lezatnya, sila merasakan sensasi itu. Cukup recommended untuk dinikmati. Ditambah juga sisi ruangan…

  • Keunikan Pesantren, Santri, dan Orangtua

    Keunikan Pesantren, Santri, dan Orangtua

    “Jangan maki sekolah di pesantren, karena pasti kamu hanya akan jadi imam masjid atau jadi imam kampung. Dicari saat ada yang meninggal atau ada yang mau syukuran selamatan untuk baca-baca songkolo.” Setidaknya, kutipan kalimat tersebut di atas, masih sering muncul di kalangan masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan pondok pesantren. Pesantren sebentuk lembaga pendidikan Islam. Santri…

  • Teka-Teki Libur Ramadan: Drama yang Tak Perlu

    Teka-Teki Libur Ramadan: Drama yang Tak Perlu

    Sepertinya, dunia pendidikan kita telah menjelma panggung sandiwara yang tak pernah kehabisan drama. Dan kini, lakon terbaru yang dipentaskan adalah teka-teki seputar libur Ramadan. Kabar ini bermula dari pernyataan pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengisyaratkan akan ada kajian ulang soal kebijakan libur selama bulan Ramadan. Pernyataan itu sontak memicu berbagai spekulasi, seolah-olah publik…