“Jangan maki sekolah di pesantren, karena pasti kamu hanya akan jadi imam masjid atau jadi imam kampung. Dicari saat ada yang meninggal atau ada yang mau syukuran selamatan untuk baca-baca songkolo.”
Setidaknya, kutipan kalimat tersebut di atas, masih sering muncul di kalangan masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan pondok pesantren.
Pesantren sebentuk lembaga pendidikan Islam. Santri dan pembinanya tinggal bersama di pondok. Bagi sebagian masyarakat yang ingin anaknya mengenal ilmu agama, mereka lebih memilih menyekolahkan anaknya di pondok pesantren dibanding sekolah umum. Sebab, alumni pondok pesantren saat ini, bukan hanya jadi ustaz, tapi sudah banyak yang jadi dokter, polisi, hakim, kepala desa, dan politisi.Bahkan presiden Ke-4 RI, Abdurahman Wahid adalah alumni pondok pesantren.
Santri di pondok pesantren akan diajari karakter berani, mandiri, dan bertanggung jawab, didampingi oleh ustaz atau kiyai yang keilmuan agamanya tak diragukan lagi.
Dalam keseharian, santri dibiasakan untuk berani tidur tanpa didampingi keluarga. mandiri terhadap kebutuhan sehari-hari, mulai dari belanja, makan, bahkan cuci pakaian sendiri. Bertanggung jawab terhadap seluruh aktivitas yang dilakukan di pondok pesantren.
Ketika sesi wawancara pada pendaftaran santri baru, panitia penerimaan acap kali menerima alasan orang tua memilih pesantren, sebab menginginkan anaknya jadi hafidz atau hafidzah 30 juz. Meskipun dia tidak tahu kalau anaknya belum lancar baca Al-Qur’an. Ada yang ingin anaknya jadi ustaz yang bisa tampil di mimbar pada bulan Ramadan atau khatib Jumat di kampungnya, karena minimnya ustadz yang siap jadi khatib. Bahkan, salat Jumat berganti salat Duhur, sebab tidak ada yang bisa jadi khatib.
Ada pula yang punya keinginan sederhana, anaknya hanya bisa pintar mengaji, lebih sederhana lagi ada yang hanya ingin anaknya tinggal di pondok pesantren, karena orang tuanya akan pergi jauh mencari nafkah, sebutlah Malaysia, sehingga tidak ada yang menemani anaknya untuk tinggal di rumah.
Paling mengerikan ketika orangtua beralasan ingin memasukan anaknya di pesantren, karena putranya nakal dan sudah tidak bisa dikendalikan di rumahnya. Anggapannya, bahwa Pesantren adalah “bengkel manusia” atau sering diistilahkan “penjara suci”. Berharap setelah tamat, anaknya jadi baik. Sementara anaknya yang berprestasi atau cerdas dimasukkan ke sekolah umum. Makanya, jangan berharap santri pesantren semuanya akan baik, karena dari mereka ada anak yang bermasalah di rumahnya.
Mereka hanya terpaksa masuk pondok pesantren, karena keinginan orangtuanya, bukan keinginan dirinya. Jangan heran kalau banyak santri yang sering melakukan pelanggaran, karena sebenarnya jasadnya di pondok pesantren, tapi jiwanya berada di rumah.
Semua keinginan orangtua tersebut, saat proses wawancara penerimaan santri baru, bahkan rela dan siap menandatangani kontrak aturan MoU pihak pesantren dan orangtua, demi anaknya bisa diterima menjadi santri di pondok pesantren, tanpa membaca dan memahami dengan seksama isi perjanjian. Tuntutan orangtua yang berbeda-beda, menjadi kebanggaan dan cerita menarik kepada yang lai, saat mereka masih antrian menunggu giliran, untuk wawancara di lingkungan pesantren.
Tidak semua santri bisa bertahan di lingkungan pesantren yang menerapkan aturan kedisiplinan. Seiring berjalannya waktu, ketika santri sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan pesantren, mereka kadang mencoba melakukan pelanggaran aturan tata tertib, meskipun mereka tahu jika melakukan pelanggaran, pasti ada konsekuensi yang harus diterima.
Ironisnya, ada orangtua yang tidak mau menerima jika anaknya diberikan pembinaan. Apalagi kalau anaknya dikategorikan santri nakal, padahal mereka sudah tahu karakter anaknya sebelum sekolah di pondok pesantren. Dia lupa kata-katanya saat baru masuk pondok, “Kalau di rumah anakku, tapi kalau di pondok anakta, kalau melanggar ki kita binaki.” Kenyataannya, tidak begitu saat anaknya dibina. Sangat Berbeda memang dengan prinsip orangtua tahun 2000-an ke bawah, jika anaknya melanggar mereka mendukung pembina atau gurunya untuk diberikan pembinaan.
Akhir-akhir ini ada orangtua sampai tega melaporkan pembina atau gurunya ke pihak kepolisian, karena merasa anaknya diberikan hukuman di pondok tanpa cross check, anaknya dihukum atau hanya pembinaan. Dia sudah melupakan MoU yang masih tersusun rapi di rak arsip pembina yang ditandatangani sebelum sah menjadi santri. Hal ini akan melemahkan sistem pembinaan pesantren, karena secara psikologis pembina atau guru akan terpengaruh.
Perubahan karakter santri yang sudah ditempa pembinaan kepesantrenan, biasanya berubah setelah liburan panjang, karena mereka kembali bergaul dengan teman SD atau SMP yang tidak mondok sebelum kembali masuk ke pondok pesantren. Kebebasan mengunakan alat komunikasi HP, tanpa kontrol dari orangtuanya ketika di rumah, juga menjadi penyebab perubahan karakter bagi santri, karena di pondok mereka tidak di izinkan membawa dan memakai HP .
Bahkan, ada orangtua yang memfasilitasi dan memberikan kebebasan mengendarai kendaraan roda dua di saat liburan, sehingga memicu anaknya tidak ingin kembali lagi ke pondok untuk sekolah.
Sebagian anak yang tinggal bersama neneknya, karena orangtuanya merantau ke negeri seberang, juga sering kali menjadi masalah dan melakukan pelanggaran aturan pondok. Terlebih lagi, jika dia adalah cucu satu-satunya dalam keluarga, maka dia otomatis menjadi princess atau queen bagi neneknya. Pihak orangtua kadang hanya ingin mendengar berita baik tentang anaknya. Padahal, dia sendiri sadar, jika anaknya dimasukkan di pondok pesantren, karena sudah tak bisa lagi dibina di rumahnya.
Lalu, apa yang sesungguhnya menarik di pesantren? Kedisiplinan anak santri menjadi ciri khas. Mereka hampir tidak ada waktu untuk tidak menuntut ilmu. Mulai bangun tidur pukul 04.00 untuk persiapan salat Subuh, kemudian dilanjutkan pengajian kitab kuning sampai pukul 06.00. Setelah itu, lanjut pendidikan formal, pukul 17.30, mereka harus kembali lagi bersiap untuk salat Magrib dan lanjut pengajian kitab kuning, sampai masuk waktu Isya. Sesudah makan malam, mereka harus ikut bimbingan malam. Pukul 22.00, mereka harus tidur. Rutinitas ini akan berulang tiap hari.
Di pondok, santri makan sepiring berdua bukan ucapan mulut semata, tapi memang betul terjadi. Sehingga ikatan batin anak akan terus terjaga, walaupun mereka sudah jadi alumni. Jiwa sosial mereka akan terdidik, tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Menjadi cikal bakal yang baik, ketika mereka sudah kembali ke masyarakat.
Salah pakai sandal sudah menjadi hal yang lumrah, sekaligus menjadi keluhan utama orangtua. Bayangkan jika ratusan anak yang bersamaan keluar dari masjid dari pintu yang sama berebutan untuk kembali ke kamar pondoknya dalam waktu yang bersamaan, tapi semua akan menjadi cerita seru, saat sudah dinyatakan alumni.
Bagi orangtua yang mampu memaklumi kondisi pembinaan pesantren, kerap berterima kasih kepada pembina atau gurunya, karena sudah melihat hasil binaan. Terlebih kalau anaknya sudah jadi orang yang bermanfaat di tengah masyarakat, terucaplah kata barakkana pesantrenga.
Semoga saja tidak benar cerita orang yang mengatakan, “Ketika anaknya hebat seolah menepuk dada, siapa dulu dong bapaknya? Tapi saat anaknya gagal yang muncul, siapa gurunya? Maju terus pondok pesantren, jayalah santri, dan bahagialah orangtua.

Seorang guru SMPS DDI Mattoanging Bantaeng. Punya hobi traveling.


Leave a Reply