Merancang idea, menerapkannya di antara imaji, terkadang menyeka peluh menarik sebuah garis, atau sketsa, tanpa harus berani merekayasa sebuah karya. Fandi menekuni dengan belajar melayani dirinya sendiri, sebelum karyanya di-publish bukan juga untuk numpang populis.
Menjadi seorang desainer grafis saat ini bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan seiring perkembangan teknologi. Dulunya saya seorang perupa, di mana semua alat dan bahan dalam membuat karya masih konvensional. Fandi menceritakan proses sampai dia jatuh cinta pada profesi yang digeluti sekarang, di sanalah dia mengawali karir sebagai seorang desainer. Pandangan saya, dalam profesi ini seorang desainer tidak hanya menciptakan sebuah karya, tetapi juga harus mampu menerjemahkan ide/gagasan yg disampaikan sang klien. Dengan kata lain, desainer adalah perpanjangan tangan dari ide dan tujuan klien terhadap sebuah karya tuntutannya. Dengan sentuhan dan “seasoning” sang desainernya.
Fandi berkisah, pertama kali jatuh cinta pada dunia desain, ketika di sebuah ruang waktu kami bersua. Menyeruput kopi di sebuah cafe sembari berbagi, menyusuri lereng-lereng jiwa yang terhampar rencana dan ide yang dia tuangkan dalam karya. Ya, prosernya tidak begitu berbeda, di mana karya seni rupa konvensional lebih menekankan kehati-hatian seperti sapuan kuas dalam medium fisiknya. Sebaliknya, seni digital dalam prosesnya, sepenuhnya melibatkan kecanggihan teknologi, mulai dari pemilihan brush, colouring, hingga merevisi kesalahan. Namun, pada akhirnya keduanya terkadang ada kesamaan dari sisi karakter dan visiualnya, meskipun seni digital memiliki tingkat kecerahan dan tampak lebih nyata, di samping karya seni lukis konvensional tetap eksis dengan jiwa, serta rasanya.
Apakah hamparan teknologi membuatnya lebih menikmati, dan mengabaikan hal yang bersifat konvensional? Tidak, justru hal itu memberi sensasi tersendiri, dalam merancang, menempatkan garis, serta menemukan bentuk dari bidang anatomi yang dimaksud. Seorang Fandi memiliki keduanya, sebagai orang yang bergelut dalam bidang seni, dia memiliki keluasan imajiner dan bisoner dalam menentukan pilihan hidup mendalami, dan merasakan sesuatu yang jauh lebih bisa membuat Fandi bertarung, dan mengarung. Tidak harus larung untuk merenung saja. Hem.
Ada hamparan di antara kesenjangan yang dihadapinya, tanpa harus mengalah di ujung jalan. Prosesnya memilih jalur bukan lagi konvensional, tapi beralih ke teknologi. Di sana seorang Fandi bergulat menekuni desain grafis misalnya, dia harus memenuhi beberapa syarat, seperti, seorang desainer grafis adalah orang yang membuat desain visual untuk menyampaikan pesan.
Tugas desainer grafis, antara lain: membuat ilustrasi, tipografi dan fotografi, membuat motion grafis. Merancang elemen grafis menjadi karya visual, menciptakan grafik visual untuk media cetak dan elektronik. Bertanggung jawab atas tampilan produk pada media promosi. Di sanalah imajinasi itu teruji.
Desainer grafis biasanya bekerja dengan art director dan mengikuti arahan desain klien. Sedang beberapa keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi desainer grafis, antara lain: kreativitas, manajemen waktu, komunikasi, problem-solving, penguasaan software. Skil memahami brief. Serta skil menggambar atau ilustrasi. Kesemuanya terhubung dalam jiwa seni dan kekuatan bertahan untuk merasakan titik jenuh yang kadang menghambat proses karya itu sendiri. Fandi yang tersemat nama indah A. Syarif Hidayatullah ini, berusaha untuk betah sebagai pilihan profesinya hingga saat ini.
Segudang pengalaman dia telah dijalani sebagai desainer grafis: Britania School of English Makassar 2013-2015, Desainer PapercraŌ Haniiskin Skincare Indonesia 2020-2023, Paper Replika Indonesia 2022-2023, Dosen Prakosi Mengajar #4 Universitas Negeri Makassar 2024.
A. Syarif Hidayatullah juga bergabung di Institut Seni Budaya Indonesia Sulawesi Selatan 2022-2024, menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
Dan Prodi Desain Interior. Dalam tempaan pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar 2009-2015, sampai pada Pendidikan Seni Rupa Pascasarjana Universitas Negeri Makassar 2017-2019. Semua berkutat dalam dunia imajinasi. Konsep diri yang begitu matang bergerilya di jalur pendidikan yang konsisten.
Karyanya begitu apik, memenuhi penalaran, analatik, menguatkan setiap tarikan garis grafisnya, hingga tidak heran beberapa agenda ekstra dan mengeksplor kemampuannya dalam bidang pembuatan Jasa Desain Grafis, 3D Modeling, 3D Rendering, dan 3D Animasi.
Dengan profilnya beriring kemampuan, begitu puriti (ulet), serta mengasah setiap saat tanpa harus merasa pintar dari yang lain. Keteduhan hati, jiwa, dan pola pikirnya mampu mengimbangi setiap reaksi yang berpotensi menuntunnya menuju satu capaian prestasi. Bukan sekadar sensasi.
Fandi seketika saya temui beberapa kali setiap dia mengunjungi tanah kelahirannya Bantaeng, sebagai Desainer Grafis PT. B O S INDONESIA 2020-2021Desainer 3D Visual. Lewat Fandi Production 2019-2023 dia mengeksplore diri, diantaranya:
– Pameran Lukisan Angkatan 09 Universitas Negeri Makassar 2009
– Pameran Lukisan DE artStudio Universitas Negeri Makassar 2010
– Pameran Lukisan DE artStudio Universitas Negeri Makassar 2011
– Pameran Tunggal Lukisan “an Achievement”
Museum Kota Makassar 2013
– Pameran PapercraŌ Pakaian Adat, Rumah Adat dan Monumen
10 Provinsi di Indonesia 2022
– Pameran 3D PapercraŌ di Plazgozz Cafe Makassar 2022
– Workshop 3D PapercraŌ Prodi DKV UNM Makassar
– Workshop Desain 3D PapercraŌ dan Pameran
“Merakit Budaya dengan PapercraŌ”. Bantaeng 2024.
Dengan semua pengalaman itu, apakah membuat Fandi berhenti belajar? Dengan khidmat dia menekuni profesinya tanpa harus merasa paling ini dan itu. Dengan ciri khas kacamata dan topinya, pertemuan awal saya di sebuah ruang, sesekali bincang walau masih saling mengakrabi kala itu. Tetapi ada hal yang sama kita punya: art, smart, dan kemampuan adaptasi tanpa basa-basi, Sebagaimana biasa saya temui saat kesulitan saya menginterpretasi sikap dan sifat setiap perjumpaan awal dengan sesiapa saja. Dan ini cukup berbeda. Atau apakah resonansi dan frekuensi yang sama? Meski saya hanya hobi pada seni rupa yang otodidak, sementara Fandi pada jalur akademik. Tetapi ternyata kita punya visi dan mimpi yang sama.
Atau saya berlebihan? Itu tergantung interpretasi bagi yang menangkap semi biografi ini, yang saya kemas dalam narasi bernama esai, sembari menunggu jadwal tayang/rilis di sebuah wadah bernama Paraminda.com. Sebuah ruang penuangan risalah, ide konsep, opini serta beberapa curhatan yang dikemas dalam bahasa mengalir, menyusun paragraf, dan beberapa referensi lain sebagai penguat, pengikat yang mengonfirmasi.
Berusaha untuk menentukan pilihan diksi, agar lebih sesuai dan serasi. Seperti selera seorang Fandi yang juga pembaca sastra. Lalu dia tuangkan di kanvas, mengukir, mengarsir, tidak harus menganulir, tetapi mengalir, menjadi satu cerita, penghantar pengetahuan, bahwa itu juga adalah pengejawantahan ide, interupsi, sebuah konsep berpikir, tanpa harus mengurai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi paragraf.
Fandi menabur jejaknya dengan karya, berharap bisa menjadi inspirasi bagi generasi. “Jangan hanya kemungkinan, menjadikanmu jauh dari target citamu, tetapi benahi diri mulai sekarang.” Seketika terlontar kalimat ini, menjadi motivasi dari segala ilustrasi hidup yang kini semakin berkalang kabut.
Fandi menambahkan, bahwa bagi kebanyakan orang, menjadi seorang desainer grafis adalah pekerjaan impian yang menyenangkan, waktunya yang fleksibel, dan penuh dengan kreativitas pun menjadi salah dua alasannya. Namun, taukah kamu, di balik semua itu, ada hal-hal yang selalu menjadi keresahan bagi seorang desainer grafis adalah istilah “brainstorming sampe pusing”!
Dalam membuat sebuah karya, kita dituntut senantiasa kreatif, tak terkecuali bagi seorang Fandi. Mencari referensi visual sana sini, research tingkat ke-interest-an pasar, ngelakuin eksperiman A, B, C, dan seterusnya. Sudah menjadi keseharian seorang desainer grafis. Namun, agak jarang dari semua usaha yang sudah dilakukan itu tidak membuahkan hasil sama sekali, alias nol.
Perjalanan masih butuh peta harapan, berbuatlah untuk sebuah karya walau secuil. Agar tidak dianggap hanya tengil dan dekil. Berapa banyak kesempatan, waktu untuk belajar, tidak perlu mengejar dan berharap. Nawaitu, cintai pekerjaan/profesi. Maka semua jalan mulus. Bukan akal bulus.
Berikutnya “creativity block“. Masih nyambung dari poin pertama. Ini juga menjadi sebuah keresahan yang dirasakan oleh para desainer grafis. Maka tidak semudah hal yang lain, dengan ekspestasi berlebihan. Butuh mental, agar tidak terkikis pada hal-hal yang membuatmu jeda dan jenuh, lalu akan membuatmu stagnan, ide, dan imajinasi terbengkalai di tengah pertarungan yang harus kita hadapi.
Adalah revisi, revisi dan revisi. inilah makanan sehari-hari buat para desainer grafis. Rasanya tidak sreg kalau saat mendesain, tidak ada revisi. Satu, dua, atau tiga kali revisi it’s okay, masih bisa ditolelir. Nah, ini kalau mintanya berkali-kali, apalagi harus ubah desain secara keseluruhan, bisa pecah konsentrasi bercampur aduk. Maka hasilnya akan terlihat tidak sesuai.
Percakapan saya dengannya berlanjut hingga saya harus tertagih dengan esai ini. Saat memberiku sesuatu, agar biar seru saya harus kembali men-sketsa sambil melatih kelenturan lagi saat menempatkan anatomi wajah walau kadang belepotan dalam mengarsir. Sebuah hamparan ide kami bincangkan, seraya merancang agenda yang selama ini dia pernah geluti. Wow. Saya terntantang rasanya. Nyali seakan ciut. Maklum saya masih paranoid dan terjebak suasana traumatik yang kian menggelitik. Hem. Fandi mengantar sebuah halaman, lembar demi lembar lalu saya berusaha untuk kembali, sepertinya saya kembali dalam istilah “move on“.
Kopi aren, dengan ide keren, melekat di ingatanku sampai sekarang. Sisa semesta merestui, atau segala proses dan ketentuan telah disyaratkan lalu menjadi bukan lagi kemungkinan. Tetapi berharap lebih matang kali ini, tidak segegabah dan mudah mengalah, rebahan lalu menyerah. Seorang Fandi menopang itu. Sebagai yang punya segudang pengalaman di luar sana. Mampu menyertakan sebagai akademisi yang sungguh menjunjung tinggi profesionalitas dan integritas. Maka di sanalah sebuah kualitas manusia itu sendiri.
Menjelang sore di sebuah cafe bersama Fandi. Bincang sejarah dan budaya hingga percakapan sains dan desain, peran kita menorehkan hal yang unik, tidak harus berlebihan, meluarbiasakan sesuatu yang sederhana, tidak perlu mengejar lebih identitas. Namun, kualitas manusia sebagai bagian dari seluruh rangkaian proses pengetahuan itu berlangsung.
Sumber gambar: Anzca.net

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply