Category: Tungguru
-

Menjadi Guru Bahagia dengan Menulis: Catatan Kelas Pendidik TPN XIII
Sudah siang, tetapi matahari masih enggan menampakkan dirinya. Langit yang sejak pagi muram belum juga benar-benar cerah. Seusai bincang pendidikan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII, para guru mulai menyebar menuju kelas-kelas pendidik yang telah disiapkan panitia. Tahun ini ada sepuluh kelas, masing-masing menawarkan cerita dan pengalaman belajar yang berbeda. Saya mendapat amanah mengisi Kelas 09…
-

Hujan, Tanah, dan Percakapan tentang Pendidikan: Catatan TPN XIII
Pagi itu agak muram. Langit berganti-ganti rupa, kadang biru, kadang kelabu, barangkali awan memang sedang letih menggendong air. Hujan turun sebentar, membasahi tanah dan jalan-jalan yang mengarah ke aula. Sempat terlintas kekhawatiran, jangan-jangan hujan membuat orang mengurungkan niat datang. Kursi-kursi masih kosong, aula pun masih lengang. Namun, hujan segera usai, seolah telah menuntaskan janjinya kepada…
-

Kemah Belajar 2026: Ketika Aksi Mendahului Pidato
Ahh, memang tak ada yang lebih indah dari aksi yang mendahului kata-kata. Konon, suatu hari seorang ibu datang menemui Mahatma Gandhi. Ia membawa anaknya yang gemar sekali makan gula. Sang ibu memohon, “Tolong nasihati anak saya agar berhenti.” Gandhi tidak serta-merta berbicara. Ia justru meminta ibu itu datang kembali dua minggu kemudian. Dua minggu berselang,…
-

Gerakan Ayah Mengambil Rapor: Antara Budaya dan Kegagalan Negara
Enam bulan lalu, para ayah diminta hadir di hari pertama sekolah. Kini, di akhir semester, mereka kembali dipanggil melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), yang diinisiasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) lewat Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2025. Intinya sederhana: ayah diimbau datang langsung ke sekolah untuk menerima rapor anak. Bagi sebagian orang,…
-

Kembali dari Meja Jabatan, Menuju Bangku Murid
Teman-teman guru Bantaeng yang tak pernah surut belajar. Izinkan saya berkabar. Saling berkabar, bagi saya, seperti menyalakan lampu kecil di beranda: cahayanya sederhana, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kita masih ingin terhubung, masih ingin menjaga persaudaraan. Kadang, jalan terpendek menuju diri sendiri adalah jalan memutar yang membawa kita kembali ke ruang yang pernah kita tinggalkan.…
-

Tiga Luka Guru dalam Pidato Hari Guru
Akhir November telah tiba, kita merayakan lagi Hari Guru Nasional, lengkap dengan drama baris berbaris yang sesak, bersama gerahnya sinar matahari, dan pembacaan pidato seragam dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Seperti biasa, pidato Pak Menteri penuh bunga-bunga, optimistis, dan panjangnya bikin kaki pegal berdiri. Sayangnya, para guru setiap hari berhadapan dengan realitas yang sering…
-

Ketika Sekolah Lupa Mengajar Kehidupan
Kawan-kawan, izinkan saya membuka tulisan ini dengan sebuah pengakuan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya ucapkan setelah dua belas tahun menjadi guru: saya masih saja merasa sebagai greenhorn dalam urusan membuat pembelajaran menjadi bermakna. Kadang saya merasa seperti seseorang yang sudah lama hidup di kampung sendiri, tetapi baru sadar bahwa saya belum benar-benar memahami jalan-jalan kecil…
-

Yang Hilang dari Kurikulum Kita
Saya masih ingat betul hari itu. Sebelas anak duduk di depan saya, berjejer kurang rapi. Ada yang menatap lantai, lainnya gelisah duduk di kursi, menggosok-gosok pantatnya yang tidak gatal, seolah di sana ada kupon undian. “Ada yang sudah bisa membaca?” Saya bertanya seraya menulis di papan tulis. Satu anak mengangkat tangan. A, B, C, D,…
-

Rapat Besar dan Dapur Kecil: Saat Murid Mengajari Kita Arti Sekolah
Teori pendidikan terlalu sering hidup di kertas, tapi mati di kelas. Jumat kemarin saya melihat sendiri bagaimana murid-murid kecil menghidupkannya kembali. Sesekali kita memang harus menanggalkan kacamata teori dan menengok langsung bagaimana ia bekerja di lapangan. Buku dan modul kadang terlalu rapi, terlalu steril. Tetapi hidup murid, hidup sekolah, tak pernah sesederhana itu. Fakta harus…
-

Pemimpin adalah Api yang Ditinggalkan, Bukan Nama yang Dipuja
Ada saat dalam hidup ketika kita tiba-tiba berhenti di ambang pintu, menoleh ke belakang dengan dada penuh napas panjang, lalu menyadari: mungkin inilah akhir dari satu babak, dan awal dari babak yang lain. Di titik itu, rasa lega bercampur gentar, syukur bertubrukan dengan keraguan. Saya menuliskan ini dengan kesadaran semacam itu. Tulisan ini mungkin menjadi…
