Rasanya tidak ada yang lebih mengecewakan perasaan seorang guru, kala menyaksikan satu per satu muridnya meninggalkan sekolah.
Itulah yang saya rasakan ketika pada suatu pagi yang mendung, dekat meja guru di pojok kelas, saat nama-nama murid saya panggil satu per satu dan salah seorang menjawab, “Sudah tidak ke sekolah, Pak. Kemarin berangkat ke Malaysia.” Saya terpaku sejenak, kesedihan seolah jatuh dari langit. Ada apa? Satu per satu murid pergi, meninggalkan bangku dan meja kosong dan kenangan.
Di kelas yang sama, berbulan sebelumnya seorang ibu meminta izin membawa anaknya ke Kalimantan. “Kenapa, Bu?” Tanya saya. “Di sini tidak ada yang jaga. Anak saya juga mudah sakit,” katanya murung seraya menatap lantai. “Bagaimana dengan sekolahnya?” Ujar saya. “Saya dengar di sana ada sekolah, meski jaraknya jauh. Mudah-mudahan bisa lanjut di sana.” Jelas ibunya kurang yakin. Hening sejenak, angin masuk dari kisi-kisi jendela, lalu saya bilang, “Ibu, kalau anaknya tidak dapat sekolah, tolong kabari kami. Nanti kami kirimkan e-book buku paket dan LKPD untuk memantau perkembangan belajarnya.” Saya pun mengambil nomor HP Si Ibu.
Tak lama setelahnya, saya mengirim pesan. Bertanya perihal sekolah anaknya. Sialnya, yang saya khawatirkan terjadi, Si Anak tidak sekolah karena tidak sanggup melakukan perjalanan jauh naik bus, ia sering mabuk dan muntah. Mereka pun tidak bisa dihubungi lagi, mungkin sudah berganti nomor.
Jauh sebelum itu, beberapa anak juga pergi, tak berpamitan, tanpa kata-kata perpisahan.
Mungkin begitu jugalah yang dirasakan Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi karangan Andre Hirata. Ketika Lintang, si anak yang jago Matematika itu harus berhenti sekolah karena ayahnya yang pergi melaut tidak pernah pulang lagi. Di usianya yang masih belia, ia harus menjadi ayah bagi adik-adiknya, dan harus menanggalkan status muridnya, meninggalkan sekolah dan kawan-kawannya. Saya dan Bu Muslimah sama-sama patah hati.
Murid-murid saya memang tidak seperti Lintang, ia tidak jago matematika. Bahkan membacanya pun masih terbata-bata. Saya bisa saja merelakannya begitu saja, toh kepergian seorang anak justru mengurangi beban mengajar saya. Namun, saya melihat mereka bukan sebagai murid semata, melainkan sebagai anak, sebagai manusia yang punya hak untuk belajar dan bermain guna mempersiapkan masa depannya. Alih-alih pergi jauh, ke tempat asing yang tidak mereka kenal. Bu Muslimah pun mungkin sama, ia sedih karena masa depan bagi muridnya makin tak pasti.
Di sana, di tempat jauh itu, murid saya mungkin hanya bisa ikut orangtuanya ke sana kemari. Atau tinggal di asrama, sembari berharap orangtuanya cepat pulang. Peluang bersekolah mungkin nihil, tantangan pendidikan di sana sungguh berat. Paling tidak begitulah yang saya dengar dan saya baca. Anak bersekolah saja sudah syukur, kualitas jadi prioritas kesekian. Itu sebabnya banyak yang sudah mencapai usia belasan tahun, tapi belum bisa membaca, menulis, maupun berhitung (Antara 2022).
Ike Herliana dari Universitas Airlangga dalam ulasannya di The Conversation membagikan hasil dialognya dengan anak pekerja migran. Ia mendapati ada kecenderungan murid di wilayah basis pekerja migran memiliki cita-cita ingin menjadi pekerja migran. Dalam persepsinya, pekerja migran di luar negeri memiliki pekerjaan yang enak dan gaji yang tinggi. Dengan gaji tinggi, mereka berharap bisa mengirim uang ke kampung untuk membangun rumah, membeli sawah, sepeda motor, dan harta benda lainnya.
Benarkah demikian? Apakah itu menjadi satu-satunya solusi agar lepas dari jerat kemiskinan?
Bagi Ike, anak-anak harus memahami bahwa menjadi pekerja migran memiliki risiko tinggi. Menurut Human Rights Watch, para pekerja migran yang menghadapi berbagai macam perlakuan kejam dan eksploitasi, termasuk perlakuan kejam secara fisik dan seksual, pengurungan paksa, upah tidak dibayar, tidak diberi makan dan fasilitas kesehatan, serta jam kerja yang sangat panjang tanpa hari libur.
“Komnas HAM juga memberi gambaran menyedihkan mengenai pekerja migran. Banyak di antara mereka yang mengadukan masalah penyiksaan, perkosaan, perbudakan, dan kekejaman lainnya.” Papar Ike.
Bagi saya, sudah waktunya sekolah mengambil peran memberikan opsi-opsi bagi murid. Banyak pilihan karir lain yang bisa mereka coba, tanpa harus mengikuti jejak orangtuanya. Sekolah mesti menjadi benteng terakhir yang menjaga nyala obor generasi selanjutnya. Saya mafhum, sekolah memang tidak menjamin kesuksesan, tapi berapa banyak orang sukses yang tidak bersekolah? Sedikit. Sangat sedikit.
Saya lalu ingat potong percakapan dr. Ryu Hasan dan Sujiwo Tejo tentang sekolah. Dari 2 miliar orang yang tidak sekolah, kata dr. Ryu, berapa orang yang jadi seperti Steve Jobs? “Dari jutaan yang jadi direktur, berapa orang yang tidak sekolah?” Lanjutnya. Bagi dr. Ryu, tugas sekolah itu bukan agar kamu jadi apa-apa, tapi memperbesar kemungkinan kamu bisa hidup lebih layak. Tentu dengan bekal-bekal keterampilan yang diperoleh selama sekolah. Makin tinggi sekolah, paling tidak peluang untuk hidup lebih layak jadi lebih besar.
Pendapat dr. Ryu diafirmasi oleh Prof. Djagal Wiseso Marseno dari Universitas Gadjah Mada, ia menyatakan bahwa menurut statistik, sebanyak 80% orang sukses ternyata melalui pendidikan. Selebihnya 20% atau bahkan 10% seperti Bill Gates yang tidak lulus S1 dan sukses, tapi jumlahnya tidak banyak.
Syahdan, di situlah letak urgensi sekolah yang paling sederhana, seperti kata-kata dari A.A. Milne, penulis asal Inggris, “Bagi orang yang tidak berpendidikan, huruf A hanyalah sebuah tiga garis.”
Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Guru PJOK dan pegiat literasi di Bantaeng. Penulis buku kumpulan esai, Jika Kucing Bisa Bicara (2021) dan anggota redaksi di Paraminda.com.


Leave a Reply